Jejak Terkini

Tongkek, Musik Tradisional Khas Pancor yang Masih Lestari

Dimainkan sebagai Tanda Masuknya Waktu Ibadah

LESTARI: Alat musik tradisional Tongkek masih lestari dan bisa dijumpai di sekitar Kelurahan Pancor, Lombok Timur.

----------

"Kawasan Pancor dan sekitarnya memang beda. Tak hanya dikenal sebagai kota santri, Pancor juga memiliki alat musik tradisional yang masih bisa ditemukan hingga kini."

SAEPUL HAKKUL YAKIN-- SELONG

SENJA sore pamit di tengah jantung kota. Waktu berbuka puasa segera menjelang diiringi petang kemerahan.

Begitulah suasana di Pancor, Kecamatan Selong Lombok Timur. Daerah ini Mafhum baginkhalayak dikenal sebagai santri, tapi juga menjadi episentrum aktivitas perekonomian di Lombok Timur.

Keramaiannya bisa dibilang yang tersibuk dibanding ibukota Kabupaten Lombok Timur, yakni Selong, yang menjadi pusat administrasi pemerintahan.

Sebelum ditetapkan sebagai kelurahan, Pancor merupakan sebuah desa perluasan yang dibentuk oleh orang-orang Kelayu tempo dulu.

Dalam Babakan sejarahnya, Pancor pantas mendapat posisi istimewa di tanah Lombok. Betapa tidak, Lontar Monyeh karya Jero Mihram yang masyhur itu lahir dan diciptakan di sini.

Lontar Monyeh merupakan karya adi luhung orang Sasak (suku Pulau Lombok). Lontar ini dianggap yang paling revolusioner dibanding lontar-lontar lainnya lantaran perbedaan bahasa yang digunakan.

Jika lontar lain menggunakan bahasa Jawi dan Bali, maka Lontar Monyeh meruoakanlontar pertama berbahasa Sasak. Lontar itu kini masih bisa ditemui di Museum Negeri NTB.

Tak hanya itu, lahirnya sosok ulama ternama yakni TGH M Zainuddin Abdul Madjid menjadi bagian penting lainnya. Tak hanya mendirikan ormas terbesar NTB, tapi juga telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Di balik segala keistimewaan yang dimiliki kota santri ini, siapa sangka jika warga setempat juga memiliki alat musik tradisional bernama Tongkek. Yakni sebuah alat musik mirip angklung dan terbuat dari bambu.

Salah satu lokasi untuk menjumpai alat musik ini yakni di Lingkungan Seroja Dayan Masjid, Kelurahan Majidi. Di pemukiman padat penduduk itu, alat musik ini karib dimainkan oleh warga dari lintas usia. Mulai dari anak-anak, dewasa hingga orang tua.

Rabu (28/4), di lorong sempit di tengah keramaian warga. Tampak remaja hingga dewasa memainkan alat musik tradisional tersebut. Iramanya yang khas mengundang telinga menyimak setiap ketukan nada yang lewat bunyi yang dikeluarkan alat musik itu.

Kelurahan Majidi sendiri merupakan pecahan dari Kelurahan Pancor. Tak heran jika alat musik ini juga dijumpai dikeluarkan tersebut.

"Ini musik tradisional tongkek, yang lahir di Pancor," kata Ketua Sanggar Teruna Monggok, Abdul Mukmin Sofian, kepada JEJAK LOMBOK. 

Konon tongkek ini, digunakan sebagai pengingat masuknya waktu salat setiap hari. Sebab, keberadaan bedug pada saat itu, dianggap tak efektif. 

PENTAS: Anak-anak warga Pancor saat pentas memainkan alat musik Tongkek.

Tongkek, tak hanya dimanfaatkan sebagai pengingat waktu salat. Namun juga sebagai alat untuk membangunkan warga untuk melaksanakan ibadah makan sahur selama bulan Ramadan dengan cara berkeliling ke seluruh pemukiman warga.

Tradisi itulah yang sampai saat ini masih melekat hingga kini.  Tongkek dapat dibilang menjadi menu wajib setiap sahur akan tiba.

