Jejak Terkini

REKA CIPTA MAKNA IDUL FITRI

Dari Alternasi Makna Hingga Moderasi Islam Terhadap Akar Lebaran Topat Sebagai Lebaran Adat Sasak

Oleh Dr. Jamiluddin, M.Pd

SUDUT
pandang kadang gamang dan gampang menyulut orang berseberang gagasan, perasaan, atau pun pilihan. Sudut pandang terkadang pula menjadi pendulang khazanah hikmah. Sisi-sisi potensi “sudut pandang” ini, tanpa kecuali mengenai fenomena  reka cipta atau penemuan makna Idul Fitri.  Dalam artikel mungil ini, penulis ingin lebih “centil” menenggelamkan diri mereka cipta makna Idul Fitri dengan peranti yang mengakomodasi dua sisi potensi sudut pandang.

Selama ini, perdebatan makna Idul Fitri memang kurang dibentang dengan kencang.   Hal ini tak urung mengurung wawasan pengetahuan. Sesuatu yang baru sebagai implementasi wawasan pengetahuan akhirnya tak dapat dihadirkan. Ini tentu mengganggu kepastian Islam yang “up to date” atau yang lebih akrab dikenal dengan term “al-Islam likulli zamanin wa makanin.”

Makna Idul Fitri yang sangat populer dan dipatri kuat oleh mainstream pemikiran ulama adalah momentum kemenangan dan pengembalian fitrah mukmin setelah menunaikan puasa Ramadan. Makna ini sesungguhnya hadir karena frase Idul Fitri diterjemahkan berdasarkan kaedah: (1.). bahwa “Idul” disepadankan dengan ‘aada–ya’uudu yang berarti kembali, (2). Bahwa fitri disepadankan dengan kata fitrah sebagaimana termaktub dalam Ar-Rum Ayat 30 yang berarti suci.

Mainstream pemikiran yang menerjemahkan Idul Fitri sebagaimana di atas tentu memiliki dasar-dasar yang mengakar. Salah satu dasar yang sangat melekat di ruang ingat kita adalah QS. Al-Baqarah Ayat 183.  Intisari ayat ini adalah protokol puasa Ramadan dan fungsi strategisnya sebagai pembangun ketaqwaan, fungsi strategis puasa Ramadan ini setara dengan mengoptimalkan derajat kualitas manusia sebagaimana kualitas “Ruh” yang sejak awal sampai seterusnya berkomitmen menggigit dengan kuat persaksiannya sebagaimana yang tertuang dalam QS. Al A rof Ayat 172, yaitu: “Dan ingatlah ketika Tuhan-Mu mengeluarkan anak cucu Adam beseta keturunannya, dari sulbi, lalu mengambil kesaksian ruh mereka dengan perkatan “Benarkah Aku ini Tuhanmu?” Ruh kemudian  menjawab, “Betul Engkau Tuhan kami.”     

Penyetaraan fungsi strategis puasa Ramadan dengan standar kualitas ruh dibangun atas realitas yang jelas. Persaksian ruh yang utuh itu menunjukkan ketaatan atau ketaqwaan. Ketaatan sendiri tentu dipicu oleh sesuatu yang bersih atau suci. Sementara itu, salah satu sifat ruh sebagaimana pendapat Hasan Nasser dan Ikhwanus Shofa adalah substansi atau “zat suci.” Karena kesuciannya, ruh menjadi yang menggerakkan, mengaktifkan, mencerdaskan, menghidupkan, menguatkan, memantapkan spiritualitas, menjadi cahaya petunjuk untuk melangitkan atau mengangkat derajat manusia sebagaimana kriteria kemuliaan pada QS al-Hujarat Ayat 13 yang menetapkan “ketaqwaan” menjadi passing grade dalam pemosisian manusia pada maqam yang mulia di sisi Allah Swt.

Berdasarkan uraian tentang dasar-dasar mainstream pemikiran ulama tentang kembali suci sebagai makna “Idul Fitri” maka dapat dirumuskan beberapa premis, antara lain: 1) Bahwa para ulama menyepadankan “la’allakum tattaquun” sebagai fungsi puasa dengan keadaan fitrah atau suci sebagaimana sifat “ruh” sebagai zat suci. 2). Ketika para ulama membuat link atau keterkaitan antara "la’allakum tattaquun” sebagai fungsi puasa dengan   “ruh” sebagai zat suci, maka Id dengan asal kata ‘aada–ya’uudu menggambarkan keadaan status awal penciptaan manusia atau saat keadaan paling suci ketika ruh dibenamkan ke dalam jasad manusia oleh Allah Swt. 

