728x90

ad

Tahun Ini Lotim Bakal Punya KIHT

MUSIM TANAM: Komoditas tembakau biasanya mulai ditanam saat musim kemarau.

SELONG
-- Besarnya produksi tembakau di Lombok Timur rupanya alasan tersendiri bakal dibangunnya Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) di daerah ini. Terlebih Lombok Timur hingga saat ini tercatat sebagai produsen terbesar di NTB.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Lombok Timur, Marepudin mengatakan, komoditas satu ini masih menjadi andalan yang diminati Buktinya, hampir 21 kecamatan di daerah ini oleh masyarakatnya menanam tembakau.

"Hanya di Kecamatan Aikmel dan Sembalun tidak ada," terang Marepudin, kepada JEJAK LOMBOK saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (9/6).

Dari data yang ia pegang, lanjutnya, terdapat luas tembakau rakyat (rajang) mencapai 7.628 hektare. Jumlah tersebut dua kali lipat dari tembakau virginia yang mencapai 13 ribu hektar lebih.

Ia merincikan dibeberapa wilayah penghasilan tembakau rakyat seperti di Kecamatan Pringgasela, dengan luas lahan 2.800 hektare lebih. Lalu di Pringgabaya 1.400 hektare.

Sementara di Lombok Timur bagian selatan terbesar terdapat di Sakra Timur 1.600 hektare dan Labuan Haji dengan luas lahan sampai 594 hektare. 

Zona tengah juga dapat ditemui tembakau rajangan. Sebut saja seperti di Kecamatan Selong lahannya mencapai 363 hektare, dan Suralaga mencapai 100 hektare lebih.

Selain itu, imbuhnya, tembakau rakyat juga dapat ditemukan di Kecamatan Sambalia dengan luas lahan mencapai 800 hektare.

"Tembakau ini tidak ditemukan di tiga kecamatan saja yakni Sikur, Aikmel dan Sembalun," sebutnya.

Kedepan, paparnya, Lotim sebagai penghasil tembakau patut bersyukur. Pasalnya di tahun 2021 ini telah ada anggaran di Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB.

Melalui dinas tersebut, bebernya, akan dibangun pusat Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) di Lotim. Pasalnya, pemerintah hendak melakukan industrialisasi terhadap komoditas satu ini.

Kawasan itu, kata dia, akan dibangun di bekas pasar Paok Motong. Ia mengklaim, Bupati telah menyetujui hal tersebut.

"Sudah disetujui oleh Bappeda NTB dan Bea Cukai. Anggarannya sudah ada di Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB," ucapnya.

Secara kebetulan, ujarnya, pihak dinas terkait juga sudah turun survei langsung ke lokasi pembangunan kawasan tersebut. 

Jika sudah ada kawasan itu, ucapnya, Lotim akan mendapatkan tambahan sumber PAD. Yakni dari produksi dan pengolahan komoditi tersebut.

Saat ini, kata dia, PAD hanya bersumber dari produksi tembakau saja. Sehingga, terangnya, Lotim juga mendapatkan DBHCT terbesar di NTB.

Kawasan ini nantinya, ujarnya, akan menjadi lokasi produksi tembakau terbesar dan terpusat. Dari KIHT ini setidaknya ada kemudahan untuk mengontrol petani yang terdaftar maupun tidak.

"Pendapatan daerah nanti dari cukai produksi tembakau itu. Jadi Pemkab dapat dua sumber PAD. Yaitu dari pengolahan dari pengelolaannya," tandasnya. (kin)

Posting Komentar

0 Komentar