Jejak Terkini

Weni Kristanti, Perempuan Bertangan Dingin di Balik Aruna Hotel (2-Habis)

Price War Hingga Startegi Jitu yang Inovatif

Weni Kristanti

GERUNG
—Kepungan pandemi virus corona rupanya memaksa semua lini kehidupan terdesak. Tak hanya bisnis di sektor pariwisata, tapi semua sektor dibuat beringsut.

Akan halnya operasi bisnis yang dilakoni Aruna Hotel, Senggigi Kecamatan Batulayar, Lombok Barat. Perihnya jatuh bangun usaha sudah dirasakan selama pandemi virus corona.

Akibat virus asal Wuhan, Tiongkok ini tidak saja dirasakan di tanah air. Seantero dunia juga turut dibuat ciut lantaran mobilitas sosial dirasakan sangat terbatas.

Alih-alih bisa bepergian dan berinteraksi dengan manusia di belahan bumi lain. Untuk sekedar berkomunikasi saja dengan warga sekitar harus menerapkan jarak aman.

Saat momok bernama Covid-19 ini terus mengendus, jajaran manajemen Aruna Hotel tetap berdiri dengan kepala tegak. Sepi atau ramai kunjungan tamu di hotel dengan 143 kamar ini tetap beroperasi. 

Segala konsekuensi dari tindakan yang diambil ini telah dipikirkan matang-matang. Beroperasi di tengah pandemic rupanya mau tak mau membuat hotel ini mengurangi jumlah kamar hunian yang dioperasikan.

“Langkah ini kami ambil demi menghemat biaya operasi,” ucap General Manager Aruna Hotel, Weni Kristanti, kepada JEJAK LOMBOK, tengah pekan kemarin.

Dengan menekan biaya operasi, jelasnya, setidaknya pengeluaran hotel ini tidak membengkak. Atau kalau tidak, pengeluaran yang dihabiskan tidak sama besarnya dengan waktu normal sebelum pandemi menerjang.

Bagi Weni, beroperasi dimasa pandemi punya alasan sangat menyentuh. Demi alasan kemanusiaan, ia tidak ingin melihat karyawan yang bekerja di hotel ini kehilangan mata pencariannya. Suka duka harus dijalani bersama.

“Karena kami di sini sudah merasa satu keluarga,” lanjutnya.

Saat pandemi begitu akut dan menjadi phobia, ia tidak memungkiri jika kebijakan manajemen yang diterapkan cukup beragam. Mulai dari menurunkan harga sewa kamar, hingga konsen membidik pasar lokal.

Khusus bagi pasar lokal, jelasnya, Aruna sejak sebelum pandemic memberikan treatment tersendiri bagi pengunjung lokal. Salah satu bagian dari treartment itu dengan mendesain sedemikian rupa bahwa menginap di hotel menjadi bagian dari gaya hidup.

Rupanya, bidikan terhadap pasar lokal ini cukup membantu bagi Aruna. Bahkan, dalam kondisi paling terdesak, manajeman hotel ini juga menjadi bagian dari “ruang isolasi” korban Covid-19.

Di tengah situasi yang membuat weni terus menguras tenaga dan pikiran, sebagai manusia biasa, ia mengaku pernah juga sampai di fase jenuh. Ia ingin menyudahi perjuangannya dan menyerah terhadap keadaan.

Namun karena beban moral yang ditanggungnya, ia tak sudi menyerah pada keadaan. Alih-alih menyerah, ia memilih berdiri dan mengurai persoalan yang dihadapi.

Aruna Hotel Senggigi

Berkat kegigihannya, perlahan tapi pasti, usahanya pun mulai membuahkan hasil. Keadaan dianggap terus membaik.

Di saat keadaan dan kepungan pandemi mulai mereda, hotel-hotel kompetitor terlibat dalam price war (perang harga). Ramai-ramai para kompetitor menerapkan kebijakan banting harga.

“Tapi kami sudah membaik. Saat kompetitor banting harga, kami justru di harga stabil,” ucapnya.

Kendati menerapkan harga di atas rata-rata, Weni memastikan kualitas layanan tidak kendor. Sebaliknya, sevis terhadap pelanggan dinomorsatukan.

Untuk saat ini saja misalnya, Aruna Hotel melengkapi tiap kamar dengan sesuai standar kesehatan. Masing-masing kamar dilengkapi hand sanitizer, masker serta perlengkapan lain yang dibutuhkan.

Di saat keadaan berangsur pulih, Aruna Hotel rupanya cukup beruntung memiliki arena MICE. Tidak sedikit kegiatan pertemuan dari pihak pemerintah pusat dan daerah yang diselenggarakan di tempat ini. Bahkan, tidak sedikit pula pihak swasta yang menjadikan aruna sebagai pilihan lokasi pertemuan.

“Berbekal pengalaman di dua tempat kerja sebelumnya (Olimpic Renotel Sentul dan Ayola Lisa Surabaya), saya manfaatkan jaringan saya untuk menggaet pelanggan,” tutupnya. (jl)

Posting Komentar

0 Komentar