Jejak Terkini

Pengakuan Taiger Trawan, Atlet Asal Sembalun Sabet Perunggu untuk Sulteng

Taiger Trawan

SELONG
-- Provinsi NTB tengah berbahagia berkat perolehan medali di perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX yang digelar di Papua.

Kebahagiaan ini tidak lepas dari suksesnya NTB mampu mengunci posisi kesembilan dalam di ajang olahraga empat tahunan itu. Sejauh ini, NTB sudah mendulang 14 emas, 10 perak dan 12 perunggu.

Namun dibalik kegembiraan bagi warga dan atlet NTB, ada cerita berbeda bagi Taiger Trawan. Pasalnya, olahragawan di cabang olahraga (cabor) Paralayang asal Desa Sembalun, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur tak mewakili NTB di ajang tersebut.

Atlet yang satu ini tercatat sebagai perwakilan Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) dalam perhelatan nasional tersebut. Lantaran itu dirinya harus puas, medali perunggu yang didapatinya dipersembahkan bukan untuk tanah kelahirannya.

"Yang pertama, memang cabor paralayang belum masuk di cabor KONI daerah maupun provinsi," kata Taiger Trawan, saat dihubungi aplikasi WhatsApp, Kamis (14/10).

Kedua, lanjutnya, dari pemerintah daerah (Pemda) hingga provinsi belum ada dukungan dan support untuk cabor yang digelutinya.

Padahal, terangnya, dari tahun 2014 yang lalu, ia bersama atlet paralayang lainnya telah mengajukan ke daerah sampai dengan provinsi. Namun demikian dirinya sampai saat ini belum mengetahui alasan dari pihak terkait belum merespon keberadaan para olahragawan di cabor tersebut.

"Entahlah yang bersangkutan antara pura-pura tidak tahu atau memang tidak mau tahu," ucapnya.

Menurutnya, pilot paralayang yang ada di NTB sudah banyak. Mereka juga memiliki skill yang tak kalah saing dengan pilot luar.

Ia mengaku, tak hanya sekali mengajukan agar cabor paralayang bisa diakomodir. Namun malah dirinya malah mendapat jawaban yang yang tak terduga.

"Dulu juga sering kita ajukan tapi malah dijawab berprestasi dulu baru difasilitasi," tutur pria yang akrab disapa Taiger ini.

Pria 25 tahun ini tak menyerah, malah jawaban itu dibuatnya sebagai pendongkrak semangat. Dirinya membuktikannya dengan prestasi pada tahun 2016 yang lalu, bahkan disebutnya sampai saat ini.

Kendati begitu, dirinya mengaku belum ada sentuhan dari para petinggi dan organisasi terkait.

"Miris, padahal banyak pilot yang potensial di NTB," ketusnya.

Lantaran itu, para atlet dibidang itu tak mau pusing lagi. Sebab seringkali mengajukan namun demikian disebutnya tak ada respon.

Ia menceritakan, dirinya sendiri menggeluti cabor itu sudah sejak lam. Tepatnya mulai dari tahun 2012 yang lalu.

Meski demikian, meski tak ada fasilitas dan dukungan dirinya tetap mewakili NTB diberbagai ajang. Tentunya dengan mengandalkan biaya sendiri.

Ia harus merogoh kantong sendiri yang nilainya disebutnya tak sedikit. 

Prestasinya cukup lumayan. Tak tanggung-tanggung ia tercatat dua kali masuk ke sepuluh besar dalam olahraga tersebut.

Dirinya sering turun di cabor paralayang pada kategori ketepatan mendarat (KTM) dan cross country (XC). Barulah di tahun 2019 hingga 2021, ia mewakili Sulteng turun pada nomor cross country (XC) beregu putra, dan berhasil menyabet perunggu.

Dia mengatakan, sampai saat ini masih konsen latihan untuk persiapan kedepannya. Sebab disebutnya banyak event berkelas nasional hingga internasional menanti.

Ia tetap berharap pada ajang selanjutnya dapat mewakili tanah kelahirannya. 

"Semoga para atasan yang bersangkutan tersentuh lah untuk kedepannya, biar paralayang di NTB semakin jaya. Aman kalau ada support pastilah," pungkasnya. (kin)

Posting Komentar

0 Komentar