Iklan

terkini

Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta

Jejak Lombok
Kamis, 10 Februari 2022, Kamis, Februari 10, 2022 WIB Last Updated 2022-02-10T04:41:29Z

 

Oleh Saepul Akhkam 

Sebuah Resensi Buku

Riset luar biasa hebat, baik dari segi konten maupun metodologi, dihadirkan oleh Robert Cribb untuk menyodorkan fakta peran para preman di era Perang Kemerdekaan. Dengan Judul "Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949", Cribb sukses menuturkan sindikasi para pejuang, baik secara politik maupun di era awal ketentaraan (BKR: Badan Keamanan Rakyat) dengan para jagoan atau preman yang awalnya sangat kuat dengan tradisi kriminalitas. Sindikasi tersebut bermuara pada kesadaran kolektif untuk kemerdekaan Republik Indonesia. Sebutan preman, bahkan dengan sangat kasar Cribb menyebutnya para bandit, ternyata memiliki peran yang sangat signifikan dalam memuwujudkan nasionalisme dan patriotisme. Disertasi doktoral di School of Oriental and Africa Studies University of London ini memetakan peran para bandit tersebut bahkan sejak era Singosari. "Ken Arok, pendiri Singosari, dahulunya adalah seorang penyamun", tulis Cribb di awal pendahuluan buku ini.

Secara historis, tumbuh kembang kekuasaan pun tidak lantas luruh dalam  menempatkan kaum bandit. Para bandit, dengan segala kekuatan dan daya destruksinya secara sosial di satu sisi dan penguasa yang bertugas menghadirkan keamanan di sisi yang lain, akhir melahirkan koalisi dengan banyaknya para ketua atau kepala bandit diangkat menjadi kepala wilayah.

Dengan pendekatan sosio dan bahkan antropo historis, riset Cribb membawa para pembaca kepada kondisi dunia hitam yang ada di Batavia dan bagaimana koalisi pertama yang terbangun adalah antara para bandit-kompeni- tuan tanah. Kompeni berkepentingan secara politis, tuan tanah berkepentingan secara ekonomi, dan di tengah-tengah mereka adalah para bandit yang mengambil peran ambigu. Sesekali menjadi pengganggu keamanan (bahasa Belanda: rampokker), dan kemudian bila tertangkap beralih menjadi penjaga keamanan (ini juga sama dengan fenomena para centeng untuk para tuan tanah dan administratur Belanda).

Ketika era fasisme Jepang masuk ke Indonesia, Cribb mencatatnya sebagai fase "tak tercatat" hanya karena proses koorporasi antara Pemerintah Jepang dengan para tokoh nasional yang dimotori oleh Soekarno yang tidak banyak melibatkan kekuatan dunia hitam sebagai basis sosial massa. Namun Cribb masih mencatat eksistensi para bandit yang menginfiltrasi kekuasaan. Bubar (nama seorang bandit) bahkan memproklamirkan diri sebagai bupati di Karawang, H. Masum di Cilincing, atau H. Eman di Teluk Pucung yang mengambil alih kontrol perkebunan, atau H. Darip yang menciptakan institusi kekuasaan "juragan besar" di wilayah Klender.

Di era pembentukan BKR lah, para bandit menunjukkan urgensinya. Angkatan Pemuda Indonesia (API) sebagai unit penting BKR adalah organisasi penting yang paling banyak menarik pengikut, terutama dari kalangan pemuda nasionalis yang kurang berpendidikan. Dari sanalah para bandit menjadi bagian yang tidak terpisahkan sebagai anasir BKR. Cribb mencatat, "Dunia Hitam Jakarta adalah elemen alamiah para pengikut API. Kontak para pimpinan API telah membuka hubungan pribadi dengan para pemimpin dunia hitam"

Seiring metamorfosa BKR menjadi Tentara Profesional (TKR) yang berdampak pada dinamika munculnya para laskar, lahirlah berbagai resimen dalam ketentaraan Indonesia saat itu. Selain terkonsentrasi pada aspek keterampilan ketentaraan di semua resimen, aspek ekonomi ikut menyulut pergulatan konseptual TKR. Dalam konteks itulah, koalisi para (eks) bandit dengan kekuasaan formal (tokoh politik sipil dan tentara) semakin berjarak. Terutama saat agresi militer dan perubahan angin revolusioner, beberapa tokoh para bandit pun menyeberang ke pihak Belanda. Cribb mencatat nama-nama seperti Panji, Fakhruddin, Harun Umar, dan Sujono yang awalnya adalah TKR menyeberang menjadi unit pasukan lokal Belanda.

Di akhir bukunya, Cribb memberi informasi historis tentang tokoh-tokoh dunia hitam yang masih beredar kabar kiprahnya bahkan pasca Agresi Militer ke-2. Mereka ada yang kembali ke tengah masyarakat sebagai masyarakat biasa, ada yang tetap berkiprah di tentara, bahkan ada yang tetap menjalankan institusi paramiliter mereka sampai kemudian pemerintah tegas membubarkan semua jenis laskar.

Selamat membaca!!!

*Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Lombok Barat

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta

Terkini

Iklan