BERIUK TINJAL

Mengulas Budaya Gotong Royong Sebagai Tradisi Suku Sasak dengan Pisau Bedah George Holmas

Oleh Dr. Jamiluddin, M.Pd

“Bila dianggap biasa, ia akan binasa. Jika tidak dianggap luhur, ia pun akan hancur.” Adalah sebuah kutipan pemikiran Anoraga tentang bêtapa pentingnya apresiasi terhadap sebuah nilai kebijaksanaan. Kutipan ini teruji dan terbukti dengan banyaknya kebijaksanaan yang mulai melemah, bahkan punah karena tidak dianggap berrkah yang mewah. Salah satu nilai kebijaksanaan yang nyaris punah adalah “gotong royong.” 

Menurut beberapa pakar, gotong royong merupakan proses membanting-tulang, memeras keringat, perjuangan, dan pergerakan bahu-membahu untuk memenuhi kepentingan atau mewujudkan kebahagiaan bersama. Pendapat para pakar ini menggambarkan bahwa  gotong royong adalah keseriusan dan kerja keras. Dapat pula dipastikan bahwa gotong royong merupakan perilaku berproses secara bersama-sama yang terbangun karena perasaan cinta dan kecintaan yang bersemi, kuatnya kepedulian untuk berbagi, dan hangatnya performance sifat maupun sikap kemanusiaan atau humanity. 

Dalam nalar Sasak, gotong royong sering disebut dengan istilah “Beriuk Tinjal.” Sebutan yang sangat sederhana, tetapi mengandung makna yang nyaris sempurna. Kata beriuk berarti bersama dan tinjal setara dengan tanjul yang berarti tendang atau nendang. Makna tersirat tendang atau nendang dalam frase “Beriuk Tinjal,” setara dengan bekerja keras. Makna ini diperkuat dalam sebuah lirik Cilokaq, yaitu: “ Beriuk tinjal silak batur begawean. Endak momot, ndak itung balung dengan.” Dengan demikian, “Beriuk Tinjal” dapat diartikan sebagai proses kerja keras yang dilakukan secara bersama-sama untuk mencapau tujuan tertentu atau kemaslahatan bersama. 

Konsepsi-konsepsi di atas menunjukkan bahwa Beriuk Tinjal atau gotong royong adalah tradisi seksi dan wajib diapresiasi. Dari sisi humanity, Beriuk Tinjal atau gotong royong mematah mata rantai masalah-masalah yang menjajah manusia karena sebab-sebab sifatnya yang lemah. Sementara itu, masalah-masalah yang berpeluang mengangkangi manusia karena sifatnya yang lemah meliputi seluruh aspek kehidupan, seperti agama, ideology, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan. Artinya, Beriuk Tinjal atau gotong royong yang nyaris punah saat ini sangat strategis dibumikan kembali.   Untuk kepentingan membumikan kembali tradisi Beriuk Tinjal atau gotong royong, tentu kita butuh membaca ulang beberapa konsepsi tentang beriuk tinal itu sendiri. Salah satu sasaran pokoknya adalah untuk membangun pemahaman yang lebih menggigit, sehingga kita lebih mudah melakukan restorasi sekaligus melangitkan citra Beriuk Tinjal. 

Jika kita membaca lebih seksama, maka dalam uraian tentang   “Beriuk Tinjal,” atau gotong royong, akan kita temukan beberapa ide dasar. Pertama, dalam struktur “Beriuk Tinjal” terdapat elemen “Melagak Lekong Belah.” Elemen ini sebangun dengan interaksi, baik dalam bentuk dialog atau transaksi-transaksi antar individu. “Melagak Lekong Belah” dalam pengertian terdahulu merupakan refleksi pengukuhan diri individu sebagai makhluk sosial sekaligus menjadi fondasi “Beriuk Tinjal.” Kedua, Bagian lain dalam struktur “Beriuk Tinjal” adalah “Sopok Angen” atau sentiment positip. Dialog atau transaksi-transaksi antar individu yang berproses dalam elemen Melagak Lekong Belah atau interaksi antar individu, cenderung melahirkan sentiment. Jika dialog atau transaksi-transaksi antar individu baik dan bermanfaat, maka akan lahir dan menguat “Sopok Angen” atau sentiment positip. Dalam konteks ini, “Sopok Angen” kita setarakan dengan saling percaya yang diperkuat dengan optimism terhadap sangat terbukanya peluang kehadiran manfaat luar biasa dari proses Melagak Lekong Belah tersebut. Ketiga, Terejawantahkannya aktifitas bersama dalam format “Beriuk Tinjal” atau Gotong Royong sebagai effect langsung Melagak Lekong Belah dan menguatnya “Sopok Angen” di antara individu. 

