Jejak Terkini

Hilang Jejak Sejarah, Buku Ini Angkat Sisi Psikologi Tradisi Presean

PELUNCURAN: Buku Pepadu Sasak Perspektif Etnopsikologi saatbdiluncurkannoleh penulisnya, Mastur Sonsaka (tengah, Red) belum lama ini.

SELONG
— Tradisi Presean sebagai olahraga tradisional adu tangkas para pepadu (jagoan) nyaris tidak terdengar jejak sejarahnya. Tak ada sumber yang sahih terhadap ihwal mula kemunculan tradisi yang satu ini.

Dari mulut ke mulut tradisi bertutur masyarakat Pulau Lombok, olahraga ini muncul sebagai ekspresi masa lalu meminta hujan.

Hingga kini, melacak tinjauan akademis tulisan tentang sejarah peresean nharis taknada ulasan ilmiah. Namun dalam perkembangan olahraga yang satu ini sangat digandrungi oleh masyarakat setempat.

Setidaknya begitulah pengakuan penulis buku buku Pepadu Sasak Perspektif Etnopsikologi, Mastur Sonsaka. Buku ini yang ditulis ini secara khusus mengangkat tinjauan psikologi dalam tradisi yang satu ini.

Keberadaan karya ilmiah satu ini menambah khazanah pengetahuan tentang tradisi suku Sasak. Buku ini menjadi pertama yang membahas tentang tradisi peresean.

Namun demikian karya satu ini lebih mengambil sisi psikologi yang disebut sebagai ekspresi dari kegiatan tersebut.

Ia mengaku secara akademis sangat susah ditemukan ulasan tentang presean. Dari sisi sejarah misalnya, tak dapat ditemui dalam sebuah karya ilmiah. Penyebabnya belum ada yang berkonsentrasi ke arah itu.

“Maka salah satu caranya ialah menanyakannya ke pihak yang mengetahui tentang itu,” papar Mastur Sonsaka, kepada JEJAK LOMBOK, Selasa (2/11).

Pada fase pembentukan misalnya, banyak sekali anggapan mengenai awal mula lahirnya seni tradisional yang satu ini. Seperti adanya pendapat bahwa peresean muncul sebagai media untuk melatih para prajurit.

Yang paling banyak ditemukan anggapan ialah kegiatan ini menjadi sebuah ritual yang memiliki kekuatan mistis. Konon, seni satu ini sering dijadikan sebagai langkah mendatangkan hujan jika terjadi kemarau panjang.

Peristiwa semacam itu diungkapnya bukan tanpa dasar. Sebab diakuinya kejadian semacam itu pernah ia saksikan semasa masih kecil. Waktu itu, selepas presean hujan datang.

Jika ada darah yang tumpah, beber Mastur, akan ada hujan yang akan menyapunya. Ditambah lagi dengan berbagai mistik lainnya yang berkembang membuat keyakinan tentang hal itu semakin tertanam.

Di lain sisi, kata pria yang juga pengurus BPPD Lombok Timur ini, terjadinya keanehan dengan teori umum yang sering didapatinya dari bangku kuliah. 

Teori etiknya, jelasnya, ketika agresivitas tinggi maka kontrol diri pasti rendah. Namun demikian hal itu tak berlaku bagi seni tradisional satu ini. 

Bahkan, ia mengaku sempat kebingungan dengan saat melakukan penelitian. Sebab secara etik ilmunya berbeda dengan di lapangan.

“Anehnya pada pepadu ini tidak berlaku teori etik ini,” ujarnya.

Apalagi dibandingkan dengan beberapa olahraga yang bercorak mengandalkan agresivitas, semisal tinju. Menurutnya, sudah pasti berbeda dengan seni satu ini yang hanya sampai sebatas arena saja.

Lantaran itu, dirinya melihat ada peran lain yang dilakoni oleh para pemain. Pepadu memiliki agresivitas yang tinggi, pada saat yang sama memiliki kontrol diri yang sama pula.

“Makanya saya menggunakan etnopsikologis untuk mengurainya,” bebernya. 

Sementara itu, Prof. Dr. Adi Fadli, M.Ag, sebagai pembanding dalam buku itu mengapreasiasi lahirnya karya tersebut. Menurutnya, sampai saat ini kesejarahan di Pulau Lombok masih belum jelas. Semisal keberadaan masjid tua, ada beberapa versi mulai dari abad ke 7, 16,17 hingga 18.

Meski belum jelas, bebernya, harus dijelaskan pendapat-pendapat yang berbeda tersebut. Pendapag tersebut bersumber dari buku-buku induk atau otoritatif.

“Jika karya ini dibuat dengan data yang baik dan runut maka akan menjadi karya yang bagus,” ujarnya. (kin)

Posting Komentar

0 Komentar