Jejak Terkini

Filosofi Dibalik Motif dan Warna Kain Tenun Bayan

Filosofi Dibalik Motif dan Warna Kain Tenun Bayan
MEMINTAL: Salah seorang perajin tenun asal Bayan terlihat sedang MEMINTAL benang.

TANJUNG
-- Pagi itu, selepas napak tilas di Masjid Kuno Bayan, Kecamatan Bayan, Lombok Utara. Tepat di depan gerbang seorang perempuan di lokasi itu tengah sibuk menenun.

Di gerai yang sederhana itu, nampak berbagai motif hasil tenun yang telah dibuatnya. Disela kesibukannya, sesekali pelanggan berdatangan melihat hasil karyanya.

Seusai melayani pelanggan, dirinya kembali memutar benang yang terlilit pada alat pintal yang nampak sudah tua.

"Menenun ini sudah saya kerjakan dari sejak umur 11 tahun," ucap Mahni, kepada JEJAK LOMBOK, Minggu (1/8).

Kegiatan itu, ucapnya, merupakan warisan turun temurun dari nenek moyangnya. Di Bayan, kata dia, banyak penenun yang bisa ditemui. 

Motif di wilayah itu setidaknya ada beberapa varian yang dapat ditemukan. Seperti londong abang, lipak (kemben), poleng, jong, bebet anteng, rejasa (untuk pinggang), kombong (kain kemaliq).

Ia mengatakan, motif kain tenun Bayan merupakan warna yang telah diwariskan turun temurun. Pada setiap warna memiliki makna tersendiri.

Tenun Bayan, didominasi beberapa warna. Misalnya warna merah yang diartikan sebagai darah dan putih adalah bentuk kesucian.

Selain dua warna itu, ada juga warna kuning pertanda kesuburan, biru sebagai bentuk perwujudan hujan dan hitam yang menunjukkan kebutuhan hidup sehari-hari.

Kain tenun di daerah itu, telah menembus pasar internasional, seperti Jepang, India dan negara tetangga.

"Tak lepas juga pasar-pasar di luar daerah seperti di Jawa dan sekitarnya," ucapnya.

Perempuan 46 tahun ini mengatakan, pasca gempa dua tahun lalu. Para pengrajin di wilayah itu telah dibantu oleh organisasi dunia. Yakni United Nations Education, Saintific and Cultur Organization (UNESCO).

Motif kain tenun itu menurutnya, merupakan khas wilayah tersebut. Pasalnya mereka tak mengadopsi atau meniru motif dari daerah lainnya.

Lantaran motif yang dibuatnya, merupakan kebutuhan bagi masyarakat adat setempat. Praktis coraknya asli merupakan warisan leluhur di tempat itu.

"Jadi kita tidak adopsi motif luar, karena kebutuhan masyarakat adat di sini," ujarnya.

Untuk bahan sendiri, kata dia, didapatinya dari luar. Pengerajin di wilayah itu mendapatkan benang dengan membeli di pasar seperti di Beratais, Cakranegara Kota Mataram.

Untuk harganya sendiri mulai dari Rp 30 sampai dengan Rp 200 ribu. Harga ini tergantung dari jenis dan ukurannya.

Ia mengatakan, semenjak covid menyeruak pesanan sedikit menurun. Hal ini dialami terutama pesanan mancanegara.

Saat ini, hasil karyanya itu hanya dibeli oleh pasar-pasar lokal saja dan masyarakat adat setempat.

"Alhamdulillah masih ada pembeli, walau hanya kita kirim ke luar daerah," ujarnya. (kin)

Posting Komentar

0 Komentar