Kedua permis di atas selanjutnya dapat diramu sebagai kesimpulan bahwa Kembali Suci adalah makna Idul Fitri sebagaimana pendapat Ibnu Jauzi yang menguatkan makna fitrah sebagai kondisi atau keadaan awal penciptaan manusia.  

Sudut pandang kelompok ulama yang jarang di ruang-ruang perbincangan adalah tentang kembali tak puasa atau kebiasaan leluasa tidak menjalankan syari’at puasa Ramadan ketika 1 Syawal dipastikan masuk sebagai makna frasa  Idul Fitri. Sebagaimana mainstream pemikiran ulama di atas, sudut pandang yang kurang dibincangkan ini memiliki argumentasi, bahkan dengan landasan referensi yang sahih.

Pendapat beberapa ulama di atas mengacu pada asal kata Fitri, yaitu afthara–yufthiru yang berarti berbuka atau tidak lagi berpuasa,  Sementara itu kata Id yang berarti kembali diartikan sebagai sesuatu yang terjadi berulang-ulang setiap tahun atau setiap selesai melaksanakan ibadah puasa Ramadan. Makna id yang dikedepankan para ulama ini senada dengan pendapat Ibnul “A’rabi dalam Lisanul Arabi 3/315, yaitu: dinamakan Id karena berulang setiap tahun dengan kegembiraan yang baru

Selain dasar-dasar di atas, kelompok ulama yang memastikan kembali tak puasa sebagai makna Idul Fitri, memperkuat pendapat mereka dengan hadits seperti: HR. Ahmad Nomor 9810 dan HR. Abu Daud Nomor 2353 yang menegaskan “Islam akan senantiasa menang dan unggul apabila mu’min segera berbuka (mengakhiri puasa bila masuk 1 syawal”). Selain itu para ulama ini menguatkan pendapatnya dengan HR  Ibnu Khuzaimah dalam sahihnya nomor 3/275  yang menyatakan “Ummatku akan senantiasa berada di jalan sunnahku selama mereka tidak menunggu waktu berbuka dengan terbitnya bintang.”

Pandangan yang tidak populer dalam perbincangan atau diskusi akademisi ini sesungguhnya mampu memicu hadirnya teori-teori atau kaidah baru yang berfaedah, khususnya dalam menakar dasar dan akar faham yang mewarnai aliran maupun dimensi tadisi dalam masyarakat. Muatan pandangan yang menerjemahkan Id sebagai kebiasaan yang berulang-ulang atau tradisi adalah sebuah sudut pandang yang menggambarkan moderasi Islam terhadap eksistensi tradisi. Untuk memastikan fungsi sudut pandang yang satu ini, penulis mencoba mengentas contoh dengan mendialogkannya dengan tradisi Lebaran Topat sebagai tradisi atau kultur Sasak.

Lebaran Topat adalah suatu frase yang terbentuk dari kata Lebaran dan Topat atau Ketupat Salah seorang sastrawan Sunda, Mas Ace Salmun Raksadikaria menyatakan bahwa kata Lebaran berasal dari Bahasa Jawa, yaitu “Wis  Bar”  di mana kata Bar sendiri singkatan dari kata lebar yang searti dengan selesai. Dengan demikian maka kata Lebaran atau “Wis  Bar”   bermakna setelah selesai melaksanakan sebuah kewajiban. Sebagai tradisi atau kultur, “Wis  Bar”   atau Lebaran pernah juga popular dalam ritual-ritual masyarakat Hindu. Demikian pula ketika Wali Songo menyebarluaskan Islam dengan pendekatan budaya selalu menggunakan kata Lebaran atau “Wis  Bar” untuk menyebut Idul Fitri atau Idul Adha. 

Jika makna Idul Fitri adalah kebiasaan mengakhiri puasa Ramadan dengan kegembiraan sebagaimana sudut pandang yang kita sebut tidak populer di atas bersanding dengan etimologi kata Lebaran, maka keduanya senada tak berbeda. Apalagi ketika kata “Topat” kita asumsikan sebagai ikon kenduri dan kegembiraan sebagai rasa syukur setelah selesai melaksanakan  ibadah puasa Ramadan, maka akan semakin meyakinkan bahwa “Moderasi Islam” terhadap tradisi atau budaya sangat signifikan, termasuk tradisi Lebaran Topat yang populer di lingkungan masyarakat Sasak. Semoga bermanfaat dan Wallohu’alamu.

* Pemerhati budaya Sasak, dosen IAIH NW Pancor, dan tenaga pendidik di SMAN 2 Selong.

Posting Komentar

0 Komentar