Jejak Terkini

Batu Diduga Bertulis Aksara Brahmi Ditemukan di Sapit

AKSARA KUNO: Tiga lempeng batu bertulis aksara kuno ditemukan di Desa Sapit.

SELONG
—Sejarah Pulau Lombok telah menempatkan Desa Sapit, Kecamatan Suela Lombok Timur sebagai salah satu desa tua. Di desa ini masih terdapat banyak situs-situs masa lalu yang bisa ditemukan.

Situs-situs itu tidak saja merujuk pada hitungan peradaban berskala waktu masehi. Sebut saja seperti kehidupan kerajaan-kerajaan di nusantara, atau sejarah penyebaran sejumlah agama.

Lebih dari itu, situs yang merujuk pada skala waktu Sebelum Masehi (SM) diduga juga dapat ditemukan di desa ini. Seperti keberadaan batu yang diduga bertulis aksara Brahmi.

“Ada tiga potongan batu yang kami temukan. Ketiganya memiliki model aksara Brahmi,” ucap tokoh muda Desa Sapit, Jannatan Firdaus kepada JEJAK LOMBOK, Senin (14/12).

Aksara Brahmi sendiri berasal dari sekitar abad ke-3 SM. Rentang waktu kemasyhuran aksara ini bertepatan dengan kejayaan pemerintahan Raja Ashoka pada masa India Kuno.

Dalam laman Wikipedia menyebut bahwa Aksara Brahmi dikenal sebagai aksara yang memiliki variasi bentuk huruf dan tersebar dari India Utara hingga Selatan. Di India Utara, aksara Brahmi menjadi dasar perkembangan aksara Gupta selama periode Gupta.

Berikutnya, aksara ini akhirnya berkembang menjadi sejumlah tulisan kursif selama Abad Pertengahan. Termasuk di antaranya, aksara Siddham, Sharada dan Nagari. 

Aksara Siddham memberi pengaruh dari India Utara (termasuk Tibet) sampai Asia Timur, sementara aksara Sharada dan Nagari memberi pengaruh pada wilayah India Utara dan Barat.

Masih di laman Wikipedia menyebut bahwa Aksara Brahmi ini merupakan rumpun aksara abudiga. Aksara-aksara dari rumpun ini digunakan di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan sebagian Asia Tengah dan Timur. 

Rumpun bahasa yang menggunakan aksara jenis ini antara lain, Indo-Eropa, Dravida, Tibet-Burma, Mongol, Austro-Asia, Austronesia, Tai, dan kemungkinan juga oleh bahasa Korea (Hangeul). Urutan vokal dalam rumpun aksara ini juga menjadi dasar urutan vokal dalam aksara kana (katakana dan hiragana) di Jepang.

Abugida, atau disebut juga alfasilabis, adalah aksara segmental yang didasarkan pada konsonan dengan notasi vokal yang diwajibkan tetapi bersifat sekunder. Hal ini berbeda dengan alfabet yang vokalnya memiliki status sama dengan konsonan serta abjad yang penandaan vokalnya tidak ada atau manasuka (opsional). 

Keluarga aksara Brahmi yang banyak digunakan di Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk dalam jenis aksara abugida ini.

Jannatan Firdaus menuturkan, tiga lempengan batu itu ditemukan belum lama ini. Ketiga batu tersebut ditemukan di pematang sawah warga setempat.

“Kita menemukannya di pelompong (pembuangan air irigasi sawah) di sawah warga,” ucapnya.


Sebelum penemuan batu bertulis aksara kuno itu, ungkapnya, sudah lama tersiar dari sejumlah tokoh di desa itu. Berbekal informasi itu, Jannatan pun mencoba berburu melacak keberadaan batu tersebut.

Lebih spesifik, ia mengaku menemukan batu ini dua tahun lalu, tepatnya 2018. Penemuan ini sekitar bulan Juli.

"Saya lupa tanggal pasti penemuannya," ucapnya.

Untuk menemukan batu ini, jelasnya, butuh waktu bertahun-tahun. Karena proses perburuan yang cukup Panjang, oleh warga setempat menganggp proses pencarian batu ini sangat mustahil.

Prasasti batu ini saat ditemukan, ungkapnya, telah mengalami retakan. Batu ini bahkan terpotong menjadi tiga bagian. Namun demikian, tak mengurungkan niatnya membawa pulang batu itu saat ditemukan.

Baca Juga :

Menyusuri Palung Sejarah Masjid Kuno Bayan

5 Jenis Sambal Ini Sangat Legend di Lombok

Filosofi Dibalik Motif dan Warna Kain Tenun Bayan


“Saya memikulnya dan membawanya pulang sendiri,” ucapnya.

Ia pun mengisahkan bagaimana dirinya memikul batu itu. Dari lokasi yang sangat jauh dan ditempuh dengan berjalan kaki, tak membuat semangatnya surut.

Usai menemukan batu itu, ia mengaku membutuhkan waktu sekitar 4 bulan untuk sekedar membersihkan batu tersebut. Betapa kaget dirinya, setelah batu bersih ditemukan bentuk akrasa aneh di batu tersebut.

Aksara-aksara di batu yang tidak pernah dilihat sebelumnya itu membuat dirinya penasaran. Belakangan dari hasil pencariannya diduga jika aksara dalam batu itu adalah Aksara Brahmi.

Jannatan mengatakan, Aksara Brahmi ini lebih tua dibandingkan dengan Aksara Palawa. Di lain sisi, setelah batu ini disatukan akan ditemukan gambar patung sedang bertapa. Patung ini ini disebutnya mirip dengan pemujaan agama Hindu di India.

“Ini membuktikan Lombok, khususnya suku Sasak telah memiliki kepercayaan agama sejak lama,” ucapnya.

Kendati mengenali model aksara itu, ia sendiri hingga saat ini  mengaku belum mengerti maksud tulisan di dalam batu tersebut. Hanya saja, jiak merujuk rentang skala waktu lahirnya Aksara Brahmi, ia yakin aksara itu sezaman dengan masa hayatnya filsuf Yunani kelahiran Athena bernama Epicurus.

“Jangankan Nabi Muhammad, mungkin itu masa dimana Nabi Sis juga belum lahir,” tandsnya. (sy) 

Posting Komentar

0 Komentar