Jejak Terkini

Sosok Habiburahman, Pemuda Pelopor yang Sukses Berkat Trigona (1)

SUKSES: Habiburrahman bersama Camat Batulayar, Afgan Kusumanegara saat menunjukkan hasil budidaya madu trigona.

GERUNG
-- Usianya masih sangat muda. Ia kini tengah menjadi mahasiswa semester akhir di salah satu perguruan tinggi negeri di Mataram.

Kerja kerasnya telah mengantar remaja ini sebagai juara I Pemuda Pelopor NTB. Ia mencatatkan namanya sebagai wakil NTB di kancah nasional di ajang yang sama.

Habiburahman nama pemuda itu. Ia berasal dari Dusun Pelolat Desa Bengkaung Kecamatan Batulayar Lombok Barat. Dedikasinya dikenal berkat usahanya membudidayakan madu Trigona.

Ia mulai menggeluti usaha itu sejak tahun 2018 lalu. Saat itu madu trigona belum dilirik oleh warga sekitar. Bahkan lebah trigona ini dikesankan kurang bagus karena sering masuk ke lubang telinga. 

Awal mula merintis usahanya, Mujiburahman sempat diremehkan warga sekitar. Berbekal tekad yang kuat, cemooh itu tak dihiraukan.

Sedikit pun pemuda ini tidak putus asa. Ia tak sudi menyerah hanya karena komentar miring yang mampir di telinganya. 

Berbekal ilmu otodidak yang dia dapat dari Youtube, ia memulai usaha ini. Awalnya ia membuat kotak-kotak (stuf) sebagai tempat lebah akan dibudidayakan. 

Masyarakat yang melihat ini banyak yang guyon mengiranya akan bikin kotak amal. Ada juga yang mengiranya akan bikin salon sound system.

Maklum orang tua Habiburahman adalah tukang reparasi elektronik. Ia terus membuat puluhan stuf. 

Setelah itu, ia membeli lebah trigona yang ada di kebun maupun rumah warga. Warga pun menjualnya dengan harga murah. Jumlahnya saat itu cukup banyak dan bertebaran di sana sini. 

"Saya beli waktu itu dengan harga 15 ribu per koloni," ujar kisahnya, belum lama ini.

Lama-kelamaan, jumlah stuf dan koloni lebah trigona yang ia miliki terus bertambah. Pesanan-pesanan mulai berdatangan. 

Habiburahman tak ingin sendiri mendapat berkah dari trigona tersebut. Ia kemudian menyebarkan stuf-stuf miliknya ke rumah-rumah warga. 

Ada puluhan warga yang diberikan mengelola stuf ini. Masing-masing diberikan lima buah stuf. 

"Saya pilih yang bisa dipercaya. Karena ini kan harganya lumayan mahal," terangnya. 

Untuk pembagian hasil, misalnya didapat hasil panen sebesar Rp 150 ribu, maka Habiburahman mengambil Rp 100 ribu dan orang yang mengelola stuf ini mendapat bagian Rp 50 ribu. 

Pengelolaannya sendiri terbilang mudah alias tidak ada perawatan yang rumit. Yang penting di tempat itu banyak vegetasi, pohon-pohon berbunga sebagai tempat lebah cari makan. 

Habiburahman tidak sekedar melepas stuf di warga, tapi juga menyemaikan bibit tanaman berbunga di rumah warga tersebut. 

Saat ini jumlah stuf miliknya sudah mencapai 379 buah. Dari jumlah itu, yang dia taruh di sekitar halaman rumah sebanyak 150 stuf. Sementara 229 stuf lainnya tersebar di rumah masyarakat sekitar maupun masyarakat dusun tetangga. 

Hasil budidaya trigona ini ia panen tiap 3 bulan sekali. Jumlah uang yang bisa ia dapat dari trigona ini mencapai Rp 9 juta lebih. "Ini yang saya pakai biaya kuliah dan nanti akan saya pakai untuk lanjutkan S2," kata Habib. 

Lebih lanjut Habib ceritakan bahwa permintaan madu Trigona makin hari makin meningkat terlebih di musim pandemi saat. Ia bahkan seringkali merasa kewalahan menerima pesanan dari luar daerah.

"Banyak yang transfer uangnya terlebih dahulu sementara madu belum dipanen," ucapnya. 

Menyiasati hal ini, Habiburahman kemudian mengumpulkan trigona yang ada di warga. Ia kemudian jadi pengepul trigona di Pelolat. Selisih harga yang ia beli dengan penjualan tidak seberapa besar. Yang penting madu trigona milik warga bisa tersalurkan untuk dijual. 

Dari usahanya ini banyak warga sekitar yang saat ini membudidayakan lebah trigona. Hampir di semua rumah kita jumpai stuf-stuf trigona berbentuk kotak, baik yang disusun di rak, digantung di berugak, maupun yang nempel di tembok-tembok rumah. 

Usaha ini sekarang menjadi usaha rumahan yang sifatnya sambilan, murah meriah dan cocok untuk saat pandemi sekarang ini. (Bersambung)

Posting Komentar

0 Komentar