Jejak Terkini

Ritual Bubur Putiq, Pengingat Awal Penciptaan Manusia

BUBUR PUTIQ: Kalangan ibu-ibu di Desa Songak tengah membuat bubur putih sebelum prosesi ritual dilaksanakan.

SELONG
-- Ritual Bubur Putiq merupakan sebuah prosesi tradisi dalam masyarakat suku Sasak di Pulau Lombok. Ritual ini biasanya bisa dijumpai antara tanggal 1 hingga 10 Muharram dalam kabisat penanggalan Islam.

Ritual tradisi ini masih bisa dijumpai hingga sekarang. Salah satu lokasi tempat menjumpai ritual ini yakni di Desa Songak, Kecamatan Sakra, Lombok Timur.

Tokoh Budayawan Desa Songak, Murdiyah, kepada JEJAK LOMBOK mengatakan, dalam ajaran agama Islam, sepuluh hari bulan Muharam memiliki banyak keutamaan. Yakni berpuasa, menyantuni anak yatim, dan hal lainnya.

Dalam pandangan budaya, jelasnya, terdapat ritual yang kerap kali memedomani tuntunan ajaran Islam. Sebagian warga di Lombok, bulan tersebut dijadikan sebagai salah satu tempat pelaksanaan ritual.

Seperti di Desa Songak misalnya. Ritual ini dimaknai mengingat awal mula asal manusia. Yakni terbentuk dari air mani.

"Hal ini dijelaskan dalam Alquran, salah satunya di surat At Thariq," jelasnya, Kamis (19/8).

Dalam ayat itu, paparnya, manusia diingatkan bahwa manusia tercipta dari air yang hina. Pedoman yang lain, yakni mengambil pelajaran dari kisah Nabi Nuh AS. 

Ia menceritakan, dalam berbagai sirah Nabi Nuh AS menyelamatkan umatnya dengan membuat kapal. Benda itu dibuat lantaran azab Allah akan turun berupa banjir yang sangat besar.

Seusai berlayar menggunakan kapal itu, Nabi Nuh beserta umatnya kehabisan bekal. Mereka menemukan makanan berupa umbi-umbian dan biji-bijian.

Namun demikian, jumlah makanan tersebut tak mencukupi dengan banyak umat yang selamat pada saat itu. Lantaran itu, Nabi membuat bubur agar semua dapat bagian.

Ritual bubur ini, kata dia, bahan dasarnya juga terbuat dari umbi-umbian dan biji-bijian. Dalam ilmu kesehatan, dari makanan jenis inilah air mani diciptakan.

"Dari situlah pondasi awalnya," katanya.

Ia menjelaskan, jika dulu semua bahannya terbuat dari umbi-umbian dan biji-bijian. Namun saat ini, lantaran keduanya sudah menipis maka kedua jenis bahan itu hanya menjadi syarat dan dicampur dengan tepung beras.

Dalam pandangan kebudayaan, kata dia, Muharam diibaratkan titik awal kelahiran Nabi Muhammad. Dalam bulan itu, Nabi masih dalam bentuk air mani yang terpancarkan ke dalam rahim.

Kemudian, bulan dua dalam kalender Islam yakni Safar. Di bulan ini nantinya akan dilaksanakan ritual Bubur Abang atau Bubur Beaq, yang berarti telah menjadi darah.

Lalu di bulan Rabi'ul Awal atau yang dikenal dengan Maulid. Di bulan ini lazim diketahui sebagai bulan kelahiran Nabi.

"Jadi dasarnya itu, agar kita ingat dari mana kita lahir. Kita lahir itu dari air mani yang dalam ayat Alquran disebut air hina," ucapnya.

Ia pun membeberkan alasan kenapa memperingati proses penciptaan. Ini agar manusia kita tidak sombong dan menjadi "tuhan" baru di bumi. (kin)

Posting Komentar

0 Komentar