Jejak Terkini

Menengok Tradisi Maleman Ganjil Ramadan di Desa Songak

Refleksi Syukur Atas Turunnya Agama Islam

Dila Maleman

"Maleman di banyak tempat di Pulau Lombok disebut dengan nama berbeda. Tradisi ini hampir bisa dipastikan dapat ditemukan di semua desa di Pulau Lombok."

SAEPUL HAKKUL YAKIN -- SELONG 

HARI sudah petang. Matahari yang berada di ufuk barat sebentar lagi beringsut menuju pangkuan senja.

Beriringan denga. Tenggelamnya bila api itu, di sepanjang jalan berpaving blok, hilir mudik warga nampak ramai. 

Begitulah kesan sore itu di Desa Singak, Kecamatan Sakra Lombok Timur.

Saat Surya sudah benar-benar tenggelam, adzan Magrib pun berkumandang.

Rupanya hilir mudik warga di Desa itu tengah beramai-ramai mempersiapkan diri hendak naik ke masjid membawa dulang (makanan dalam wadah nampan). Makanan ini bakal dikonsumsi saat berbuka puasa.

Seusai berbuka sebelum menunaikan salat Magrib. Do'a dipanjatkan diiringi lampu listrik yang padam diganti dengan lampu maleman.

"Itu tradisi malam ganjil setiap bulan Ramadan tiba," terang budayan Desa Songak, Murdiyah, Kamis malam (6/5).

Tradisi ini, terangnya, dilaksanankan di berbagai tempat dengan penyebutan yang berbeda-beda. Di Songak, warga biasa menyebutnya dengan maleman.

Dila maleman, kata dia, berarti merefleksikan keadaan pada masa lampau saat agama langit ini diterima hanya menggunakan lampu-lampu obor.

Selanjutnya, kata dia, tradisi ini merupakan bentuk syukur kepada Allah Swt dengan diturunkannya agama Islam yang menjadi cahaya bagi semesta.

Murdiyah mengatakan, pengajaran agama dulunya lebih banyak melalui simbol-simbol. Hal itu dapat dilihat dalam berbagai ritual khususnya di Pulau Lombok.

Selain itu, ujarnya, menyalakan lampu ini dengan harapan mendapatkan berkah sepuluh malam terakhir khususnya pada malam ganjil. Yakni berupa Lailatul Qadar.

Selain itu, kata dia, menyalakan lampu ini juga sebagai isyarat bagi umat Islam. Tujuannya agar bersiap-siap menyambut malam seribu bulan tersebut.

Itu mengapa, ucapnya, pelaksanaan tradisi ini pada sepuluh malam terkahir. Yakni pada malam 21, 23, 25, 27 dan khusus 29, oleh orang Songak menyebutnya dengan malem Sanga.

Dirinya menerangkan, lampu ini dibuat dari buah pohon jarak. Yang artinya, agama yang menjadi cahaya ini dibawa oleh orang atau pedagang Gujarat.

Lampu ini sendiri dibuat dari bahan buah pohon jamplung yang sudah mengering. Lalu diproses sehingga berbentuk seperti yang bisa disaksikan saat ini.

Dalam naskah takepan Sasak, uacapnya, agama sebagai penerang ini dapat ditemukan. Yakni di lontar Alip dan Kotaragama.

“Sasmitanira punika, pan saking cahya kang wening, hya hiku hananira hing kuna, hing mangke sira punika, sarupanna hiki zattullah kang jatinipun. hya sira kang hana, hing dunia praptaning akhir, hya hiku hingaranan ujud sejati,” kutipnya.

Dalam kutipan itu berarti perumpamaannya seperti berasal dari cahaya yang bening. Begitulah keberadaannya sejak dahulu, hingga saat ini. Tidak ada bedanya, zat Allah sejatinya, karena itulah sebab adanya, dari dunia hingga akhir. Itulah yang dinamakan ada yang sejati. (*)

Posting Komentar

0 Komentar