Jejak Terkini

Hobi Ternak Ayam Sejak SD, Faturromi Ciptakan Ayam Silang Makobar

Faturrommi

GERUNG
–Faturromi atau yang biasa disapa Romi merupakan warga Dusun Karang Bedil Timur, Desa Kediri Induk, Kecamatan Kediri Lombok Barat ini hobi berternak ayam sejak masih duduk di Sekolah Dasar (SD). Saking suka dengan berternak ayam, bapak dua anak ini pun belajar menyilangkan sendiri ayam dengan indukan ayam dari berbagai macam jenis ayam dari luar NTB.

"Saya berangkat dari hobi berternak ayam petelur. Saya lihat selama ini anak ayam banyak didatangkan dari luar daerah dengan berbagai macam jenis. Seperti ayam joper, ayam gorilla, ayam hulu dan beberapa jenis ayam lainnya," ujar Faturromi kepada JEJAK LOMBOK, Rabu (4/11).

Dia mengaku, mendatangkan beberapa jenis ayam dari Medan dan Malang untuk melakukan penyilangan. Dari hasil penyilangan itu berhasil diproduksi dan kini berjalan untuk generasi kedua.

"Alhamdulillah yang sudah kita silang itu, bibitnya kreasi teman dari Medan ada namanya ayam gorilla, modifikasi, pancamorti. Dan itu berhasil ayam jenis baru, sehingga kita beri nama Manok Kediri Lombok Barat disingkat Makobar," katanya.

Rencana ke depan kata dia, ia akan memproduksi ayam makobar dalam jumlah banyak. Kemampuannya. Dalam proses persialangan ayam ini disebutny tidak lepas dari bimbingan dari Dinas Pertanian Lombok Barat.

"Saya membuktikan bahwa ayam makobar ini layak untuk dikembangkan dan disebar ke masyarakat," akunya.

Dia menambahkan, umur ternak sampai panen ayam makobar ini selama 60 hari dengan berat rata-rata 1 kilogram per ekor.

"Kalau ayam kampung jenis baru, sekarang teman jual itu untuk bobot 1 kilogram di pasaran Rp 60-70 ribu. Kalau ayam makobar ini saya jual 35 ribu per ekor dari peternak sudah untung besar dan di pasaran bisa dia jual Rp 40-60 ribu untuk bobot 1 kilogram," tuturnya.

Ayam Makobar

Di sisi lain, kata dia, untuk biaya produksi ayam itu Rp 20 ribu per ekor. Walaupun nantinya harga ayam jatuh dari 25-27 ribu per ekor, peternak tetap untung. 

"Saya coba membuat pakan sendiri dari bahan maggot, azola, lemia dan jagung. Racikan pakan ini demi menekan biaya pakan," ucapnya.

Dalam kesempatan itu dia mengaku, jumlah ayam makobar yang dipelihara saat ini sebanyak 150 ekor indukan dan calon indukan sekitar 200 ekor. 

"Dari 150 ekor ini, kita menghabiskan pakan 2,3 kilogram 1 ekor ayam sekali panen," terangnya.

Dia menjelaskan, untuk saat ini memproduksi 32 ekor yang bertelur. Dari 32 ekor ini setiap 5 hari sekali menghasilkan DOC (anak, red) 50 ekor.

"Kemarin saya paksa jual demi kebutuhan pakan dengan harga 9 ribu per ekor dan ini kualitas bagus untuk dibuat indukan. Kita akan jual bibitnya selain pedagingnya sebagai brand ayam hasil Lobar dan bisa dipatenkan," ungkapnya.

Dia mengaku, ayam jenis makobar hasil persilangan ini satu-satunya di NTB. Terhadap ayam hasil persilangan yang dibuat ini, belakangan sudah ramai pesanan.

"Ada teman dari Sumbawa sudah memesan ayam jenis makobar ini. Ada juga yang lain," ucapnya. (and)

Posting Komentar

0 Komentar