728x90

ad

REPOK PAPUQ ALOK

Oleh Dr. Jamiluddin, M.Pd

(Membidik Ending Spiritual-Teologis Masyaakat Sasak)


MENAPAKI jalan peruntungan memerlukan perhitungan. Jangankan meretas, menjejak nafak tilas para pelopor pun perlu “tahtit” (perencanaan). Adalah sebuah kepastian bahwa kelak di zona tertentu akan ada persimpangan. Kalau tidak ambigu, akan mengemuka keniscayaan memilih satu di antara sekian arah pada persimpangan tersebut. Bayangkan jika sebelumnya abai melakukan prepare. Mungkin akan seperti orang asing yang tolol. Bertanya nggak, berijtihad pun enggan. Akhirnya berjalan terseok tak menentu sambil menunggu saatnya tiba kesesatan tiada berujung.

Persiapan atau prepare mensifati api. Bila gelap ia laksana pelita. Jika alam bermandikan cahaya, maka ia masuk ke tungku-tungku dapur para bunda dan pamektuper (perapian) para patriot atau pandai besi. Apabila maya-pada menggigil, ia mulai memanas melelehkan butiran-butiran beku yang dingin. Bila serangan datang, lidahnya pun menyambar sekuat, bahkan mungkin melebihi “aji segoro geni”.  Namun bila terjadi kebakaran yang mengancam keselamatan, ia siap mati terguyur tirta ayu (air suci).

Sedemikian strategisnya sebuah perhitungan atau prepare, Akhirnya ia menjadi ritual wajib dalam setiap agenda kerja, termasuk bagi para professional, sufi, dan tokoh-tokoh legendaris yang termashur. Demikian pula yang dilakukan para leluhur bangsa nusantara untuk memecah kejumudan dalam ikhtiyar jadid dan metajadid peradaban bangsanya. Misalnya tokoh leluhur legendaries Nusantara sang Maha Patih Amangkubhumi Gajah Mada yang legowo memilih jalan spiritual diakhir hayatnya..

Adalah sebuah alasan tesendri bagi penulis untuk menyebut sang Maha Patih Amangkubhumi Gajah Mada sebagai contoh. Pertama, karena pembacaan yang dilakukan penulis dalam artikel ini adalah aspek nilai-nilai cultural dan spiritual.  Kedua, artikel ini meliputi usaha mengurai reason (alasan) menyepi, sebagaimana yang dilakukan sang Maha Patih Amangkubhumi Gajah Mada. Ketiga, karena locus peristiwa cultural dan spiritual yang penulis ambil adalah Bumi Sasak sebagai salah satu locus implementasi Sumpah Palapa sang Maha Patih Amangkubhumi Gajah Mada.

Ketika mengalami kejumudan pasca Perang Bubat pada tahun 1279 Saka atau 1357 Masehi, sang Maha Patih Amangkubhumi Gajah Mada memilih untuk meninggalkan segala bentuk hiruk-pikuk pementasan di panggung politik pemerintahan Maja Pahit. Dia mengasingkan diri disuatu tempat, sekaligus memutuskan untuk menekuni dunia pertapaan.  Peristiwa mengasingkan diri dalam nalar Sasak disebut “berepok” yang berasal dari kata “repok”.  Inilah sesungguhnya yang menjadi focus ulasan penulis. Kalaupun pada tema di atas dipilih diksi “Repok Papuk Alok”, sesungguhnya itu semua menjadi upaya “penegasan” bahwa pelaku  “berepok” cenderung dari golongan papuk (nenek) dan balok/alok (kakek).

Dalam nalar Sasak, selain bermakna tempat mengasingkan diri, “repok” juga diartikan dengan keadaan tak berdaya atau lumpuh secara fisik, ekonomi, dan spiritual. Keadaan ini sangat pahit bagi setiap oang yang mengalaminya. Dalam pandangan apa pun, orang yang “repok” sangat membutuhkan pertolongan yang serius. Jika tidak, maka penderita “repok” akan semakin tetekan dan sakit serta sangat berpeluang untuk meregang nyawa dalam keadaan yang memperihatinkan.