Menurut cerita yanng berkembang dari orang tua. Musik tradisional satu ini telah ditulis dalam bentuk buku yang memuat tentang asal usul, sampai dengan ketukan tangga nada dari tongkek ini sendiri.

"Saya tidak tahu tahun berapa lahir musik ini lahir, dan kenapa disebut tongkek. Tapi ini musik tradisional khas masyarakat Pancor," terangnya.

Alat musik dari ini bambu ini terdiri dari tiga jenis nada. Masing-masing dari ketiga jenis nada ini memiliki ukuran berbeda. Mulai dari yang berukuran 60 sentimeter untuk nada rendah, 45-40 sentimeter untuk nada medium dan 20-25 sentimeter untuk nada tinggi.

Selain itu, kekhasan alat musik satu ini ialah lagu yang dibawakan yakni berjudul Pantok Telu. Judul ini berarti alat musik itu dimainkan pada pukul tiga dini hari. 

Lagu ini, terangnya, berisi ketukan nada meminta warga bangun dari tempat tidur untuk melaksanakan sahur.

"Sangat mudah dimainkan. Hampir semua orang Pancor bisa memainkannya," ucapnya.

Seiring perkembangan zaman, jelasnya, ada pergeseran dari segi alat. Jika dulu hanya berupa bambu dan sebuah bedug. Saat ini sudah mendapatkan alat tambahan berupa gong dan seruling. 

Pergesaran ini juga tak hanya pada fungsinya. Jika dulu hanya digunakan untuk mengingatkan waktu salat dan membangunkan sahur, saat ini sudah menjadi musik pilihan warga ketika begawe (pesta) pernikahan, acara adat, sampai dengan seminar.

Perkembangan selanjutnya, terangnya, pada nada atau lagu yang dimainkan. Jika dulu hanya berkutat pada tiga ketukan nada, sekarang sudan bisa memainkan berbagai macam pukulan tangga nada. Yakni mulai dari gending (nada) gamelan, sampai dengan lagu konvensional.

"Tapi dalam acara tertentu, nada dasar awal tetap kita mainkan," ujarnya.

Tongkek, kata dia, saat ini sudah berkembang pesat. Jika dulu, hanya satu kelompok namun sekarang lebih dari dua.

Di wilayah Pancor saja, ujarnya, sudah ada sekitar enam kelompok musik tradisional tersebut. Meski demikian dari jumlah itu hanya berapa yang bisa eksis.

Mereka muncul ketika bulan Ramadan tiba, dan itu yang membuat suasana bulan suci itu terasa semarak.

Tongkek, ucapnya, sebenarnya tak hanya dikenal di Lombok saja. Musik tradisional kelahiran Pancor ini telah dikenal sampai dengan ke mancanegara.

"Dulu salah satu kelompok tongkek main di Australia dalam acara budaya internasional," ujarnya.

Kepala Wilayah Lingkungan Dayan Masjid Dua, Fathurrahman mengakui, jika musik tradisional satu ini telah mengakar di jiwa warga Pancor. Menurutnya, banyak bukti bahwa permainan ini, hanya dapat dimainkan dengan sempurna oleh orang setempat.

Memainkan alat satu ini, kata dia, seperti kembali ke masa lampau. Pada saat wilayah ini masih berupa hutan belantara.

Di tempatnya itu, tongkek ini memiliki sanggar yang digeluti tak hanya oleh orang tua, tapi juga sampai anak-anak. Bahkan dulu, di salah satu sekolah tongkek ini pernah menjadi pilihan ekstrakulikuler.

"Sudah tradisinya kalau membangunkan sahur pakai tongkek. Jadi tidak ada warga yang merasa terganggu ketika alat musik ini dimainkan ketika tengah malam," ucapnya.

Terpisah, Lurah Majidi, Sukarman menerangkan, pihaknya telah memberikan bantuan kepada kelompok tongkek, khususnya ada di Kelurahan Majidi. Bantuan itu berupa pakaian seragam.

Upaya itu disebutnya, sebagai salah satu cara melestarikan musik tradisional itu. Meski begitu, ia mengakui belum ada sanggar yang bisa dimanfaatkan oleh kelompok tersebut. Yang ada, sampai saat ini kegiatan masih berpusat di sekretariat kelompok masing-masing. (*)

Posting Komentar

0 Komentar