Jejak Terkini

Ini Temuan Tim Monitoring Saat Belajar Tatap Muka

BELAJAR: Aktivitas belajar tatap muka di jenjang sekolah dasar di Lotim dimulai hari ini.

SELONG
--Bupati Lombok Timur, HM Sukiman Azmy, melalui surat edarannya tertanggal 10 November lalu memperbolehkan sekolah belajar tatap muka. Edaran berlaku khususnya jenjang SD/SMP di daerah itu.

Pantaun JEJAK LOMBOK, salah satunya di SDN 1 Songak, Kecamatan Sakra, kebijakan belajar tatap muka tersebut berjalan dengan lancar. 

Kepala SDN 1 Songak, Murdiyah menegaskan, pihaknya menyambut baik kebijakan yang diambil oleh orang nomor satu di Lombok Timur tersebut. Pasalnya hampir satu tahun ini sekolah di Lotim sepi dari aktivitas belajar.

"Kita sambut baik kebijakan ini semoga bisa berjalan sampai selanjutnya," kata Murdiyah, yang juga merupakan tokoh adat Songak itu, Senin (16/11).

Di lain sisi, beber Murdiyah, anak didik nampaknya antusias dan kegiarangan menyambut kebijakan ini. Ia mengatakan, murid-muridnya telah rindu bertemu dengan guru yang selama ini membimbingnya.

Terlbih anak didik tengah mengalami proses belajar yang sulit. Lantaran pandemi yang sampai saat ini menyeruak.

Dia berharap, agar virus Corona ini cepat ditemukan vaksinnya. Dengan demikian, tatanan kehidupan khususnya di dunia pendidikan berjalan normal.

"Kita berharap semoga semua ini cepat berlalu dan ditemukan penangkal obat dari virus ini," ucapnya.

Terpisah, Camat Sakra, Ahmad Subhan mengatakan, simulasi belajar tatap muka hari pertama ini berjalan dengan lancar. Proses belajar tatap muka dengan memperhatikan protokol kesehatan.

"Semua sekolah menerapkan protokol kesehatan," ujar Ahmad Subhan.

Dia membeberkan, jumlah intitusi SD dan SMP negeri di Kecamatan Sakra secara kesulurahan. Jumlahnya yakni 33 SD dan 2 SMP. Jumlah ini ditambah dengan sekolah swasta di dua jenjang pendidikan tersebut.

Meski begitu, ujarnya, tim monitoring memenemukan ada beberapa sekolah yang abai akan perotokol kesehatan. Namun demikian, sekolah itu telah diberikan peringatan. 

Diantaranya yakni, ditemukannya guru yang tak menggunakan masker dan face shield. Tak hanya guru pelanggaran serupa juga ditemukan pada siswa.

"Lansung ditegur dan saat itu juga lansung diberikan masker," ujarnya.

Masih kata Subhan, didapati juga ada kantin sekolah yang buka. Lalu oleh petugas lansung ditutup.

Selanjutnya, ujar Subhan, tak ersedianya tempat cuci tangan dan sabun. Karena itu, tim meminta untuk menyiapkan hari itu juga.

Selain itu, didapati juga jarak duduk yang kurang dari 1,5 meter. Terhadap temuan ini, bersama dengan pihak sekolah lansung mengatur jarak duduk. 

Dietmukannya dalam satu rombel lebih dari 17 orang siswa. Sesuai aturan yang ada jumlahnya harusnya hanya 17 orang.

"Kami juga menemukan belum ada tim mnev di masing-masing jenjang sekolah," ucapnya. (sy)

Posting Komentar

0 Komentar