Repok dalam daftar perbendaharaan kata (vocab) Bahasa Indonesia, diartikan setara dengan kata  satu sampai sebanyak-banyaknya empat pondok disebuah hutan, sawah, atau kebun, yang jauh dari pemukiman masyarakat. Berdasarkan sifatnya, repok itu tempat sepi yang dihuni oleh seseorang atau satu keluarga inti. Dapat pula dikatakan bahwa repok tersebut berfungsi sebagai tempat yang sengaja dihuni untuk menghadirkan suasana yang mendukung tingkat pemusatan pikiran atau konsentasi. Bila dibedah lebih jauh, maka fungsi “berepok” dapat mengkerucut sebagai usaha pemulihan keadaan.

Dengan demikian, maka berdasarkan sifat dalam maknanya tersebut, repok sebagai suatu tempat, sengaja dibuat untuk hunian dengan maksud tertentu. Bila dibandingkan dengan makna menurut nalar Sasak sebagaimna uraian di atas, maka makna repok, memiliki hubungan kesepadanan dengan arti yang diuraikan dalam Bahasa Indonesia, yaitu sebagai tempat pemulihan, pengasingan, atau menyepi.

Dalam kultur Sunda, “repok” merupakan sebuah ritual dalam melanggengkan sebuah hubungan, khususnya dalam bangunan keluarga. Ritual “repok” di Sunda, terkait dengan perilaku komunikasi dengan maqoshid membangun harmoni dalam rumah tangga. “Repok” dalam nalar Sunda terdiri atas dua suku kata, yaitu Rep dan Pok. Rep berarti diam (silent) dan Pok berarti bicara (speak). Dengan demikian “repok” dalam nalar Sunda diartikan sebagai perbuatan “diam untuk mendengarkan lawan bicara”.  Dalam konteks membangun harmoni suami isteri, termasuk pasangan pengantin,  setiap pasangan diharapkan dapat diam-menyimak pasangannya dengan baik (sami’na) dan setelah pasangannya benar-benar tuntas menyampaikan ide, pesan, atau maksudnya, barulah pasangan lainnya berbicara untuk memberikan respon. Secara spiritual, diam-menyimak dengan baik atau sami’na adalah sebuah kesungguhan memperhatikan (attending) yang melibatkan kekuatan batin sehingga menghadirkan keberterimaan. Makna  spiritual “repok” dalam nalar Sunda ini sangat congruence dengan maksud berepok yang dipraktekan oleh masyarakat Sasak.

Perilaku “berepok” pada kenyataannya tidak selalu dilakukan oleh orang yang berlumur salah dan dosa. Di antara masyarakat Sasak yang melakukan effort (ikhtiyar) “berepok”, lebih banyak dari golongan orang yang mencoba “mencukupkan” (mengisti’malkan) penghambaannya. Dengan demikian, “berepok”  adalah usaha (effort) seseorang melakukan persiapan (prepare), sebelum kembali memenuhi panggilan Alloh SWT. Dalam perkembangannya, perilaku “berepok” mengalami perluasan wujud, yaitu berupa adanya persiapan fisik (physical prepare) sebelum melakukan ritual penghambaan. Contoh physical prepare tersebut adalah bertani, berladang, atau berkebun di pagi hari dan di saat malam, atau waktu-waktu tertentu, mereka mulai berdialog dengan Penciptanya.

Perspektif tugas perkembangan menggaris-bawahi perilaku “berepok” ini sebagai sesuatu yang niscaya. Perilaku ini dilakukan sebagai akhir dari tugas perkembangan yang mengarah pada persiapan seseorang menghadapi kematiannya. Sementara itu, dalam pandangan tasawuf,  perilaku “berepok” ini setara dengan tahap pengasingan diri para sufi dari seluruh rangkaian kesibukan material;-keduniaan. Bagi para sufi, perilaku “berepok” ini menjadi upaya mensunyikan diri dari urusan duniawi dan sekaligus meramekan “percintaan-nya” dengan Tuhan.

