Prasasti di Desa Sapit Belum Kunjung Terungkap

TEKA-TEKI: Batu bertulis yang ditemukan di Desa Sampit, tak kunjung terpecahkan arti tulisannya.

SELONG
-- Masih ingat mengenai batu bertulis atau prasasti yang ditemukan di Desa Sapit, Kecamatan Suela Lombok Timur? Beberapa waktu lalu prasasti uang diduga bertuliskan aksara Brahimi itu sempat diangkat media ini.

Batu tersebut ditemukan di tengah sawah milik warga setempat hingga kini menyisakan teka-teki. Komposisi aksara yang ada di atas batu tersebut masih terus membutuhkan pendalaman.

Pemerhati peninggalan benda bersejarah Desa Sapit, Janatan Firdaus menerangkan, sampai saat ini dirinya masih berikhtiar memecahkan teka-teki yang ada pada batu tersebut. Upaya ini dilakukan dengan diskusi bersama berbagai pihak, termasuk dianataranya ahli dibidang tersebut.

"Kami pernah coba untuk mencari bantuan pada orang yang memang dibidangya. Namun, dari semua kontak yang pernah kami hubungi dan kirimi bentuk aksaranya belum mampu memecahkan aksara di batu itu," terang pria yang akrab disapa Jan ini, Selasa (20/4).

Pihaknya mengaku tak ingin berhenti mrnibak teka-teki di balik tulisan baru itu. Ia bertekad bisa menemukan jawaban atas komposisi tulisan yang diduga sudah berusia berabad-abad itu.

Dalam proses melacak dan mengenali tulisan di atas batu, awalnya dirinya memulai dengan perbandingan aksara Pallawa, Jawa Kuno dan Batak. Dari kegiatan tersebut, dapat teridentifikasi dari 303 tulisan, tapi kemiripannya hanya mencapai 30 persen saja.

Baca Juga :

Menyusuri Palung Sejarah Masjid Kuno Bayan

5 Jenis Sambal Ini Sangat Legend di Lombok

Filosofi Dibalik Motif dan Warna Kain Tenun Bayan


Selanjutnya, kata dia,  mencoba peruntungan dengan memadukan aksara Brahmi. Aksara ini secara teoritik dikategorikan sebagai simbol aksara tua di dunia.

Aksara Brahmi, jelasnya, dapat ditemukan pada masa India Kuno, yakni saat raja Asoka. Di lain sisi, terangnya, belum ada ia tenukan penjelasan mengenai asal muasal akasara tersebut.

Pendekatan terhadap.aksara Brahimi ini disebutnya sangat beralasan. Ini karena aksara Brahimi diduga sebagai induk dari semua aksara di dunia.

"Setelah kami coba padukan sekitar 50 persennya mirip fengan aksara Brahmi. Namun tentu ini hanya sebuah perpaduan yang secara sederhana kami lakukan," ujarnya.

Terakhir kali, lanjutnya, ia dikirimi sebuah kanal YouTube oleh seorang rekannya yang membahas prihal tersebut. Yakni tentang, sebuah prasasti yang dibubuhi aksara menyangkut tentang sepuluh kesepakatab Tuhan pada Nabi Isa. Prasasti ini sedang diburu bangsa Israel.

Oleh bangsa itu, diyakini sebagai kesepakatan Yesus dengan Tuhan. Dimana dalam kesepakatan itu bertulis aksara Samaria.

Dari hal itu, dirinya mencoba untuk kembali melakukan pencocokan. Dari huruf yang tertulis di prasasti, ada sekitar 50 persen kemiripan dengan aksara tersebut.

Melansir dari Wikipedia, Ostrakon Samaria adalah kumpulan 102 ostrakon bertulisan. Dimana hanya 63 yang dapat dibaca, yang diketemukan di reruntuhan kota kuno Samaria (Sebastia, Nablus) pada tahun 1910. 

Dalam penggalian di bawah pimpinan George Andrew Reisner dari Harvard Semitic Museum, ditulis dalam huruf Ibrani Kuno yang mirip dengan Inskripsi Siloam. Namun demikiqn, hasilnya menunjukkan sedikit perkembangan tulisan tangan kursif.

Di laman tersebut, Ostrakon-ostrakon ini diketemukan dalam ruang perbendaharaan istana Ahab, Raja Israel. Raja ini diperkirakan bertarikh 850 SM pada masa hayatnya. Dal kurun waktu itu, paling tidak sebelum tahun 750 SM, ketika istana itu dihancurkan dan sekarang merupakan koleksi pada Istanbul Archaeology Museums.

"Penemuan baru akan banyak mempengaruhi catatan lama, dan bahkan menggugurkannya. Tapi itulah ilmu pengetahuan, terus berubah ke hal yang lebih maju," ucapnya. (kin)

Posting Komentar

0 Komentar