Jejak Terkini

Misteri Batu Tambun, Tempat Dimana Kompas Tidak Bekerja

BATU TAMBUN: Salah seorang pemuda asal Dusun Suka Mulia, Desa Pohgading Timur, Kecamatan Pringgabaya, Asri saat berada di Batu Tambun.

SELONG
-- Selalu ada serpihan keajaiban hampir di semua belahan dunia. Keajaiban itu bekerja dengan caranya sendiri membuat manusia takjub dengan keberadaannya.

Di Lombok Timur, tepatnya di Desa Padak Guar Kecamatan Sambalia, ada sebuah lokasi bernama Baru tambun. Di sekitar lokasi ini dipenuhi bebatuan dengan struktur aneh.

Diduga bebatuan dengan struktur aneh ini berasal dari masa purbakala. Bebatuan itu konon merupakan endapan lahar yang berubah menjadi bebatuan.

"Batu Tambun ini merupakan situs," kata Sekretaris Desa Padak Guar, I Gusti Ngurah Aryawan Asasandi kepada JEJAK LOMBOK, Rabu (18/8).

Secara ilmu geografi dan tentang kebumian, paparnya, di lokasi itu didapati saluran menyerupai kanal. Kanal inilah diduga merupakan aliran magma dari letusan gunung Samalas.

Bekas aliran lahar panas ini kemudian membentuk tumpukan batu di lokasi itu. 

Menurut dia, di bawah tumpukan bebatuan magma itu, dirinya menduga ada sesuatu yang tertanam. Dugaan itu sepertinya sangat mendasar, dari beberapa referensi yang ia baca, Indonesia disebutnya merupakan benua atlantis yang hilang. 

Dugaan sementara, kemungkinan di bawah tumpukan bebatuan itu terdapat dorpal atau bahkan portal yang memiliki medan magnet yang sangat besar. Buktinya, kompas kapal laut yang melintas di pulau itu sering terganggu. 

"Ada saja kapal yang kandas karena kompasnya tidak bekerja, makanya saya menduga ada dorpal di bawah tumpukan batu itu," kata dia.

Namun demikian, ia mengakui di lokasi itu tak terlepas dari mitos di kalangan masyarakat sekitar di desa tersebut. Konon serangkaian peristiwa itu berkaitan dengan dugaan adanya dorpal.

Menurutnya, dorpal bisa menjadi hal yang sangat penting yang berkaitan dengan penjagaan lingkungan. Dorpal ini bisa meminimalisir getaran gempa, atau ditolak sema sekali. 

"Tapi supaya tidak diganggu makanya ada cerita, ada jinnya, ada ini itu. Tapi semuanya itu menurut saya bisa dibedah secaa saintis," tandasnya.

Salah seorang warga Dusun Suka Mulia, Desa Pohgading Timur, Kecamatan Pringgabaya, Asri yang telah menginjakan kaki ditempat itu, mengaku di lokasi itu kompas apapun tak akan berfungsi.

Dia menjelaskan, batu tersebut dugaan sementara terbentuk dari lahar gunung. Pasalnya gunung di Lombok disebutnya tercatat dua kali mengalami letusan.

Pertama, letusan Gunung Beleq, yang disebut juga Anjar Langit. Gunung ini ditaksir ketinggiannya sampai 10 ribu mdpl.

Dari letusan ini menyisakan Samalas dan membentuk kawah, wilayah yang saat ini dikenal dengan Sembalun. Kedua, letusan Samalas pada tahun 1252 silam yang melahirkan Rinjani dan Segara Anak.

Bahkan letusan ini termasuk salah satu yang terdahsyat. Konon, semburan abu vulkaniknya terlempar hingga ke kutub utara bumi.

Disepanjang Pantai Sambalia, ujarnya, banyak batu serupa. Bebatuan itu diduga berasal lahar panas dari muntahan lahar gunung yang membeku.

"Saya menduga batu ini dari lahar panas yang mengalir ke tempat ini. Namun demikian perlu diteliti lagi oleh ahlinya. Apakah batu ini dari Anjar Langit atau Samalas," ucapnya. (kin)

Posting Komentar

0 Komentar