Jejak Terkini

Pengerajin di Desa Loyok Mulai Bangkit Lagi

MENGGELIAT: Aktivitas para pengrajin anyaman bambu di Desa Loyok mulai menggeliat setelah lama lesu.

SELONG
-- Memasuki satu setengah tahun Covid 19 menggempur dunia, dampak paling terasa ialah terganggunya perekonomian masyarakat. 

Salah satu aktivitas yang terkena imbas yakni Unit Usaha Kecil dan Menengah (UMKM). Pasalnya, banyak pelaku usaha rumahan ini gigit jari dibuatnya.

Tapi belakangan produksi ini sudah mulai bangkit lagi secara perlahan. Hal itu dapat dilihat dari aktivitas para pengerajin anyaman bambu di Dusun Loyok Induk, Desa Loyok, Kecamatan Sikur, Lombok Timur.

Kepada JEJAK LOMBOK, Senin (13/6), salah seorang pengerajin, Mukti Ali menerangkan, aktivitas produksinya itu sempat oleng karena gempuran pandemi. Namun demikian, dirinya bersyukur selama memasuki pandemi ini, pihaknya terus memproduksi meski dalam jumlah yang tak seperti sebelumnya. 

Sebab, kata dia, peminat tetap saja berdatangan memesan hasil produksinya. Kendati demikian, ia mengakui dari segi jumlah pesanan mengalami penurunan.

Pemesan terbanyak, ucapnya, dari Beleka, Lombok Tengah. Pengerajin di tempat itu sekitar 75 persen memesan hasil produksinya tersebut.

"Sejak Covid hanya 50 persen, turun sekitar 20 persen," ucap Mukti Ali.

Dia menerangkan, produksi anyaman berbahan dasar bambu tersebut digeluti oleh orang tuanya sejak tahun 1985. 

Sejak tahun itu, ia mulai menggeluti berbagai macam jenis hasil karya tangan tersebut. Beberapa diantara kerajinan itu seperti rak bumbu, keranjang loundry, guci, kukusan, tas, kursi, meja dan berbagai varian produksi lainnya. 

Untuk produksi saat ini, kata dia, hanya dua jenis barang yakni kukusan dan tempat loundry saja.

Hasil produksinya tersebut tak hanya dapat dijumpai di pasar lokal maupun nasional. Produksinya juga di pasar internasional seperti Jepang, Korea, dan Rusia. 

Harga termurah produksi tersebut mulai Rp 25 ribu. Sementara harga paling mahal itu berupa rak, dalam satu setnya mencapai Rp 650.

Dengan peralatan yang masih tergolong tradisional, disebutnya menghasilkan 100 sampai 150 biji per hari.

Untuk bahan dasar sendiri, terangnya, sampai saat ini belum mengalami kesulitan. Ini karena bambu-bambu tersebut bisa didapati dengan mudah.

"Kita belinya yang sudah jadi, tidak dalam bentuk gelondongan," ujarnya.

Terpisah, Kepala Wilayah Dusun Loyok Induk, Iskandar Kusuma Atmaja menerangkan, selama ini tetap membantu keberadaan usaha rumahan tersebut, khususnya bagi pengerajin. Dirinya membantu dalam pemasaran hasil karya seni itu.

"Bantu pemasaran secara online dan juga pengajuan bantuan-bantuan lainnya melalu pembuatan proposal," tandasnya. (kin)

Posting Komentar

0 Komentar