Riwayat Masuknya Lontar ke Suradadi

KERAJINAN: Inilah hasil kerajinan berbahan daun lontar yang dibuat masyarakat Suradadi.

SELONG
--Siwalan atau Lontar merupakan salah satu pohon yang dibuat sebagai bahan dasar beberapa jenis kerajinan tangan di Desa Suradadi. Tumbuhan bernama latin Borasuss Flabellifer ini konon ditemukan pertama kali di Asia Selatan.

Pohon ini masuk dalam jenis palma (palem). Dimana palem merupakan tumbuhan berumah dua karena dapat menghasilkan bunga betina dan jantan. Namun, Secara morfologi lontar berbatang tunggal dan kasar. 

Tinggi pohon ini dapat mencapai 15-30 meter. Tangkai daunnya berukuran 60-120 senti dan berpelepah panjang mencapai 1 meter dengan lebar 5-7 senti meter,  berbentuk kipas, berwarna hijau, dan memiliki tekstur kaku.

Lebar tiap tajuk daunnya antara 5-7 cm. Dengan suri kasar, menjari, tebal dan panjangnya 2,5 sampai 3 meter.


Pohon lontar dulunya dapat ditemukan di beberapa daerah di Indonesia. Seperti di pulau Jawa bagian timur, Madura, Bali dan Nusa Tenggara, hingga ke Sumbawa NTB.

"Ada juga yang mengatakan persebarannya mulai dari India hingga Asia Tenggara, Papua Nugini sampai Australia Utara. Persebaran lontar diduga berkaitan dengan rute perdagangan India," terang Ketua Pokdarwis Lontar, Sawaluddin, kepada JEJAK LOMOK, Kamis (26/11).

Dia menjelaskan, masyarakat Suradadi mengenal lontar mulai 1830-an. Tanaman ini dikenal melalui warga yang baru pulang dari Sumbawa, dan membawa tumbuhan tersebut.

Setelah datangnya tumbuhan ini baru para pengerajin mengganti bahan dasar anyamannya. Yang awalnya menggunakan daun pandan.

Setiap kerajinan di desa itu, bebernya, terutama topi dan tudung saji (tembolak) dibuat dari daun padan. Hanya saja, daun pandan ini memiliki duri di sepanjang sisi dan bagian tengahnya.

Konon, menurut cerita yang berkembang, beber Sawal, topi dan tembolak lahir dari kegelisahan petani di desa setempat.

Lantaran pada waktu itu sekitar abad 19 belum ada pelindung kepala dari sengatan sinar matahari. Kegelisan itu yang membuat petani menganyam bentuk penutup kepala berbahan dasar pandan. Hal serupa tak jauh berbeda dengan poklor lahirnya tembolak di Suradadi.

"Sejak datangnya lontar sampai saat ini pengerajin mengganti bahan dasarnya semula dari pandang ke daun lontar," ujarnya

Lontar menurutnya, selain dapat mendatangkan nilai ekonomis juga dapat dijadikan sebagai penyelamat hidup. Lantaran buahnya mengandung air seperti kelapa yang jika di minum mengatasi dehidrasi.

Ia mengakui, sampai saat ini belum ada pohon lontar di desa setempat. Lantaran itu, bahan baku itu masih harus diambil dari Sumbawa.

Hal itu, menjadi salah satu kendala bagi pengerajin setempat. Sebab, jika ingin membuat anyaman dalam jumlah banyak harus menunggu pemesanan dulu.

"Kita lagi berfikir bagaimna bisa dapatkan pohon ini dengan mudah," tandas Sawal. (sy)

Posting Komentar

0 Komentar