Elang Flores dan Celepuk di Zona Merah Kepunahan

DISKUSI: Diskusi melibatkan BTNGR dan WALHI mengemuka kondisi Celepuk dan Elang Flores dalam zona kepunahan.

MATARAM--Kampanye pelestarian flora dan fauna di kawasan Gunung Rinjani menetapkan dua jenis satwa endemik yang harus dijaga kelestariannya. Dua satwa itu yakni Elang Flores dan Celepuk Rinjani.

Kampanye yang digawangi Balai Taman Nasional Gunung Rinjani  (BTNGR) dan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) NTB di Taman Udayana Kota Mataram ini menyebut dua jenis satwa tersebut tidak saja endemik di Pulau Lombok. Tragisnya, dua satwa ini masuk dalam status zona merah kepunahan.

Staf Pengendalian Ekosistem Hutan (PEH) BTNGR, Budi Soesmardi mengatakan, dua satwa ini keberadaannya sudah langka. Oleh Uni Internasional Concervations of The Nature (UICN) disebutnya sudah lebih dulu menetapkan status kepunahan tersebut.

"Celepuk ini statusnya mendekati hampir punah. Untuk Elang Flores kondisinya lebih memprihatinkan, statusnya hampir punah," ucapnya, Selasa (18/8).

Khusus soal celepuk, karena status kepunahan yang disandang, pihaknya kini dalam perencanaan membuat penangkaran. Rencana ini nantinya dikerjasamakan bersama masyarakat dan komunitas-komunitas.

Melalui proses penelitian panjang, sambungnya, ekosistem Celepuk ini tidak saja di kawasan hutan primer. Satwa ini juga bisa hidup di hutan ekoton atau peralihan.

Data yang dimiliki pihaknya menyebutkan, terdapat sebanyak 245 ekor pada rentang April hingga September di 2019. Jumlah ini ditemukan di kawasan hutan Kembang Kuning Lombok Timur.

"Sementara di Senaru di rentang waktu yang sama, jumlahnya sekitar 14-18 ekor," jelasnya.

Selain Celepuk, ia juga mengulas panjang lebar terkait status Elang Flores. Jenis elang yang satu ini disebutnya memiliki nasib lebih tragis. Ini karena populasinya jauh lebih sedikit dibanding dengan Celepuk.

Betapa tidak. Data terbaru yang dimiliki pihaknya, tidak lebih dari 10 ekor Elang Flores yang mampu diidentifikasi.

Kondisi ini semakin miris dengan kemampuan produksi satwa tersebut. Dalam setahun, Elang Flores hanya bisa bertelur dua kali. Belum lagi jumlah telurnya yang minim.

"jumlah telurnya dalam sekali bertelur hanya dua. Belum lagi ketika nanti anak elang ini belajar terbang, kerap mangsa satwa lainnya," ucapnya.

Sejauh ini, oleh TNGR telah menetapkan dua site untuk identifikasi Elang Flores. Dua site ini berada di Senaru dan Sembalun.

Budi menjelaskan, biasanya tempat bertelur Elang Flores berada di tebing-tebing yang tinggi. Tepat bertelur ini disebutnya demi menjaga keberlangsungan dan keselamatan telurnya.

Kasus terbaru Elang Flores, jelasnya, di Sajang, Kecamatan Sembalun Lombok Timur, pihaknya menemukan bangkai elang tersebut. Bangkai itu ditemukan di sekitar air terjun Mangku Sakti.

Elang dengan radius terbang sekitar 7,5 kilometer ini disebutnya memiliki ciri khas. Di bagian depan tubuh hingga kepala, bulunya berwarna putih dengan jambul di belakang. Sementara di bagian belakang, bulu yang tumbuh berwarna hitam.

Terhadap kelangsungan hidup dua satwa ini, Direktur WALHI NTB, Murdani mengatakan, dibutuhkan ekosistem yang ramah. Mengingat sejauh ini kepunahan satwa tersebut sebagian besar disebabkan perburuan liar.

Sepanjang 125 ribu hektar hutan kawasan Rinjani, disebutnya belum sepenuhnya ramah dengan dua satwa tersebut. Begitu juga dengan satwa yang lain.

"Keramahan terhadap satwa ini penting agar kelangsungan hidup mereka terjaga. Baik di lingkar hutan maupun di hilir," tegasnya. (jl)





Posting Komentar

0 Komentar