Jejak Terkini

Gumbang Ganang, Oase di Tanah Obel-Obel

DESTINASI: Gumbang Ganang merupakan salah satu destinasi baru yang layak dikunjungi di Desa Obel-obel.

SELONG
-- Matahari sudah berada di arah jarum pukul 12.00 Wita, Jum'at (29/5). Sengatannya begitu terasa  menusuk kulit. 

Sesiang itu, di sepanjang jalan beraspal yang tak rata itu begitu sepi. Hanya dua atau tiga motor yang melewati jalan menuju Obel-obel dari arah Kayangan.

Di sisi kanan jalan, pantai membentang seluas mata memandang. Sementara di sebelah kiri jalan, tanah tandus bercadas seperti berjelaga. Semak dan pepohonan meranggas seumpama menantang sengatan panas.

Kendati jalur ini salah satu alternatif menuju kawasan destinasi wisata Sembalun, jalanan ini cukup lengang.

Di Obel-obel, oleh masyarakat setempat sudah sangat Mafhum jika sudah datang musim kemarau. Pemandangan tandus dengan peningkatan suhu panas matahari merupakan hal lumrah.

Akibatnya, daerah yang berada di bagian sisi Utara Lombok Timur ini seperti tidak ada kehidupan. Jangan semak dan pohon, manusia pun seolah enggan mendiami tempat lantaran suhu udaranya yang sangat tidak bersahabat.

Namun, anggapan itu pecah dengan keberadaan salah satu destinasi embung Gumbang Ganang. Embung ini terletak di Dusun Obel-Obel, Desa Obel-Obel, Kecamatan Sambalia, Lombok Timur.

Air embung ini jernih alami. Airnya bersumber dari mata air yang timbul di tempat itu. Gumbang Ganang ini seperti oase di tengah tandusnya ujung utara Gumi Patuh Karya itu. 

Kepada JEJAK LOMBOK, Ketua Pokdarwis Maju Bersama, Deri Miswara Arya Obira menuturkan, membangun destinasi ini tak semudah mengembalikan telapak tangan. Hal utama yang ditempuhnya melalui penyatuan persepsi mengenai destinasi tersebut. 

Baru setelah itu, ia bersama pemuda setempat mulai membangun. Di awal, mereka mengumpulkan barang bekas dan kayu kering dimanfaatkan di tempat tersebut. Hal itu dilakukannya hanya bermodal jadi sukarelawan.

"Konsep ini kita bangun seminggu, termasuk spot fotonya," ucapnya.

Di tempat ini, awalnya hanya satu spot foto dan sebuah gerbang masuk ke lokasi itu. Meski hanya bermodal satu tempat selfi, ia bersepakat membuka destinasi itu. 

Tepatnya pada 30 Agustus 2020 yang lalu destinasi ini diluncurkan. Saat peluncuran, lokasi itu langsung dipadati pengunjung. 

Dari sanalah pihaknya mampu menambah spot foto. Tak hanya itu, ia juga bisa membeli beberapa wahana tambahan melengkapi daya tarik tempat itu.

Destinasi ini terbilang unik. Tak jarang pengunjung terpukau melihat keberadaan lokasinya lantaran destinasi ini berada di wilayah kering. 

Bahkan dua desa yang menghimpit destinasi ini tercatat sebagai daerah yang sangat kekurangan air. Tak heran jika di lokasi ini tak terlihat persawahan.

Nama Gumbang Ganang sendiri, tuturnya, diambil dari cerita rakyat desa setempat. Di lokasi itu, selain terdapat tiga mata air yang mengairi, terdapat kisah tersendiri.

Dia menceritakan, di lokasi itu konon tempatnya moksa sang patih bernama Gumbang. Ia moksa memasuki sebuah lubang tertutup daun kelapa.

Sedangkan Ganang diambil dari sebuah nama pohon di tempat itu. Bahkan oleh orang setempat aliran sungai tersebut, juga dinamai dengan sebutan serupa.

"Karena tempatnya di tengah-tengah makanya kita namakan Gumbang Ganang," terangnya.

Danau berukuran kurang lebih lima puluh are itu merupakan sumber irigasi bagi pertanian setempat. 

Oleh pemerintah desa setempat, lokasi itu awalnya hanya akses untuk petani. Karena pembukaan jalan itu memang untuk keperluan pertanian.

Hal itulah juga yang membuat, tempat ini menjadi berbeda dengan wisata lainnya. Meski tempat itu sebagai destinasi namun air itu tetap dipakai oleh para petani setempat.

Sebab, ujar sarjana S1 ini, konsep wisata yang ditawarinya destinasi alam. Karena itu, pihaknya tak merubah sedikit pun lokasi itu. Buktinya, nampak berbagai pepohonan besar yang mengelilingi danau itu. 

Untuk menjaga alam, salah satu langkah yang akan ditempuh yakni dengan membuat monkey forest. Hal itu tak lain tujuannya untuk keseimbangan ekosistem di tempat itu.

"Kita akan taruhkan pisang. Pengunjung juga yang mau memberikan makan bisa sambil duduk di tengah danau," ucapnya.

Kedepan dirinya akan menyulap sawah warga yang berada di lingkar danau menjadi lokasi camping ground. Lokasi itu akan ditaruhkan pasir putih. Sehingga pengunjung seperti sedang berkemah di pantai.

"Kita akan libatkan petani untuk memanfaatkan sawah. Karena di sini banyak yang minta untuk penginapan," ucapnya.

Pihaknya juga, akan mempercantik tempat itu kedepan. Namun demikian dirinya tak merincikan desain lengkapnya.

Pengelolaan destinasi ini sendiri berkat kerjasama dengan Pemdes setempat. Pengunjung yang datang pun cukup beragam, meski hanya wisatawan lokal, tapi ramai. 

Tiket masuk ke lokasi ini, dapat dibilang cukup murah, hanya Rp 3 ribu saja. Untuk wahana sendiri seperti perahu, bebek, dan ban seharga Rp 5 ribu per orang.

"Tapi untuk warga Obel-Obel gratis, tanpa dipungut apapun," tandasnya. (kin)

Posting Komentar

0 Komentar