Jejak Terkini

Kisah Sang Patih dari Segarnya Aliran Sungai Mencerit

Berburu Nihil, Lelah Pula Tahan Dahaga

ALAMI: Keindahan air tibu (kubangan) sungai Mencerit serasa segar dan masih alami.

-------------

"Tidak sedikit obyek destinasi yang memiliki kisah dari tradisi bertutur warga setempat. Seperti aliran air Ribu Mencerit misalnya."

SAEPUL HAKKUL YAKIN -- SELONG

AKHIR pekan selalu menjadi pilihan waktu terbaik berlibur. Entah itu bersama teman, sahabat dan keluarga.

Dari banyak destinasi yang ada, JEJAK LOMBOK merekomendasikan tempat ini dikunjungi. Sungai Air Tibu Mencerit namanya.

Untuk sampai ke tempat ini memang tak mudah. Pengunjung harus menembus lebatnya hutan.

Sepanjang akses menuju destinasi ini, bukan tidak mungkin nyali pengunjung menciut. Kondisi ini ditambah akses jalan bebatuan yang harus dilalui.

Kala awak media ini menuju lokasi, angka penunjuk waktu di ponsel berada di pukul 11.00 WITA, Minggu (21/3), kemarin. Waktu dimana matahari serasa menyengat hingga ke ubun-ubun.

Beruntung saat menempuh perjalanan, awak media ini tak sendiri. Ada warga sekitar berbaik hati ikut menemani. Praktis, rasa takut terusir sendirinya.

Sesampai di tanah lapang pinggir hutan, rasa takut yang tadinya menyelimuti terbayar lunas. Sambil mulut terkatup, sejenak rasa takut pun berganti dengan kekaguman akan keindahan tempat itu.

Banyaknya warga penghuni lokasi itu, terasa dibawa kembali ke kehidupan masa lampau. Yang ada hanya keasrian dan kesenangan mandi di jernih air sungai yang mengalir itu.

Orang menyebut tempat itu dengan Sungai Mencerit. Penamaan tempat itu tak terlepas dari sejarah mata air yang ada di lokasi itu. Sungai ini terletak di Desa Pengadangan Barat, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur.

Kepada media ini, Kepala Urusan Perencanaan Desa Pengadangan Barat, Muhlis mengtakan,  dinamakan Mencerit lantaran kisah salah satu mata air di tempat itu. Mata air yang ada menjadi salah satu sumber air di tempat itu.

Ia menyebutkan, setidaknya ada empat mata air di lokasi tersebut. Keempat mata air itu sampai saat ini masih ada, dan dapat dinikmati.

Sekedar informasi, mata air Mencerit ini merupakan salah satu sumber Perusahan Air Minum Daerah (PDAM) Lombok Timur.

Muhlis menceritakan, konon salah seorang patih berburu musang di tempat itu. Dalam pemburuannya sang patih tak kunjung mendapatkan binatang yang jadi targetnya.

Buruan tak kunjung didapati, rasa haus pun melanda tenggorokan. Lalu ia pun turun, dengan niat mencari air.

Sesampainya di tempat itu, bukan air yang dijumpainya. Hanya pohon tinggi dan rerumputan. Kontan sang patih hanya menghela nafas menahan dahaga.

Di tengah rasa haus yang sudah terasa mencekik leher, membuatnya semakin kebingungan. Sang patih lalu menancapkan tongkatnya ke sela bebatuan besar. 

Begitu mencabut tongkat, keluarlah air yang muncrat. Mencerit sendiri merupakan bahasa Sasak yang berarti muncrat.

"Dari itu tempat ini disebut Sungai Mencerit," ujarnya.

Lantaran sungai itu di aliri mata air, ucapnya, tak heran jika warnanya nampak kebiruan. Pemandangan yang ditampilkan sangat segar karena masih alami dan dingin.

Di sungai itu, ujarnya, biasanya dipenuhi oleh warga sekitar. Baik keperluan untuk mandi dan hanya menikmati udara segar.

Lain halnya bagi anak-anak dan remaja, selain lokasi itu dibuat sebagai tempat mandi. Tak jarang mengabadikannya dalam bentuk foto spot.

"Apalagi hari libur, banyak muda mudi ke sini sekedar foto, makan bersama teman, kemah, dan menikmati indahnya pagi," terangnya.

Ia menyebutnya, tempat itu mutiara yang belum dipoles. Sebab, keindahan ini akan jadi sia-sia jika tidak dikelola dengan baik.

Pihaknya sebenarnya telah memantapkan tempat tersebut untuk dikelola sebagai salah satu lokasi wisata. Namun demikian, rencana tersebut terbentur dengan pandemi yang tengah menggempur. 

Menurutnya, lokasi satu ini akan menjadi pilihan wisatawan. Sebab, selain menawarkan air yang bersih, juga di tempat itu bisa menjadi lokasi camping ground bagi pengunjung.

Ia menjelaskan, di sebelah lokasi terdapat tanah lapang. Di atas tanah itu terdapat bebukitan. Kondisi ini tentunya menjadi point tersendiri.

Sedianya di tempat itu akan dibuatnya menjadi kolam alami. Ditambah dengan beberapa berugak tempat para penunjung beristirahat. 

Tak hanya itu, pihaknya juga bakal melengkapi tempat tersebut dengan MCK. Ada pula tempat pembuangan sampah agar lokasi terjaga kebersihannya.

Ditempat itu juga, terangnya, bisa menjadi wisata edukasi bagi pelajar. Mengingat di tempat ini masih banyak jenis pepohonan.

Ia juga akan menambah spot foto yang alami bagi pengnjung. Ia berharap dengan begitu tempat itu menberikan kesan tersendiri bagi pengunjung.

Namun demikian kata Muhlis, sungai itu juga sebagai tanda batas administratif dua desa. Yakni Desa Pengadangan Barat dan Pringgasela.

"Untuk itu perlu kita membahasnya dengan pihak desa Pringgasela dulu," tegasnya. (*)

Posting Komentar

0 Komentar