Jejak Terkini

Mata Air Tojang, Ini Beberapa Mitos yang Berkembang

Mata air Tojang di Desa Lendang Nangka.

SELONG
-- Kehadiran mitos seolah tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Mitos itu berkembang dan beredar yang tak jarang diyakini kebenarannya.

Di Desa Lendang Nangka, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur misalnya. Di desa ini ada sebuah mata air bernama Tojang.

Masyarakat setempat meyakini mata air yang satu ini punya mitos tersendiri. Tak hera. Jika mata air dikeramatkan dan disakralkan masyarakat setempat.

"Mata air ini hingga sekarang masih disakralkan, terutama bagi masyarakat adat," ucap salah seorang tokoh adat Desa Lendang Nangka, Lalu Malik Hidayat, kepada JEJAK LOMBOK, Kamis (22/7).

Di mata air inilah biasanya masyarakat setempat ber-tawassul. Di mata air ini juga dipercaya sebagai tempat bisa bertemu dengan leluhur.

Tak hanya ritual mistis, lokasi ini juga masih menjadi tempat penyucian beras bagi masyarkat yang begawe (pesta adat). Di tempat itu pula oleh masyarakat desa setempat melakukan ritual maulid adat dan juga lokasi penyucian pusaka.

Ia menuturkan, pelaksanaan ritual itu semua berangkat dari cerita yang masih berkembang sampai saat ini. 

Baca Juga :

Menyusuri Palung Sejarah Masjid Kuno Bayan

5 Jenis Sambal Ini Sangat Legend di Lombok

Filosofi Dibalik Motif dan Warna Kain Tenun Bayan

Konon, awal keberadaan mata air itu tidak lepas dari sosok bernama Batara Indra. Sosok ini dalam Babad Lombok disebut-sebut sebagai manusia pertama yang ada di Pulau Lombok.

Di tempat itulah Batara Indra diyakini menancapkan tongkatnya. Itu dilakukan dalam perjalanannya turun dari gunung.

Di sela peristirahatannya, ia menancapkan tongkat dan munculah mata air itu.

"Ada yang mengatakan Tojang itu berasal dari kata tunjang. Dalam bahasa Indonesia, kata tunjang berarti tongkat.

Cerita lain yang berkembang, bebernya, konon tempat itu merupakan lokasi mandinya para putra putri kerajaan. 

Ada juga yang mengatakan, lokasi itu sebagai tanda bahwa tempat itu titik awal penyebaran penduduk Pulau Lombok melalui jalur sungai.

Terhadap pendapat ini, Lalu Malik mengemukakan alasan. Jika ditelusuri akan tembus ke pantai, yang disebut sebagai Menanga Rambang.

Kisah pantai dan aliran sungai inipun sampai saat ini, masih dipercaya sebagai salah satu jalur pelarian keluarga kerajaan Selaparang ketika berhasil ditaklukan.

"Cerita ini masih berkembang," sebutnya.

Lantaran itu di lokasi itu masih dijadikan sebagai tempat yang dikeramatkan dan dikunjungi oleh masyarakat setempat. Kunjungan ke tempat ini rupanya juga tak jarang didatangi oleh masyarakat dari luar desa itu.

Saat ini, ujarnya, mata air itu dimanfaatkan oleh Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Lombok Timur. Masyarakat setempat juga menggunakannya sebagai sumber mata air bersih untuk keperluan sehari-hari.

"Lokasi ini juga dijadikan sebagai salah satu lokasi wisata," ujarnya. (kin)

Posting Komentar

0 Komentar