Bagi para sufi,  perilaku “berepok” tidak hanya bermakna menyepi secara materil atau harus berhijrah ke tempat-tempat yang jauh dan terisolasi. Bagi para sufi, perilaku “berepok” lebih pada makna spiritual-teologis, yaitu sebuah usaha memperkecil sampai takaran sekecil-kecilnya potensi-potensi keterlibatan pada urusan keduniaan, khususnya kemaksiatan yang berpeluang menghadirkan perasaan hubbud dunia (cinta dunia). Hal ini dipandang terlalu beresiko, utamanya dapat  memperlebar jarak antara mereka dengan Alloh sang Maha Rahman. Dalam tradisi para sufi, perilaku “berepok” ini setara dengan “uzlah”.

Islam sendiri memandang subtansi perilaku “berepok” sebagai sesuatu kepatutan sekaligus kepatuhan dan ketaatan. perilaku “berepok” menjadi patut karena merupakan pendekatan seorang hamba kepada Yang Maha Agung. perilaku “berepok” menjadi kepatuhan dan ketaatan karena perilaku ini adalah refleksi sekaligus implementasi persaksian dan janji hamba kepada Alloh Taala. Semua ini dijelaskan dalam QS. Al-A’raf Ayat 172, yaitu: “ketika ’ruh” dibenamkan pada waktu penciptaannya sebagai  keturunan Adam dari sulbhi mereka sendiri dan memerintahkannya untuk bersaksi, “Bukankah Aku Tuhan-mu?”, lalu mereka menjawab, “Ya kami bersaksi.” Jadi siapa pun yang melakukannya, Islam berkeyakinan bahwa “berepok” tersebut sebagai pengejawanyahan keyakinan terhadap keberadaan Alloh Ta’ala Yang Maha Agung dan telah dipersaksikan sejak awal penciptaan mereka.

Perilaku “berepok” dengan makna usaha memfasilitasi terwujudnya pendekatan kepada Pencipta untuk mencairkan seluruh kejumudan, dibenrakan pula oleh sebuah grand theory tentang “Era Pradaban” yang menegaskan bahwa: “Respiritualisasi” adalah ending dari perjalanan hidup manusia.  Dalam teori besar ini ditegakan bahwa “Setelah manusia melewati sejumlah tahapan dalam “Era Peradaban”, seperti: 1). Era primitip yang terdiri atas, berburu, meramu, bertani, dan undagi (spesialisasi, 2). Era Industri yang meliputi pengolahan hasil pertanian, perikanan, dll, 3). Era Informasi, seperti era industry 4.0 dan 5.0, akan terjadi perubahan pemikiran untuk menciptakan nilai baru yang dimotori oleh kekuatan dari “ruh” manusia dengan gelombang pergerakan yang menguatkan mahabbah ( cinta-kasih) kepada Alloh SWT. Inti teori ini seperti menukil firman Alloh Ta’ala di atas dengan satu quote , yakni “ Shift mind set Co-creating new value authority from within”   

Kiranya inilah makna-makan tersirat dari kultur “berepok” yang telaah diwariskan oleh nenek moyang  kita. Agung dan dalam framing rasa ketuhanan yang maha kental. Sayang beribu sayang, tidak setiap bangsa Sasak yang mengenal khazanah budayanya dengan baik. Penulis mengajak, mulailah bercinta dengan kekayaan nilai-nilia agung peninggalan pendahulu kita. Bangsa yang baik adalah bangsa yang mengenal dan lapang dada  mengkristalisasi nilai budaya bangsanya.  Wallhu’alamu.

*Penulis adalah Sekretaris Lajnah Kaderisasi PBNW. Dosen IAIH NW Pancor,
 dan Tenaga pendidik Di SMA NW Pancor.

Posting Komentar

0 Komentar