Tiga ide dasar di atas adalah petunjuk yang jelas, utamanya tentang semakin terkulai-lemas-nya  Beriuk Tinjal. Ada indikasi yang kuat bahwa muatan tiga ide dasar kurang mendapat ruang sehingga Beriuk Tinjal menjadi termarginal. Rupa-rupanya Melagak Lekong Belah terkanvaskan di ring pertarungan oleh tradisi daring. Kiranya atmosphere Sopok Angen gagal menkristal karena trend transaksional cenderung berorientasi material.  Tentu kita tidak boleh hanya berbekal tiga ide dasar hasil membaca ulang konsepsi untuk membumikan kembali Beriuk Tinjal. Kita juga memerlukan sebuah grand theory untuk membedah sekaligus memecah masalah Beriuk Tinjal yang melemah dan nyaris punah.   

Proses dari Melagak Lekong Belah, Sopok Angen, sampai terejawantahkannya  Beriuk Tinjal, bagau gayung bersambut dengan grand theory George Holmas. Dalam teori itu diuraikan bahwa: “Ada tiga elemen yang saling berhubungan satu sama lain dalam proses pembentukan sebuah struktur organisasi ataupun aktifitas. Semakin banyak interaksi-interaksi seseorang dengan orang lain (shared), maka akan semakin terbuka peluang tumbuhnya sentiment-sentimen dan aktifitas bersama mereka. Pada bagian berikutnya,  George Holmas menyatakan bahwa semakin banyak aktifitas-aktifitas bersama antar individu, maka semakin banyak interaksi-interaksi dan sentiment yang ditularkan. Kemudian, semakin banyak sentiment-sentiment yang ditularkan dan difahami oleh ondividu-individu, maka semakin banyak kemungkinan memunculkan aktivitas dan interaksi-interaksi.

Sebagaimana bekal hasil membaca ulang konsepsi Beriuk Tinjal di atas, grand theory George Holmas pun tampaknya memberi isyarat yang senada mengenai sebab-sebab melemahnya beriok tinjal. Isyarat tersebut adalah: (1). Masalah melemah dan nyaris punahnya Beriuk Tinjal disebabkan karena egoism individualitas yang membunuh cinta dan kecintaan sehingga memosisikan Melagak Lekong Belah atau interaksi anatar individu menjadi tidak penting. (2), Beriuk Tinjal yang nyaris punah disebabkan pula oleh tak ada cinta dan usaha membangunnya dengan hubungan intim dalam format Melagak Lekong Belah. Akibatnya suasana Sopok Angen yang dibutuhkan dalam membangun Beriuk Tinjal gagal dihadirkan. Atas dasar isyarat ini, maka untuk membumikan semarak sekaligus melangitkan kembali citra Beriuk Tinjal, kita harus memastikan agar Melagak Lekong Belah dan suasana Sopok Angen harus hidup dan dinamis secara massif sebagai suatu keluhuran sepanjang masa. Solusi ini senafas dengan firman Alloh pada QS al-Hujarat Ayat 13 dan al-Ma’idah Ayat 8. 

