Jejak Terkini

Anak-anak Muda Pelopor Pariwisata (2)

Didik Kurniawan, Hanya Lulus SMK Jadi Pemandu Gunung Terbaik

Didik Kurniawan

SELONG
--Wajah langit masih tampak murung diselimuti mendung. Hujan yang baru saja reda menyisakan rimis tipis siang itu.

Di pinggir jalan, tepatnya di dekat pertigaan depan masjid jalan Desa Sapit, Kecamatan Suela Lombok Timur berdiri sebuah kedai kopi sederhana. Di depan warung itu, berjejer beberapa meja kayu dilengkapi kursi.

Di sanalah beberapa anak muda biasa terlibat diskusi. Di sana pula tempat para pemuda desa itu biasa menunggu tamu.

Di antara sela diskusi para pemuda itu, menyeruak aroma racikan kopi si pemilik kedai. Ada beragam jenis racikan kopi yang bisa ditemui di kedai sederhana itu. Mulai dari racikan kopi lokal hingga racikan kopi luar.

Satu dari pemuda yang tengah berdiskusi itu adalah Didik Kurniawan. Mengenakan jaket biru dongker dengan perawakan cungkring, sosok ini menjadi salah satu sosok yang menonjol dari yang lainnya.

Semangatnya tampak dari pikiran-pikiran yang dilontarkan. Gagasa dan ide-idenya juga menarik.

Didik, begitulah ia akrab disapa. Pemuda kelahiran Dusun Montong Kemong, Desa Sapit itu tercatat sebagai salah satu dari 180 orang di Indonesia yang tercatat sebagai pemandu gunung tersertifikasi.

Di tangan dingin pria kelahiran 31 Desember 1996 itu, beberapa destinasi wisata di Desa Sapit mendadak tersohor. Destinasi itu belakangan sudah terkenal.

Pria 24 tahun lulusan SMKN 1 Sakra ini, selain terlibat dalam urusan situs peninggalan nenek moyang setempat, ia juga salah satu pelaku wisata yang tersohor. Bahkan dia menjadi pemandu gunung terbaik di Indonesia yang ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata.

Dari penuturannya diketahui sejarah masuknya pariwisata di NTB. Tahun 90-an misalnya, tak hanya Senggigi Lombok Barat yang terkenal. Namun juga Sapit sebagai salah satu desa wisata pertama di Lombok Timur selain Lendang Nangka dan Tete Batu.

Tahun 1993 sampai 97, tuturnya, Sapit ramai dikunjungi wisatawan terutama asing. Pada tahun itu desa ini masih belum banyak dihuni oleh perumahan warga.

Tak heran penampakan desa itu eksotis. Mata akan dimanjakan dengan pemandangan sawah terasering sepanjang jalan.

Bagi wisatawan mancanegara, datang ke tempat tersebut hanya untuk melihat sunset (matahari terbit). Pengunjung luar negeri itu berdatangan jam 3 pagi, hanya untuk menikmati matahari terbit dan sarapan di atas terasering.

Di rentang waktu itu, jelasnya, pendaki Gunung Rinjani atau yang ingin ke Sembalun, harus berangkat dari Sapit menulusuri jalan yang saat ini menjadi jalan raya. Maklum, di tahun itu, akses jalan dari Sapit ke Sembalun belum dibuka.

Sesampainya di bawah Pusuk, pendaki kemudian mengambil jalan setapak. Jalan inipun masih kerap dilalui para orang tua di desa itu.

Tersohornya Desa Sapit rupanya dalam sekejap mata tiba-tiba berubah menjadi sepi pengunjung. Peristiwa itu bermula sejak tragedi bom Bali.

"Dari itu Sapit mulai sepi, dan baru tahun 2016 baru bangkit lagi," ucapnya kepada JEJAK LOMBOK, Senin (2/11).

Anak pertama dari dua bersaudara ini menceritakan, awal ia tertarik sebagai pendaki gunung tak hanya karena faktor kesejarahan wisata Desa Sapit. Namun lebih pada rasa penasaran ingin melihat langsung dan merasakan suasana gunung.

