Jejak Terkini

Menolak Lupa, Mematri Dokter Soedjono di Sanubari (3)

Anjah Sasak, Upaya Membebaskan Rakyat dari Kungkungan Kebodohan 

BERPOSE: dr. R. Soedjono berpose bersama warga pasien penderita lepra di Klinik Sepolong. (Foto: Troppen Museum Belanda)

--------------------

"Kungkungan kebodohan telah menjadi endapan berlapis-lapis tebalnya yang sulit ditembus cahaya ilmu pengetahuan. Keadaan ini sepertinya pantas untuk menggambarkan kondisi masyarakat Lombok di awal abad ke-20."

FATHUR ROZIQIN — MATARAM

Era Meiji mengantarkan Jepang pada fase yang pantas dijuluki sebagai Negara Matahari Terbit. Pendar cahaya ilmu pengetahuan di negeri Asia Timur itu bergelora sampai jauh ke segala penjuru belahan bumi.

Jepang berdiri sejajar dengan negara-negara Eropa kala itu. Padahal manusia-manusia di Benua Putih itu jauh sebelumnya lebih dulu menisbatkan diri merengkuh aufklarung (pencerahan). 

Kemajuan yang diraih Jepang mencengangkan. Angka melek aksara di negara itu bahkan terbilang lebih tinggi dengan negara-negara Eropa sekalipun.

Selama rentang waktu 1868-1911, Jepang telah sanggup membuat Eropa terbelalak. Tercatat dalam lembaran sejarah, Jepang bahkan satunya-satunya negara di Asia Timur yang berkali-kali mencoba menggelar invasi.

Kedigdayaan Jepang bangkit. Pada puncaknya ketika negara ini berdiri tegak meluluhlantahkan Pearl Harbour, Amerika.

Begitulah Restorasi Meiji. Sebuah upaya perubahan mendasar yang dilakukan negara itu lewat pendidikan.

Jika di Asia Timur sana, matahari telah menunjukkan terangnya pengetahuan. Berbeda di Asia Tenggara, termasuk Indonesia rupanya masih diliputi kegelapan. Keterbatasan fasiltas pendidikan telah mengurung masyarakatnya dalam selubung labirin kebodohan.

Pun di Lombok, jangankan mengenal aksara, sekolah saja belum tiada berdiri di rentang waktu yang sama. Jika pun ada, jumlahnya sangat terbatas.

Waktu itu, hanya Gouvernement Inlandsche School (GIS) atau Hollandsche Inlandsche School (HIS) yang berdiri. Sementara sekolah jenjang Pendidikan seperti MULO (Meer Uitgenreid Lager Onderweijs) dan AMS (Algemene Middlebare School) hanya ada di Pulau Jawa.

Hari-hari yang panjang dalam pengabdian Soedjono sebagai seorang dokter rupanya merekam semua itu dengan baik. Pasien-pasien yang mendatanginya tidak saja dari kalangan usia dewasa, tapi juga anak-anak.

Di lain waktu, tidak sedikit pasien-pasien dewasa yang berobat kerap membawa anak-anak mereka. Terhadap para pasien ini, Soedjono kerap kali terlibat percakapan ringan, tapi membekas di ingatan.

“Banyak pasien-pasien yang bawa anak mereka kemudian disuruh bersekolah. Kakek menyuruh mereka dan membiayainya. Bahkan banyak yang disekolahkan hingga ke Blitar juga,” ungkap cucu dr. R. Soedjono, Raden Rahadian kepada JEJAK LOMBOK, beberap waktu lalu.

Apa yang dituturkan Rahadian ada benarnya. Roro Neni Kurnia, sepupu Rahadian dalam tulisan resume tentang sang kakek juga mengisahkan hal yang sama. Salah satu anak-anak yang disekolahkan kala itu bernama Ibu Selamah. Sosok ini masih hayat dan sudah dalam usia sangat senja.

Tak cukup dengan menyekolahkan anak-anak saja, Soedjono juga memelopori berdirinya Anjah Sasak. Yakni sebuah lembaga pendidikan bagi anak-anak Lombok yang tidak disekolahkan di luar daerah.

SAKSI SEJARAH: SMPN 2 Selong sebelum diakuisisi pemerintah pernah menjadi sekolah bernama Anjah Sasak.

Sekolah Anjah Sasak ini masih dengan mudah ditemui keberadaannya. Hanya saja, namanya kini telah berganti menjadi SMPN 2 Selong.

“Sekolah ini berada di sebelah barat pendapa Bupati Lombok Timur di Jalan Jenderal Ahmad Yani itu,” terang Rahadian.

Kendati menunjuk lokasi Anjah Sasak, Rahadian mengaku tidak tahu persis ihwal pergantian nama tersebut. Karena rentang waktu yang cukup lama, Anjah Sasak di kemdian hari diakuisisi menjadi sekolah milik pemerintah.

Kata Rahadian, di Anjah Sasak inilah putra-putri warga kala itu mendapat pendidikan. Semua mereka yang bersekolah di tempat itu dianggap seperti anak sendiri.

“Maklum saat itu kakek belum punya anak. Baru di usia menjelang sekitar 60-an beliau dikaruniai keturunan, yakni Raden Soeweno,” bebernya.

Sementara itu, ayahnya sendiri, putra kedua Soedjono yakni Raden Soewetomo tak sempat mengenal wajah sang kakek. Soedjono lebih dulu berpulang sebelum putra keduanya sempat bersua karena masih di dalam kandungan. (*)

Bersambung… 

Posting Komentar

0 Komentar