Varietas Mangrove Lotim Terbanyak Kedua di Indonesia

KAYA: Lombok Timur memiliki varietas mangrove terbanyak kedua di Indonesia.

SELONG
-- Laut Lombok Timur tak hanya menawarkan keindahan, tapi juga kekayaan. Salah satu kekayaan itu yakni varietas mangrove yang tumbuh di daerah ini.

Pohon mangrove di laut Lombok Timur dikabarkan telah banyak kedua di Indonesia. Setidaknya terdapat enam jenis varietas pohon bakau yang sampai saat ini masih dapat ditemukan.

Keberadaan pohon ini bisa masuk melalui Pulau Lampu, di Desa Padak Guar, Kecamatan Sambalia, Lombok Timur. Pasalnya varietas tersebut tersebar di beberapa gili yang ada di wilayah itu.

Lokasi satu ini merupakan wisata kawasan pantai tertua setelah Labuan Haji. Namanya cukup populer sejak tahun 1991 silam.

Sekretaris Pokmaswas Peterando, Herman Alinasyah menuturkan, jenis pohon bakau di wilayah itu nomor dua terbanyak di Indonesia.

"Jenis yang paling banyak Rhizopora, tersebar di dua gili, yaitu Petagan dan Kondo," beber pria yang akrab disapa Herman, kepada JEJAK LOMBOK, Senin (19/7).

Selain Rhizopora, paparnya, varietas lainnya yakni Rhizopora Racemosa, Avicennia, Laguna Polaria, Api-api dan Conocarpus Erectus.

Dia menjelaskan, Rhizopora Racemosa masih satu marga dengan Rhizopora. Keduanya berasal dari genetik yang sama yakni Rhizoporaceae.

Varietas ini memiliki ciri yang sangat mencolok, berupa akar tunjang besar dan berkayu. Pucuk tertutup daun penumpu runcing, buah berkecambah dan berakar jika masih di pohon.

Jenis ini, kata dia, paling banyak jika dibandingkan dengan varietas lain di kawasan ini. Jenis ini juga di setiap daerah bisa ditemukan dengan penyebutan yang berbeda-beda.

Avicennia jelasnya, merupakan satu marga dengan Api-api. Varietas ini disebut juga bakau sejati.

Pasalnya varietas satu ini banyak ditemukan di Indonesia yang merupakan daerah tropis. Jenis ini dapat dikatakan tersebar merata dari Sabang sampai Marauke.

Dengan ciri-ciri, akar yang berbentuk pensil, menonjol di atas permukaan air yang berfungsi sebagai akar nafas.

Bahkan, jenis ini tak hanya berfungsi sebagai penahan gelombang dan abrasi. Namun tak jarang bijinya diolah menjadi produk oleh masyarakat pesisir.

"Dan dua jenis lainnya, masih bisa ditemukan," ujarnya.

Keenam jenis pohon bakau ini dapat ditemukan di Gili Sulat Lawang. Wilayah ini juga merupakan kawasan dengan konservasi terbesar yang mencapai 10 ribu hektar.

Sebab kata dia, jika dibandingkan dengan gili Petagan hanya mencapai 12 hektare, dan Kondo 9 hektare, dan Bidara 7 hektare lebih.

Selain enam jenis pohon bakau itu, di sekitar perairan itu terdapat 380 spesies karang. Selain itu, ada 15 famili ikan dengan 48 genre yang tersebar di wilayah Gili Lampu.

Dari jumlah itu, kata dia, Lotim memiliki kekayaan biota laut yang luar biasa. Kekayaan ini harus dijaga oleh semua elemen.

Sebab kata dia, penjagaan ini bukan hanya untuk pelestarian, tapi agar alam tetap seimbang, khususnya bagi laut di Lombok Timur.

Lantaran itu, kata dia, pihaknya secara rutin melalukan pengawasan, dengan mengelilingi pantai di wilayah perairan tersebut. Langkah ini diambil hanya untuk memastikan kelestarian alam.

"Kekayaan laut kita tidak kalah dengan daerah lain, dan ini harus kita jaga bersama," tandas Herman. (kin)

Posting Komentar

0 Komentar