Alumnus jurusan multimedia ini mengatakan, selepas sekolah tepatnya tahun 2016 lalu, ia mengobati rasa penasarannya tersebut. Ia pun mendaki bukit-bukit yang berada di dekat rumahnya.

Di tahun itu pula ia terlibat membangun beberpa tempat wisata yang ada di desa itu. Ia terlibat membangun Sawah Cafe, Air Terjun Dara Ilo, Dara Bajur, Air Terjun Alap-alap, Pal Jepang, dan yang terbaru Bukit Rantok. 

Berkat kegigihannya, di tahun 2017 Didik mendaftarkan diri sebagai peserta pemandu gunung yang diselenggarakan Asosiasi Pemandu Gunung dengan bekerjasama dengan kementrian terkait.

"Dari ribuan peserta yang mendaftar hanya beberapa orang saja yang dinyatakan lulus. Alhamdulillah salah satunya saya," ujarnya.

Di tahun yang sama, ia kemudian bergabung dengan Satgas Rinjani Bersih yang di SK-kan langsung oleh Gubenur NTB, Dr Zainul Majdi MA kala itu. Terbentuknya Satgas ini lantaran Pemprov NTB mendapat teguran langsung Geopark Global lantaran Gunung Rinjani sangat kotor.

Tugas dari satgas itu, sebutnya, hanya untuk membersihkan sampah yang ada digunung.

"Waktu itu sangat melelahkan, naiknya ringan turunnya berat sebab tas berisi tumpukan sampah," ujarnya.

Membuka Destinasi Pal Jepang


Setelah itu, 2018 lalu muncul bencana alam gempa bumi. Kondisi ini memaksanya harus beristirahat mengambil jeda. Hingga di akhir 2019, ia kemudian membuka jalur pendakian ke Pal Jepang dengan Pokdarwis setempat. Baru di tahun 2020 diluncurkan dan dibuka untuk umum.

Destinasi wisata Pal Jepang terbilang sukses. Baru beberapa bulan dibuka, pengunjungnya sudah hampir ribuan. Saking banyak pengunjung, tenaga yang dibutuhkan semakin banyak.

Dia mengtakan, ratusan lebih pemuda yang menjadi pemandu tamu. Setiap harinya ada enam orang yang bekerja. Begitu juga dengan malam harinya.

"Sehari makanya di sini perputran uang cukup signifikan. Alhamdulillah bisa menikmati hobi sambil bekerja," ujarnya.

Mengingat musim penghujan sudah mulai tiba, jelasnya, bukan tidak mungkin pendakian bakal segera ditutup. Langkah ini diambil untuk mengurangi risiko angka kecelakaan.

Sembari pendakian menunggu pendakian segera dibuka, ia kini tengah mempersiapkan destinasi baru yakni Bukti Rantok. Rencananya tahun 2021 akan dibuka. 

"Bukit ini lebih soft. Track-nya cocok untuk liburan keluarga," ucapnya.

Ia juga menceritakan suka suka selama menjadi pemandu gunung. Baginya, menjadi pemandu gunung tak melulu akan menemukan hal-hal yang menyenangkan. Terkadang harus rela saling bentak untuk menjaga keamanan tamu.

Selain itu, tak jarang di atas gunung menemukan suasana alam yang menyeramkan. Mulai dari badai, kabut, angin besar dan lain sebagainya.

"Bahkan saya pernah nangis dulu, saking lelahnya," ujarnya.

Untuk itu peralatan yang digunakan harus sesuai denan standar pendakian. Bagi pendaki alat yang dipakai sampai puluhan juta mulai dari sepatu, tas punggung, celana, jaket, sleeping bad dan alat lainnya.

"Jadi pendaki itu hobi yang sangat mahal, sekali naik dari alat saja sampai puluhan juta harganya," ujarnya.

Ia berpesan menjadi pendaki bukan hanya sekedar hobi belaka. Tapi, harus berperan sebagai orang yang menjaga kelestarian alam, terlebih pegunungan. (sy)

Bersambung....

Posting Komentar

0 Komentar