Memastikan hadirnya Melagak Lekong Belah dan suasana Sopok Angen ternyata tidak sekedar mendaur ulang Beriuk Tinjal yang melemah, tetapi menjadi penjaminan terbuka lebarnya peluang peradaban untuk laju terpacu maju. Argumentasi ini sangat fundamental karena Beriuk Tinjal atau gotong royong merupakan mesin pemusnah apatisme yang menjadi perintang utama sebuah peradaban.  Ada banyak ahli yang telah meneliti interkoneksi dan korelasi gotong royong atau beriuk tinjal dengan kemunculan sebuah peradaban. Beberapa di antaranya adalah Kuntjoroningrat dan Prof Arsyad. Untuk mendapat gambaran yang jelas tentang penelitian para ahli tersebut, berikut ini disajikan esensi produk research mereka.

Kuntjoroningrat memandang peradaban sebagai perkembangan kebudayaan sampai suatu tingkat tertentu yang tecermin dalam kualitas intelektual, seni, teknologi, dan spiritual sebuah bangsa. Inklusif dalam pandangan ini sebuah tausiyah bahwa membangun peradaban bukanlah hal mudah. Butuh waktu puluhan bahkan ratusan tahun. Lain dari itu, membidani peradaban sangat membutuhkan kerjasama, kerja keras dan kesabaran.  Kuntjoroningrat benar, apalagi setelah diperkuat oleh Prof Arsyad melalui otoritas ilmuahnya yang menguraikan bahwa sepanjang umur dunia hingga sekarang, manusia baru sampai tahap 3, dari 4 tahapan peradaban yang harus dilewati: yaitu agraris, industry, informasi, dan respiritualisasi. Uraian ini adalah isyarat agar kita giat merawat bahkan menumbuh-suburkan peradaban. Sementara itu, untuk memberi ruang bagi keberlangsungannya, peradaban membutuhkan kepedulian yang serius dan jauh dari apatisme. 

Apatisme setara dengan sikap masa bodoh, tidak peduli, dan acuh tak acuh. Dalam psikologi, apatisme adalah sikap cuek, acuh tak acuh, atau tidak tanggap terhadap aspek emosional, sosial, dan kehidupan.  Dalam aspek emosi, apatisme mematikan cinta. Pada ruang sosial, apatisme menutup peluang berbagi. Sementara dalam dimensi kehidupan, apatisme membunuh karakter humanity. Seorang ahli menegaskan, “ Penyakit, musibah, dan perang, barangkali memang bisa membunuh jutaan orang, tetapi apatisme, selalu berhasil menghancurkan ratusan tahun peradaban.” Maka common enemy peradaban adalah apatisme sebagai extra ordinary crime dan mesin pemusnah yang sangat kejam. 

Sebagai musuh bersama peradaban, apatisme tentu wajib ditundukkan. Dapat dipastikan, bahwa menundukkan apatisme tidaklah mudah. Perlu system dan startegi yang andal. Salah satu alternasinya adalah thoriqoh yang ditunjukkan oleh grand theory “cultural determinism.” Petunjuk dalam teori ini mengungkapkan bahwa: “Segala yang terdapat pada manusia, ada dan ditentukan oleh budayanya.” Berdasarkan teori ini, kita memerlukan sebuah budaya kuat dan potensial menaklukkan apatisme. Sementara itu ciri budaya yang paling kuat dan potensial untuk menaklukkan apatisme adalah yang paling kontra-versial dengan apatisme itu sendiri. Argumentasinya adalah bila budaya yang kontra-versial menguat, apatisme dengan sendirinya akan sekarat Sedangkan budaya dengan ciri yang diuraikan tedahulu adalah Beriuk Tinjal atau gotong-royong yang terbangun karena berseminya cinta dan kecintaan, kuatnya kepedulian untuk berbagi, dan hangatnya performance sikap kemanusiaan atau humanity.  Maka dengan demikian tak perlu debatable. Beriuk Tinjal adalah berkah yang luhur dan wajib dilestarikan sebagai pemacu gerak lurus peradaban yang akan menjadi  landasan pacu kendara manusia untuk mengudara menyebar fungsi-fungsinya. Wallahu’alamu.

* Pemerhati budaya Sasak, dosen IAIH NW Pancor dan tenaga pendidik di SMAN 2 Selong.

Posting Komentar

0 Komentar