Jejak Terkini

Kisah Inspiratif Sulaiman, Gagal Masuk Malaysia, Bikin Joran Hias

Sulaiman

SELONG
-- Hobi memang selalu saja berbuah manis. Selain mendatangkan kesenangan, tak jarang ia mendatangkan pundi rupiah.

Apalagi di tengah suasana saat ini. Gempuran pandemi ini memaksa semua orang memutar otak karena ekonomi yang  semakin saja sulit.

Apalagi mereka yang berlatar belakang buruh migran yang menggantungkan nasib di daerah orang.

Nampaknya kondisi ini yang membuat  Sulaiman, warga Gubuk Baru, Desa Loyok, Kecamatan Sikur, Lombok Timur ini berbenah. Ia memanfaatkan hobi dan sedikit keahliannya untuk membuat joran pancing hias.

"Mau balik ke Malaysia tidak bisa, sedang tidak ada pengiriman tenaga kerja," ucap Sulaiman, saat ditemui di kediamannya, Minggu (8/8).

Dirinya menuturkan, inspirasi itu bukan tanpa sebab. Namun semuanya berawal dari hobinya memancing ikan.

Bagi pemancing, sudah pasti membutuhkan alat bagus yang hendak digunakan. Peralatan itu harganya terbilang tak sedikit.

Salah satu yang paling penting menurutnya ialah joran. Unsur pancing satu ini merupakan dasar kuat tidaknya alat tersebut. 

Namun demikian, para pemancing tak hanya membutuhkan joran yang kuat. Namun juga perlunya seni, yang bisa menyegarkan mata.

Menyadari hal itu, pria 37 tahun ini memberanikan diri membuat joran. Awalnya, ia hanya mengaku iseng, tapi setidaknya ia bisa menghasilkan beberapa karya.

Membuat joran disebutnya, tak membutuhkan bahan dan modal yang banyak. Bahannya cukup mempunyai benang dan lem yang kemudian dirajut menjadi sebuah joran pancing hias.

"Awal penjualan itu di tetangga karena tertarik dengan joran hias yang saya buat," ujarnya.

Joran pancing

Namun ia tak menyangka, para pemancing dari luar juga ada yang tertarik. Karyanya itu, diketahui dari cerita pembeli sebelumnya.

Dari saat itu, orang berdatangan ke rumahnya. Tak hanya pesan joran, tapi juga untuk memperbaiki alat tersebut.

Melihat peluang itu, dirinya mencoba untuk mempromosikan hasil karyanya di media sosial melalui facebook dan instagram. Ternyata apa yang dilakukan itu membuahkan hasil. Pelanggan dari luar Gumi Patuh Karya pun datang membeli alat yang dibuatnya itu.

"Setelah diposting itu pelanggan bertambah dari lua kabupaten, yakni dari Lombok Tengah hingga Lombok Barat," ujarnya.

Meski demikian dirinya tak membocorkan harga joran yang dibuatnya. Tapi yang pasti dari aktivitasnya itu, dirinya bisa mendapatkan pundi rupiah setiap harinya.

Saat ini dirinya bisa menyimpan dari Rp 200 sampai Rp 300 ribu setiap harinya. Uang sebanyak itu didapatkan dari hasil penjualan joran tersebut.

Ia mengakui, untuk membuat karya itu hanya memanfaatkan alat yang sangat sederhana. Tapi untuk hasil yang maksimal membutuhkan ketelitian, kehati-hatian, daya imajinasi, dan tentunya konsentrasi yang baik.

Saat ini dirinya hanya mampu 1 joran hias dalam satu harinya. Untuk membuat hal itu disebutnya setidaknya dibutuhkan empat langkah. Yakni dari proses merajut benang, pengeleman, penghalusan dan beberapa langkah tambahan lainnya.

"Alhamdulillah bisa menyambung hidup dari kegiatan ini, apalagi ditengah kondisi sulit saat ini," tandasnya. (kin)

Posting Komentar

0 Komentar