728x90

ad

TGB: Agresi Israel ke Palestina Kezaliman Besar

TGB H Muhammad Zainul Majdi

MATARAM
-- Upaya pencaplokan negara Palestina oleh Israel benar-benar membuat banyak pihak meradang. Konflik panjang di antara kedua negara menyita perhatian dunia internasional.

Sejak kontak senjata berlangsung beberapa hari terakhir, puluhan nyawa melayang dari kedua belah pihak. Namun tetap saja, korban terbanyak jatuh dari pihak Palestina.

Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia, TGB H Muhammad Zainul Majdi angkat bicara terkait konflik kedua negara tersebut. Menurutnya, semua pihak perlu memahami masalah Palestina dengan baik. Lantaran ada banyak yang terjebak dalam menganalisa problem tersbut.

"Karena ada di antara kita yang terbawa oleh pemikiran bahwa seakan-akan orang Yahudi dan Israel yang sekarang merampas wilayah Palestina benar-benar punya hak di Palestina," ucapnya saat mengisi Tafsir Alquran di Masjid Hubbul Wathon kemarin, Jum'at (15/5).

Jika dilihat, lanjut mantan Gubernur NTB dua priode ini, negara zionis itu sebenarnya,l sama sekali tak memiliki hubungan, meski dengan ajaran agama Yahudi sekali pun. Israel adalah salah satu negara berdasarkan ide politik yang diprakasai oleh Theodor Herzl. 

Sosok ini disebutnya memiliki cita-cita mengumpulkan kelompok Yahudi yang berserakan dan membentuk satu negara sendiri.

Setalah itu terangnya, orang-orang Yahudi itu lalu mencari tempat untuk mendiikan negara tersebut pertama di Kongo, Afrika bagian tengah. 

Sayang, ide itu ditolak warga setempat menolak. Akibat penolakan itu, komunitas Yahudi tersebut pindah ke Afrika bagian timur yakni di Uganda. 

Respon serupa juga diterima di Uganda. Akhirnya mereka pindah ke Amerika Selatan yaitu Argentina, tapi juga mendapatkan penolakan.

"Pada akhirnya di sini bermasalah, di sana bermasalah dan dimana-mana bermasalah. Lalu mereka berusaha memanfaatkan sentimen keagamaan, memanfaatkan ayat dalam Taurat," paparnya

Bunyi ayat itu, uacapnya, dan aku akan memberikan kepada keturunanmu wahai Ibrahim, tanah yang dijanjikan yakni antara Nil dan Eufrat. 

Tanah itu, tuturnya, berada di wilayah Palestina dan termasuk juga beberapa wilayah negara di tempat itu.

Ayat ini belakangan disebutnya menjadi jualan kaum Yahudi. Tujuannya agar memiliki negara bagi bangsa Yahudi. 

Dari perjalanan itu, jelas TGB, agresi Israel murni merupakan ide politik, dan tak ada urusannya dengan masalah agama.

"Orang ini (Theodor Herzl) ingin membuat negara untuk orang Yahudi namun tidak berhasil. Barulah buka Taurat dan mencocokkan dengan kepentingannya," tegasnya.

Dari itu, jelasnya, ada misi perebutan Palestina dengan membuat sentimen. Tujuannya agar dapat menguasai wilayah tersebut.

Selanjutnya, terangnya, jika diuji dari sejarah orang yang tinggal di tanah Palestina. Jauh sebelum itu ditempati oleh kaum Kan'an yang merupakan nenek moyang dari bangsa Arab.

Barulah jarak ratusan tahun lahir Nabi Ibrahim dan tinggal di tempat itu bersama dengan Nabi Ishak, Yakub dan Yusuf.

Lalu, terangnya, Yusuf dibuang ke Mesir dan setelah dewasa memanggil ayahnya yakni Nabi Yakub dan saudaranya ke Mesir. 

"Dari masa Nabi Ibrahim sampai Nabi Yakub pindah ke Mesir itu dalam catatan sejarah sampai 230 tahun," terangnya.

Sejarah juga mencatat, paparnya, jika dihitung dari Nabi Daud dan Sulaiman Yahudi berkuasa di tanah itu hanya 500 tahun lamanya. Jauh lebih panjang masa tinggalnya bangsa Arab, yang dimulai oleh nenek moyangnya yakni orang-orang Kan'an.

Merujuk dari itu, kata dia, orang Israel tak bisa mengakui wilayah tersebut merupakan warisan nenek moyangnya. Pasalnya, ujarnya, sudah ada orang yang menempati dari ribuan tahun yang lalu, dari berbagai generasi bahkan sampai saat ini.

Dari sisi agama dan Taurat, jelasnya, jika direnungkan siapa sebenarnya keturunan dari Nabi Ibrahim yakni dari kedua putranya. Yaitu Ismail yang menjadi nenek moyang orang Arab, dan Ishak yang melahirkan Yahudi.

Lalu, terangnya, jika dipersoalkan keturunan yang berhak atas warisan ayahnya, bukan hanya yang memiliki keturunan biologis namun juga yang mewarisi ajaran ayahnya.

"Kita baca dalam Alquran apakah Yahudi mewarisi dari ajaran ayahnya, banyak sekali penyimpangannya," ujarnya.

Dirinya memaparkan penyimpangan itu diantaranya, mereka berjanji kepada Allah lalu mengingkarinya. Mereka kufur kepada ayat-ayatnya, pembunuh para nabi dan rasul, dan membuat transaksi yang mengandung riba.

Dengan demikian, kata dia, kendati memiliki nasab dengan Ibrahim, namun meninggalkan ajarannya. Mulai dari tauhid, tuntunannya, dan banyak sekali yang diterangkan oleh Alquran. Maka sesungguhnya disebutnya kaum tersebut tidak pantas mengaku keturunan.

"Tidak pantas mereka sekarang mengatakan ini janji dari Allah dulu bahwa anak cucunya akan tinggal di situ, tidak pantas karena mereka sudah melenceng dari ajaran Ibrahim," ucapnya.

Berdasarkan sejarah itu, ucapnya, jangan sampai terperdaya ungkapan jika bangsa zionis itu punya hak tinggal di Palestina.

Dengan tegas, ia menyebutnya sebagai kaum pendatang. Walupun, nenek moyangnya pernah tinggal di sana namun hanya sebentar saja dibandingkan orang Arab.

Yang utama, kata dia, mereka tak berhak menyebut dirinya sebagai keturunan Ibrahim. Sebab telah jauh dari tuntunannya.

Jika merujuk dari kajian sosiologis yang dilakukan bangsa Yahudi, dengan tegas zionis saat ini tak ada hubungan dengan kaum sebelumnya.

Namun, yang saat ini merupakan keturunan Ashkenazi. Yakni orang-orang yang tinggal di bagian utara Rusia yang masuk ke agama Yahudi beberapa abad yang lalu.

Jadi, kata dia, tidak ada hubungannya dengan Yahudi yang dulu. Apalagi jika hasil studi atau riset ini benar maka, semakin tidak ada alasan lagi.

"Yang saya ingin katakan adalah bahwa apa yang dilakukan Israel saat ini kepada Palestina, dengan segala kezalimannya itu tidak ada sedikit pun hubungannya dengan tuntunan agama," sebutnya.

Apa yang dilakukan Israel disebutnya merupakan penjajahan, kejahatan, dan kezaliman yang luar biasa. Kita bantu mereka dengan do'a semoga Allah menyelamatkannya," tandasnya. (kin)

Posting Komentar

0 Komentar