728x90

ad

Hebat! Kain Tenun Pringgasela Tembus Pasar Dunia

KAYA MOTIF: Kain tenun khas Pringgasela dikenal dunia internasional lantaran memiliki kekayaan motif luar biasa.


SELONG-- Kain tenun Pringgasela, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur sudah sangat tersohor. Kain tenun di daerah ini sudah mampu mengembangkan berbagai corak warna dan motif. 

Belakangan di Pringgasela, warga tidak saja mengembangkan kain tenun. Namun, ada juga berbagai aksesioris lainnya. Seperti sepatu, tas, dompet, dan sebagainya.

Pemilik Santosa Sasak Tenun, Maliki mengungkapkan, kain tenun ini sudah banyak pesanan dari macanegara. Salah satu pesanan itu datang dari Amerika Serikat. 

"Saya kasih pasaran harga lokal. Dari harga Rp 250 ribu sampai Rp 650 ribu," ucap Miliki, kepada JEJAK LOMBOK, Selasa (24/11).

Dia membeberkan, sampai saat ini telah membuat berbagai macam motif. Beberapa diantaranya yakni Sendawa, Sri Menganti, Pucuk Rebong, Ragis Kurdi atau Dodot, Dulang Emas, dan masih banyak yang lainnya.

Kendati demikian, ia mengaku masih banyak motif yang belum terpublikasi seperti Kembang Renyem, Sisok Mas, Pancor Boros, dan Lempot. Semua motif itu disebutnya merupakan warisan leluhur.

Dia menjelaskan, pembentukan motif tak dapat dibuat sembarangan. Lantaran memiliki sarat akan nilai filosofis.

"Makanya leluhur kami dulu tidak bisa buat motif dan kain sembarangan. Harus jelas kegunaannya, siapa yang akan menggunakan, dan dalam ritual adat apa," bebernya.

Pemdua Pelopor Tahun 2011 ini menjelaskan, motif baru yang ia buat itu sudah masuk dalam dunia fesyen. Sehingga motif tersebut banyak ditemukan diberbagai jenis kain.

Menurutnya, ada tiga motif yang paling disukai dalam dunia fesyen yakni Sendawa, Sri Menanti, dan Abayan. Ketiga motif ini disukai baik pelanggan lokal maupun mancanegara.

Di lain sisi, lanjutnya, warna juga sangat mempengaruhi ketertarikan pelanggan. Yang paling disukai konsumen yakni terutama warna alam.

"Warna alam ini yang paling disukai, dan kita buat sendiri warnanya melalui warna kulit kayu, dedaunan, akar dan lainnya," terangnya.

Ia mengakui, pembuatan kain tenun itu masih menggunakan alat tradisional. Yakni mengandalkan alat jajak atau tenun gedogan. Bentuknya persegi panjang dan menghasilkan kain 4 meter dengan lebar 60 centimeter.

Lantaran itu, dalam satu hari ia hanya dapat membentuk satu hasta benang menjadi beberapa motif saja. Proses pembuatan kain terbilang cukup lama.

Dia mengatakan, tak hanya sistem pembuatan yang tradisional. Namun juga pemasaran. Sebab, ia belum pernah meekspor secara lansung melainkan pembeli dari mencanegara datang lansung ke tempatnya.

"Sebelum covid dalam sebulan Rp 30 sampai Rp 45 juta. Namun sekarang hanya paling hanya Rp 10 juta omzet yang masuk," tandasnya. (sy)

Posting Komentar

0 Komentar