Jejak Terkini

Alamak! Sampah Sekolah Rata-rata 30 Kilogram Setiap Minggu

SAMPAH: Beginilah rupa sampah plastik yang berhasil dikumpulkan UPTD Dikbud Masbagik dari sekolah-sekolah di kecamatan tersebut.

SELONG
-- Manusia memang produsen sampah. Betapa tidak, di semua tempat yang dijadikan lokasi aktivitas selalu saja ada sampah.

Jangankan di rumah tangga, pasar, hotel dan tempat-tempat lainnya tidak luput dari produksi sampah yang diciptakan manusia. Tragisnya, di lembaga pendidikan seperti di sekolah tidak mau ketinggalan memproduksi sampah.

Khusus di sekolah, sampah tidak saja dihasilkan dari kantin, tapi juga dari kolong meja siswa. Akibatnya, tidak jarang sampah berserakan di halaman maupun ruang kelas.

'Dari kebiasaan kolong meja siswa'. Begitulah Turmuzi Izkar Kepala Unit UPTD Dikbud Kecamatan Masbagik menyebut pengalamannya terhadap sampah siswa. 

Dari kebiasaan kolong meja itu, sebuah inovasi pengentasan sampah di sekolah diinisiasi.

Kepada JEJAK LOMBOK, Turmuzi Izkar menuturkan, semasa mengajar di sebuah SMP Negeri di Kecamatan Masbagik, tak jarang ia menemukan sampah berserakan. Tidak hanya di halaman sekolah, sampah juga kerap kali memenuhi kolong meja. Padahal, kolong itu tempat menyimpan perlengkapan belajar.

"Dahulu ketika masih mengajar, saya sering menemukan sampah berserakan di halaman dan juga di kolom meja belajar siswa," tuturnya, Senin (1/11).

Dari pengalaman itu, kata dia, inisiasi membangun kesadaran kepada siswa tentang sampah mulai tumbuh. Buah pikirannya itu selanjutnya dituangkan dalam sebuah program di UPTD Kecamatan Masbagik. 

Program tersebut selanjutnya diserahkan pengelolaannya ke PGRI. Beberapa bulan berjalan, kuota sampah yang dikumpulkan bersama dengan PGRI dari sekolah setiap minggu mencapai 30 kilogram dari satu sekolah.

Menurutnya kondisi sekolah dengan jumlah sampah yang begitu banyak sangat tidak sehat. Tak heran jika ia memiliki ide memberantas sampah tersebut dari sekolah se-Kecamatan Masbagik.

Dibalik misi besarnya itu, Turmuzi Izkar mengaku mengalami kendala yang cukup serius. Ia menyebut, tak jarang sekolah yang menolak program tersebut. Karena itu, saat ini ia masih bekerjasama dengan beberapa sekolah di Kecamatan Masbagik.

Tanpa ragu, Turmuzi Izkar mengaku hasil penjualan sampah tersebut selanjutnya diberikan kepada yayasan dan santunan anak yatim. Gerakan tersebut bertujuan mengedukasi para siswa.

"Hasil penjualan sampah itu kita berikan kepada yayasan dan anak yatim," ucapnya.

Keberhasilannya mengumpulkan sampah dari sekolah tersebut menumbuhkan semangat. Semangat tersebut mendorong dirinya menjalin kerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Lotim. 

"Hal itu bertujuan untuk mengedukasi kesadaran lingkungan kepada siswa melalui OPD terkait," ucapnya. 

Turmuzi Izkar mengaku bentuk edukasi tersebut diwujudkan dengan melibatkan siswa disetiap kegiatannya. Sementara, dalam nilai seni Kanit UPTD Masbagik tersebut membuat ekobrick. 

Efektivitas ekobrick, terangnya, mampu menampung sampah hingga berkilo-kilo. Jika hal itu dilakukan, akan mampu menyerap sampah dalam jumlah yang sangat banyak. 

Ia berharap UPTD lain di lingkup Kabupaten Lombok Timur dapat menerapkan program yang dijalankan. Ini penting guna membangun kesadaran para siswa dalam mengentas sampah.

"Kita berharap UPTD lain di lingkup Kabupatrn Lotim dapat melakukan program seperti ini untuk menciptakan sekolah yang sehat," pungkasnya. (hs)

Posting Komentar

0 Komentar