Jejak Terkini

Makam Kenaot Dilirik Jadi Destinasi Wisata, Kisah Apa yang Tersimpan?

Makam Knaot

SELONG
-- Pemerintah Desa (Pemdes) Suwangi Timur, Kecamatan Sakra, Lombok Timur kepincut oleh situs Makam Kenaot. Pasalnya, lokasi tersebut sering dikunjungi oleh warga dari berbagai daerah. 

Lantaran itu, Pemdes setempat berniat menjadikan lokasi itu sebagai salah satu destinasi wisata religi.

Kepala Seksi Pemerintahan Desa Suwangi Timur, Muhammad Suhardi mengakui jika niatan itu telah ada sejak lama. Namun pihaknya tak mau gegabah mengambil langkah itu agar tidak menjadi program yang sia-sia.

“Dari dulu kita sudah melirik situs ini, tapi semua harus direncanakan dengan matang dan terkoneksi agar mendatangkan manfaat bagi masyarakat,” kata Muhammad Suhardi, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (12/10).

Kehati-hatian pihaknya terutama yang pertimbangan yang berkaitan dengan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat. 

Lantaran itu, perlu ada koneksi antar semua bidang di wilayah itu. Ini karena wisata tak hanya berbicara soal keindahan, tapi juga yang lain, termasuk didalamnya soal kenyamanan.

Menurutnya, wilayah itu sangat memiliki potensi menjadi daerah wisata tujuan. Sebab tak hanya makam tapi juga jalur lintasan, bukit-bukitnya, sampai dengan kuliner setempat bisa dijadikan sebagai daya Tarik wisatawan. 

Terlebih lagi saat musim hujan tiba, keindahan lokasi itu disebutnya semakin menawan.

Terkait situs tersebut, ucap Suhar, kendala yang sangat dirasakan yakni berupa sejarah tempat tersebut. Prihal itu disebutnya penting, mengingat akan menjadi modal awal bagi masyarakat atau pengunjung untuk bercerita.

“Sejarah tempat ini baru-baru kita dapatkan, melalui penjaga situs itu,” bebernya.

Ternyata, terangnya, lokasi itu juga telah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya sudah sejak lama. Dan hebatnya lagi lokasi itu langsung dibawah Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), Bali.

Ia menceritakan, menurut juru pelihara lokasi itu merupakan tempat peristirahatan terakhir para raja-raja pada masa lampau. Tepatnya pada abad ke 16 yang lalu, pada saat Kerajaan Bali menguasai dataran tanah pulau Lombok.

Konon, pada saat itu Kerajaan Pejanggik dipimpin sang raja Pemban Mas Penganten. Raja ini merupakan raja terakhir yang kalah dalam pertempuran. Sang raja meninggalkan Pulau Lombok dan menetap di pulau seberang, Sumbawa.

Pada saat itu pula, bumi Lombok mengalami musim kemarau berkepanjangan selama 7 tahun lebih lamanya. Melihat hal itu sang raja mengutus anak sulungnya melihat keadaan pulau Lombok. Terang saja sesampainya di lokasi itu gerimis langsung turun.

Tak berselang lama, sang raja pulang, tapi dalam keadaan sudah wafat. Selama dalam perjalanan jenazah sang raja warga secara bergiliran membuat lubang kubur. 

“Semua menangisi kepulangannya, makanya ada sebuah tempat di sini yang dinamakan Turun Tangis,” ujarnya.

Lokasi itu juga dijadikan sebagai tempat pelaksanaan sebuah ritual Nede. Sebuah ritual yang dilaksanakan ketika hujan tak kunjung turun.

Jika semua dikemas dengan baik, dirinya yakin lokasi itu akan banyak pengunjung. Tentunya dengan begitu dampak ekonomi akan signifikan.

Namun demikian ia mengaku, banyak hal yang perlu disiapkan mulai dari infrastrukturnya menuju ke lokasi, aula, kamar mandi, tempat parkir hingga lapak pedagang.

Selain itu, ucap dia, telah menyiapkan beberapa event untuk menarik pengunjung ke lokasi itu. Keberadaan situs itu disebutnya sebagai mutiara bagi desa tersebut.

“Anggaran tahun 2022 sudah mulai kita benahi, dan disaat yang bersamaan akan kita gelar eventnya,” ujarnya.

Terpisah, tokoh pemuda setempat, Dedi Agus Satria mendukung langkah Pemdes tersebut. Menurutnya, wilayah itu memiliki potensi yang sangat besar menjadi desa wisata religi. 

Ditambah lagi, kata dia, bebukitan di wilayah itu dapat dimanfaatkan juga sebagai spot pendukung.

“Juga makan khasnya, permainan tradisionalnya, lintasan jalur sepedanya, dan berbagai keindahan lain yang bisa kita tawarkan. Kalua itu baik untuk kesejahteraan masyarakat kita dukung,” ucap Dedi. (kin)

Posting Komentar

0 Komentar