728x90

ad

PETA BATI TELANG KEMBULAN

Mengantisipasi Kerapuhan  Melalui Effort Merawat  Keseimbangan  Orientasi

Oleh Dr. Jamiluddin, M.Pd

Meretas idealisme kerja tuntas tidak mesti memilih jalan pintas. Pilihan-pilihan instan tidak pula mutlak menjadi penanda masyarakat modern yang mapan. Semuanya relatif. Bagi sebagian pakar, baik jalan pintas maupun trend instan justeru lebih cenderung menyebabkan pengusungnya menjadi tersandung. Jalan pintas dapat dipastikan akan banyak mereduksi sisi-sisi yang seksi. Sementara, pilihan-pilihan instan akan berpeluang membuang tahapan-tahapan yang justeru menyebabkan sesuatu menjadi mapan.

Walau beresiko dan riskan, perilaku memilih jalan pintas dan instan terlanjur menjadi trend. Di kalangan masyarakat perilaku tersebut menguat. Fakta itu mungkin menjadi kesuksesan pragmatism yang menakar kebenaran dan kemanfaatan  hanya dengan alat ukur kebendaan atau material. Artinya, jalan pintas dan produk instan dalam payung pragmatism cenderung mengabaikan spiritualitas.

Menyentuh wajah pragmatism dalam ulasan yang tidak sedikit kekurangan ini bukan untuk mengurai, tetapi meminjam landasan pacu filsafat pragmatism dalam memahami  “jalan pintas dan trend instan” sebagai sesuatu yang tidak utuh dan seimbang.  Berikutnya,  melaju di   landasan pacu filsafat pragmatism bertujuan agar kita dapat merasakan kegelisahan terhadap dampak merebak dan massif-nya piilihan mengentas problematika melalui  “jalan pintas dan trend instan."

Memahami sekaligus menghadirkan perasaan gelisah terhadap dampak merebak dan massif-nya piilihan mengentas problematika melalui  “jalan pintas dan trend instan,” merupakan hal yang sangat penting.  Dengan memahami hal tersebut, diharapkan akan terkondisi pembenaman belief dan sikap yang mementingkan keutuhan dan keseimbangan proses sekaligus tujuan pencapaian. Di sisi lain, kegelisahan yang membayangi dihajatkan akan melangitkan effort untuk menekan piilihan mengentas problematika melalui  “jalan pintas dan trend instan.”Persoalannya adalah, seberapa pentingkah menekan belief dan sikap memilih “jalan pintas dan trend instan” tersebut”

“Jalan pintas dan trend instan” pada uraian di atas dinilai sebagai sesuatu yang tidak utuh dan mengingkari keniscayaan mengimplementasi keseimbangan material dan spiritual.  Apakah belief dan sikapn ini benar-benar salah dan berakibat buruk sebagaimana penjelasan di atas?  Pertanyaan yang tidak gampang melainkan menantang. Bagi penulis sendiri, mengurai hakekat subtansi pertanyaan ini hendaknya merujuk system “mamzhumah marji’iyyah” atau system refrensial  yang tidak hanya teoritis, tetapi juga melibatkan koordinat-koordinat dasar serta pembentuknya, seperti wawasan cultural, social, alam, maupun prnciptaan manusia. Sungguh luas dan tak sederhana bukan?

Secara kultural, masyarakat bumi saat ini tengah menggeliat dan bertarung di era disruption. Suatu era di mana manusia ataupun system organisasi tidak menyadari hadirnya system baru, seperti inovasi digitalisasi yang setiap saat dapat menghancurkan system konvensional. Era ini ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi, utamanya di segmen informasi.  Dalam era ini, the winners seolah-olah orang atau organisasi yang paling menguasai teknologi informasi.

Watak era disruption sebagaimana anasir di atas akhirnya memicu system social, temasuk individu dan organisasi untuk menjadi yang terbaik dalam penguasaan teknologi, khususnya media informasi. Novelty inovasi media informasi sebagai konsekueksi syahwat menjadi yang terdepan dan tekuat akhirnya tak mengenal “road rest,.” Justeu lebih akab dengan   “roadrace..”  Bukanlah hal yang tidak baik, namun “kegilaan” pada teknologi ini sedikit tidak mengalihkan belief atau keyakinan. Contohnya, akan menguat asumsi, “kalau tidak dengan teknologi, kehidupan berarti mati.”   

