Weni Kristanti, Perempuan Bertangan Dingin di Balik Aruna Hotel (1)

Datang Disambut Bencana, Buktikan Diri Perempuan Super

Weni Kristanti

GERUNG
--Meniti karir di Lombok, barangkali idaman bagi setiap pelaku pariwisata. Gemerlap potensi sumberdaya yang dimilikinya tak sulit dipromosikan lantaran sudah tersohor lebih dulu.

Bukan tidak mungkin berkarir di Lombok membuat kerja-kerja yang dilakoni diliputi kemudahan. Tanpa promosi berlebihan pun, keindahan Pulau Lombok tetap sanggup menjadi magnet yang menyedot wisatawan.

Barangkali itulah persepsi awal yang ada di benak Weni Kristanti. Ia datang menjejakkan kakinya di Lombok di bulan kedua 2018, Februari.

Perempuan asal Magelang, Jawa Tengah ini merupakan orang nomor satu di jajaran manajemen Aruna Hotel, Sengggigi, Kecamatan Batulayar Lombok Barat.

Sebelum menghirup udara Lombok, ibu 47 tahun ini sebelumnya menduduki posisi sama di Olimpic Renotel Sentul. Pasca purna menjalankan tugas di salah satu di Jawa Barat itu, ia bergeser menakhodai Ayola Lisa Hotel di Surabaya, Jawa Timur.

Kepada JEJAK LOMBOK, di dua hotel yang telah dipimpinnya itu dianggap sebagai ajang pembuktian diri. Di Renotel Sentul misalnya, hotel yang berada di tepi jalan tol itu dianggap punya kenangan sendiri.

"Bayangkan, hotel ini berada di pinggir jalan tol. Kira-kira siapa yang akan mau menginap?," kenangnya, Kamis (5/11), pekan lalu.

Menangani Renotel disebutnya menjadi tantangan tersendiri. Beragam inovasi digencarkan demi menjadikan hotel itu sebagai destinasi hunian yang tetap memiliki pengunjung.

Ia sukses membesut Renotel dengan segala kemampuannya. Tapakan cobaan dilalui dengan gemilang.

Bergeser di Ayola Lisa Surabaya, juga sepertinya sama perihnya saat awal ditugaskan di Renotel. Berbekal pengalaman menangani Renotel, sepertinya tidak sulit bagi Weni Kristanti membuktikan kapasitas dirinya.

Setelah menangani dua hotel yang dianggap memiliki kenangan perjuangan luar biasa itu, Weni berpikir sudah waktunya menikmati kerja kerasnya. Setidaknya, ia tidak melulu ditempatkan di hotel-hotel yang menguras energi dan pikiran.

Aruna Hotel

Terang saja, oleh perusahaan holding yang membawahi dua hotel itu menempatkan dirinya di Lombok. Ia didapuk kembali sebagai general manager (GM) di Aruna Hotel. Hotel yang juga masih satu holding dengan dua hotel sebelumnya.

"Baru saja dalam beberapa hitungan bulan, Lombok sudah diguncang gempa. Gempa awal terjadi sejak Juli dan terus-terusan hingga akhir 2018," tuturnya.

Kehadiran gempa rupanya tidak ingin membuat perempuan pemilik panggilan Weni ini menikmati kerja kerasnya di dua hotel sebelumnya. Pembuktian kapasitas dirinya kembali diuji. Aruna sepi. Sama halnya dengan hotel-hotel lain yang ada di Lombok kala itu.

Di tengah cobaan bencana itu, di balik tangan dinginnya, Weni dipaksa putar otak. Kembali ia kerahkan segenap daya kemampuannya bertahan menukangi tempat barunya.

Keadaan berkata lain. Belum saja sempat bernafas lega, di awal 2019 kebijakan maskapai penerbangan tidak cukup bersahabat. Harga tiket mahal, hingga kebijakan bagasi berbayar menjadi tumpukan cobaan yang harus dilaluinya.

Namun terhitung Maret 2019, capaian okupansi (tingkat hunian) Aruna Sengggigi menunjukkan tren positif. Pencapaiannya dianggap nyaris sama dengan sebelum terjadi gempa setahun sebelumnya di 2018.

Apa boleh buat. Lagi-lagi di penghujung 2019, dunia diterjang pandemi virus corona. Hingga virus asal Wuhan, Tiongkok ini tiba di bulan Maret, tepatnya di Lombok Timur rupanya menjadi pukulan tersendiri. 

Kali ini, pukulannya jelas lebih dahsyat. Weni Kristanti seolah tak boleh dibiarkan bernafas lega.

"Cobaan pandemi ini malah lebih buruk lagi. Karena masalahnya terjadi bukan saja di lokal, tapi dunia internasional," tuturnya.

Pandemi corona rupanya membuat para pelaku usaha, termasuk bisnis pariwisata, terdesak. Di lain sisi harus berpikir biaya operasional. Pada sisi beriringan harus menggaji staf dan karyawan. 

Rumus ekonomi, supply lebih besar dari pada demand nyata terjadi di depan mata. Pengeluaran lebih besar dari pendapatan menjadi momok yang membuat beberapa para pelaku usaha pariwisata justru menemui titik nadir. Mereka tak sanggup beroperasi kembali.

Di awal kepungan pandemi corona, pemerintah menetapkan kebijakan luar biasa. Pesawat bisnis tidak boleh mengudara. Hanya pesawat pemasok logistik yang diizinkan berlalu lalang.

Hebatnya, di tengah sesaknya nafas para pelaku usaha pariwisata, Weni tetap bersikeras beroperasi. Aruna Hotel harus tetap dibuka dengan kebijakan yang ketat. Standar protokol kesehatan Covid-19 pun diberlakukan.

"Kita bersyukur, karena dengan gigihnya kita terapkan protokol kesehatan, ada saja satu dua tamu yang mau datang," ucapnya.

Berkat kegigihan ini pula rupanya belakangan Aruna Hotel menuai berkahnya. Aruna Hotel tercatat sebagai hotel pertama dan menjadi percontohan penerapan protokol kesehatan. Ini ditandai dengan dikantonginya sertifikat Clean, Healthy, Safety and Enviroment (CHSE) dari Pemprov NTB. (jl)

Bersambung...

Posting Komentar

0 Komentar