Jejak Terkini

Ritual Nunas Neda, Cara Warga Desa Kesik Ucapkan Syukur

RITUAL: Beginilah pemandangan yang tampak dari salah satu rangkaian proses ritual Nunas Neda di Desa Kesik, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur.

SELONG
-- Pagi tadi, Senin (15/11), sekitar pukul 08.00 Wita, langit diliputi mendung. Awan hitam nan tebal nampak menggantung di langit.

Di jalan tak beraspal berkuran tiga kali empat meter itu, tampak tumpah ruah dipadati warga. Rata-rata mereka mengenakan pakaian adat lengkap. 

Sebagiannya memikul buah hasil pertanian. Ada juga yang membawa tempat makanan (dulang, red) lengkap dengan tudung yang terbuat dari bahan lontar.

Kegiatan itu biasanya dilaksanakan sekali setahun oleh masyarakat Desa Kesik, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur. Oleh warga setempat ritual itu disebut dengan ritual Nunas Neda.

"Nunas Neda merupakan acara rutinitas yang dilakukan Petani Desa Kesik mengungkapkan rasa syukurnya kehadirat Allah Swt atas hasil pertanian yang melimpah," kata tokoh pemuda setempat, Andre Kurniawan, kepada JEJAK LOMBOK.

Menurut pemuda plopor tahun 2019 bidang Budaya dan Bela Negara ini, ritual tersebut biasanya dilaksanakan saat musim penghujan tiba. Selain sebagai rasa syukur atas keberkahan hujan, juga ada harapan kepada Tuhan agar hasil pertanian di desa tersebut melimpah serta memiliki keberkahan.

Ia menjelaskan, pelaksanaan ritual ini sama seperti gelaran ritual pada umumnya. Yakni perlengkapannya berupa lekoq lekes (daun sirih yang diikat), pinang, tembakau, dan berbagai ketentuan lainnya yang menjadi syarat kegiatan tersebut.

Semua pirantinatau perlengkapan dan ritual itu, tuturnya, bukan tidak mungkin tanpa makna. Terlebih ritual ini sarat nilai budaya dan pesan moral.

Ritual itu biasanya oleh masyarakat setempat dilaksanakan usai panen hasil pertanian. Dalam pelaksanaannya dipimpin Kiyai Poteq sebutan untuk tetua desa itu.

Prosesi ritus itu, ucapnya, terlebih dahulu ditandai dengan ritual Nyaweq. Yaitu berupa pengambilan air di 5 sumur kecil di lokasi itu. Kelimanya, ujarnya, mata air di daerah tersebut.

"Dulangnya itu dibawa oleh 11 orang perempuan setempat," bebernya.

Meski demikian, ia tak menjelaskan maknanya secara rinci dari kegiatan tersebut.

Tahun ini, ritual tersebut dijadikan sebagai event tahunan oleh Pemdes setempat. Kegiatan itu dijadikan sebagai pembuka sebuah tempat wisata yakni, Kolam Tirta Ratu sekaligus untuk peletakan batu pertama destinasi wisata baru di lokasi itu.

Lokasi ini, menurutnya, akan menjadi obyek wisata andalan di desa itu. Terlebih lagi dengan pemandangannya yang begitu eksotis.

"Kita rangkaikan dengan Ritual Nunas Neda, supaya kolam ini mendapatkan berkah. Tentunya bagi ekonomu desa kami," pungkasnya. (kin)

Posting Komentar

0 Komentar