Narrow mindedness kalau tidak boleh disebut fanarisme belebihan terhadap dominasi teknologi media informasi tentu saja akan menganulir aspek lain yang juga tidak kalah peran strategisnya dalam menyumbang kontribusi dalam kehidupan.  Misalnya saja eksistensi manusia dan atau power  social yang justeru sebagai pengendali desain teknologi.  Lebih dari itu, manusia sendiri, baik sebagai individu dan kekuatan social adalah totalitas fisik dan psikis. Artinya, manusia terbangun dari unsur material dan spiritual. Secara mateial manusia adalah makhluk biologis dengan unsur-unsur jasad yang membutuhkan makan, minum, udara, dan usaha mempertahankan jenis melalui proses perkembang-biakan yang diawali oleh tahapan pernikahan dan  perkawinan.  Sedangkan secara spiritualitas, manusia menurut Ikhwanus Shofa merupakan makhluk yang dicukupkan dengan “RUH” lengkap bersama sifat-sifatnya, seperti, aktif, hidup, dinamis, membakar atau mendorong, melangit, bersinar, potensial, mengetahui, dan lain-lain.  Pendapat ini menguat karena mengacu pada QS. Shad Ayat 72 yang artinya: “ Maka apabila telah kusempunakan kejadian  manusia, Kutiupkan kepada ciptaan-Ku itu ruh. Dan maka oleh sebab itu bersujudlah!”

Merujuk pada teori dan ayat-ayat suci di atas, maka pilihan melalui jalan pintas dan trend instan yang dipayungi pragmatism dengan watak mengabaikan spiritualitas sebagai ke-khasannya, merupakan sesuatu yang terlalu jauh dari standar kecukupan. Mengabaikan spiritualitas yang berarti pula kurang memperhatikan fungsi-fungsi ruh dapat menyebabkan melemahnya sifat aktif, hidup, dinamis, membakar, melangit, bersinar, potensial, dan mengetahui. Dengan kata-kata yang lebih bijak, sikap memilih jalan pintas dan trend instan yang hanya menakar dengan timbangan material, sama dengan membangun menara gading.Ya, sebuah menara yang retak dan rapuh. 

Analisis di atas menggambarkan bahwa jalan pintas dan trend instan sesungguhnya ikhtiyar yang setara dengan pepatah, “ Cari Untung Malah Buntung.” Dalam nalar Sasak, ikhtiyar ini sepadan dengan sesenggak. “ Peta Bati Telang Kembulan.” Usaha atau ikhtiyar ini jelas konyol dan fatal.  Bagi penulis, jenis ikhtiyar ini cenderung tidak disadari oleh para pelakunya,  Untuk lebih memahaminya, perlu diuraikan beberapa hal terkait sebagai berikut:

“ Cari Untung Malah Buntung.” atau “ Peta Bati Telang Kembulan,” pada hakekatnya didorong oleh niat dan rencana yang baik. Sebuah niat mencapai kesuksesan.  Kalaulah kemudian, ikhtiyar atau usaha tersebut “male oriented” karena hanya menggunakan takaran material, tentu sekali bukan hal yang hadir begitu saja. Pasti ada pemicunya. Menurut ahli, pemicunya sangat dimungkinkan oleh peraturan perundang-undangan yang belaku, tradisi dan budaya setempat, kapasitas individu, mainstream dalam masyarakat, dan daya dukung impra stuktur yang tersedia.  Mengurai sebab-sebab dimaksud di atas secara rinci, tentu akan membutuhkan kerangka kerja dan pemikiran yang luas, dalam, dan komprehensif. Oleh karena itu, penulis dalam kesempatan ini tidak akan sehebat tuntutan itu dalam mengurainya. Selain karena keterbatasan kemampuan, penulis berpandangan bahwa uraian yang luas, dalam, dan komprehensif akan lebih efektif pada tema-tema yang langsung bersentuhan dengan  hukum dan kebijakan politik. Namun demikian, untuk tidak melepas sama sekali tanggung jawab akademik, penulis akan mengulas hal-hal dimaksud secara general.

Sekularisme dan liberalism sebagai faham yang menjiwai sebuah peraturan perundang-undangan tentu tidak memagar dan memasang rambu-rambu untuk menekan kebebasan berekspresi, termasuk ide dan sikap mengusung materialism dan mengebiri spiritualitas,  Demikian pula dengan tradisi dan budaya setempat, mainstream dalam masyarakat, dan daya dukung impra stuktur yang tersedia. Jika semuanya memberi ruang yang lebih lapang pada materialism,  maka sikap mengusung jalan pintas dan trend instant akan mekar terkembang. Sementara itu, kapasitas individu yang terbatas soal materialism, juga akan men-trigger sikap memilih jalan pintas dan trend instant.

Memang uraian di atas singkat dan terbatas, tetapi penjelasan general tentang sebab-sebab memilih jalan pintas dan tend instant yang mengusung materialism oriented  dan memasung spiritualitas atau mengabaikan keseimbangan ini diharapkan dapat menjadi  rambu-rambu men-desain effort menekan sekaligus mengantisipasi ketidakseimbangan orientasi yang beresiko merapuhkan system social, termasuk individu dan organisasi. Wallohulamu.

* Pemerhati budaya Sasak, dosen IAIH NW Pancor, dan tenaga pendidik di SMAN 2 Selong.

Posting Komentar

0 Komentar