Jejak Terkini

Nindiq Jari Pesuna

Oleh: Murdiyah, S.Ag 

RASULALLAH
telah menyebut akan datang suatu zaman yang isinya banyak fitnah. Seiring dengan itu, banyak pula zaman yang dimaksud Rasul adalah saat ini. Buktinya saat ini, praktek adu domba telah dengan nyata dilakukan. Dan anehnya semuanya itu atas nama kebenaran dan kebebasan.

Yang paling aneh di zaman ini ketika kehidupan di media sosial lebih dianggap nyata ketimbang dengan dunia nyata. Baik di media mainstream seperti Facebook, Instagram, Twitter. Padahal kebenaran dari informasi yang didapatkan belum tentu benar.

Pergeseran ini semakin kuat karena dibumbui agama. Misalnya di akun Facebook dengan mudah kita temukan hadist-hadist nabi yang itu belum tentu kuat. Meski begitu hal ini cukup berhasil membuat orang yang sedang ingin beragama dengan niat baik, berbelok menjadi mengkafirkan orang dan tuduhan itu bahkan dialamatkan ke sesama muslim.

Lalu dengan terang-terangan menelanjangi keyakinan yang satu dengan yang lainnya, syari'at yang satu dengan yang lainnya. Praktik agama yang satu dengan yang lainnya, bahkan ada juga yang saling menelanjangi antar agama. Kata bid'ah, kafir, sesat, dan masuk neraka seperti doa yang mereka ucapkan setiap hari.

Tujuannya hanya satu yaitu mengadu domba antar sesama. Hal ini seringkali dibungkus atas nama kebebasan sehingga merasa berhak melontarkan pendapatnya meski hanya bentuknya opini semata.

Propaganda agama tak bisa kita sebut menjadi suatu hal yang biasa-biasa saja. Karena ini mnyangkut keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Konsekuensi dari itu orang berani akan mati menuju jalan surgannya. Klaim ini sangat mendasar karena keyakinan beragama yang mereka dapatkan. Contohnya seperti yang kita saksikan kejadian baru-baru ini.

Oleh orang tua dulu, saya teringat dengan bahasa para orang tua di Desa Songak. Bahasa itu berbunyi "Nindiq Girang Jari Piaq Pesuna,". Arti bahasa ini adalah jangan jadi pembuat fitnah, adu domba, atau bikin tersinggung orang lain. Dalam agama islam watak ini sangat dilarang, bahkan nilai keburukannya diatas pembunuhan.

Bahasa satu ini memiliki kelenturan makna. Pesuna pada saat ini, ada kemiripan makna dengan kata hoax. Misalnya dalam berkehidupan sosial, kata ini sering dijadikan kata larangan buat mereka yang ingin mengadu domba sesama, membuat fitnah, membuat orang tersinggung dan masih banyak lagi hal yang menjurus kepada hal yang akan berakibat pada retaknya hubungan natar sesama manusia.

Bahasa ini menjadi peringatan yang sangat keras bagi kehidupan sosial di masyarakat khususnya bagi masyarakat di Desa Songak. Seolah-olah jika kata itu sudah disematkan ke diri kita, apalgi sambil ditunjuk, rasanya seperti kehidupan sudah sangat buruk. Dampaknya bisa dijauhkan oleh sesama.

Kata ini sekrang sudah jarang disebut oleh masyarakat Songak. Bahkan kita bisa mengatakan kata ini telah hilang. Orang dengan karakter ini juga dalam agama sangat dilarang. Karena bisa menimbulkan perpecahan, bahkan peperangan sekalipun. 

Informasi yang tidak benar yang ditelan mentah menjadi keyakinan yang salah. Maka memilih guru menjadi point penting dalam berkehidupan sosial agar tidak berwatak pesuna. 

Salah satu yang paling penting selain berguru soal agama juga mencari jati diri adat istiadat. Karena adat, budaya ini penting sebagai modal berinteraksi sosial dengan orang lain. Tidak bisa dipungkiri kebudayaan akan membentuk pribadi menjadi yang kuat secara mental. Bukankah di depan ilmu ada akhlak yang harus dikedepankan.

Semoga kita terhindar dari orang yang watak pesuna. Menjadi orang-orang yang menjadi sumber fitnah, adu domba, informasi hoax, dan pintar menjaga perasaan orang lain. Karena kalau sifat itu ada dalam diri kita meski sedikit saja, maka kita akan iku membuat kerusakan dimuka bumi ini. 

* Tokoh budayawan dari Desa Songak.


Posting Komentar

0 Komentar