Jejak Terkini

MUTEN

Menemukenali Sisi Penting dan Keunikan Salah Satu Tradisi Pembangunan Ketaatan Masyarakat Sasak

Dr. Jamiluddin, M.Pd

Maha Suci Alloh yang telah menciptakan manusia dengan sesempurna-sempurna ciptaan. Selain fitrah, manusia dianugerahi hidayah. Dua perangkat yang hebat untuk melawat di atas jalan Rahmat.  Fitrah adalah kapasitas meretas, menggagas, dan berkreatifitas untuk mencapai level berkelas Sedangkan hidayah adalah arah yang istiqomah mendulang hikmah, bahkan mencapai “karomah”. Namun demikian, sebagai sesempurna-sempurna makhluk, ketundukan manusia diuji seperti hipotesa. Rasa takut, lapar, dahaga, dan kematian, serta musibah yang silih berganti adalah materi ujinya, Tentu bukan hal gampang, justru  menjadi sesuatu yang sangat menantang. Tidak gampang karena teruji meruntuhkan kesabaran. Menantang karena terbukti membonceng kabar gembira.

Runtuhnya kesabaran menjadi salah satu penanda watak lemah manusia. Hal ini penting dipertegas untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya kesalahan tafsir atas kalimat “manusia adalah sesempurna-sempurna ciptaan.”  Kalimat ini hanya pemosisian manusia di antara sesama makhluk, bukan penyetaraan dengan Tuhannya.  Selain itu pula, penegasan ini menjadi penting agar lebih bijak memandang keruntuhan kesabaran sebagai sesuatu yang “humanity.” Dengan cara pandang dan penafsiran yang tepat ini, diharapkan akan terbuka ruang yang lapang bagi manusia memulihkan kesabaran sebagaimana Alloh membuka ruang pertaubatan bagi hamba-hamba-Nya.

Pemulihan secara sosiologis atau pun dalam pandangan hukum formil, serta pertaubatan dalam hubungan teologis sangat efektif didialogkan secara intensif. Dalam hukum formil hal ini telah disahuti dengan amnesty, abolisi, rehabilitasi, dan seterusnya.  Sementara dalam hubungan teologis, pertaubatan dan pengampunan Alloh sangat sarat dalam surat dan ayat, baik tersirat atau pun yang tersurat. Namun demikian, dalam hubungan sosiologis, ruang pemulihan, perbaikan, dan pertaubatan kerap kali terganjal oleh karma social yang kental dan tebal.

Keterganjalan pemulihan, perbaikan, dan pertaubatan dalam hubungan sosiologis ini tentu  akan membenamkan rasa galau. Bukan rasa biasa, tetapi galau dalam rasa yang luar biasa. Bagaimana tidak,  seseorang seolah-olah dituntut seperti “Tuhan” yang tidak boleh salah. Lebih extreme lagi, seseorang disetarakan seperti “syetan” yang tak patut  menuntut ampunan. Karma social yang kental dan tebal ini perlu dicairkan dan ditranfaransikan agar seseorang atau manusia pada umumnya tidak menjadi merasa “sepala basah, mandilah sudah” dalam salah , noda, dan dosa. 

Dipelbagai suku bangsa, kabilah, dan komunitas social, pemulihan, perbaikan, dan pertaubatan dalam hubungan sosiologis sesungguhnya sudah cukup popular. Tidak terkecuali di lingkungan Suku Sasak Indonesia.  Dalam tradisi Suku Sasak Indonesia, pemulihan, perbaikan, dan pertaubatan dalam hubungan sosiologis dikenal dengan istilah “MUTEN.” Di beberapa komunitas Sasak Indonesia, “MUTEN” ini disebut pula dengan istilah “MUTIH” atau “MUTEK,”  dan lain sebagainya.

“MUTEN,” MUTIH” atau “MUTEK,” dalam tradisi Sasak Indonesia, mula-mula dipahami sebagai ritual  untuk lebih mendekatkan diri kepada  Pencipta. Sebagian aliran dalam tradisi Sasak Indonesia ada juga yang mengenalnya sebagai sebuah proses mengurangi aktivitas yang hanya beorientasi untuk mencapai kemegahan duniawi. Sebagian dari Suku Sasak Indonesia lainnya memandang tradisi ini sebagai ritual untuk memenuhi persyaratan mendalami sebuah ilmu, terutama kedigdayaan. Dengan demikian,   “MUTEN,” MUTIH” atau “MUTEK,” dapat diartikan sebagai amalan untuk: (1). Mempertebal kecintaan tehadap Yang Maha Agung guna mempersiapkan diri kembali memenuhi panggilanNya melalu kematian, (2). Mencapai penguasaan ilmu hikmah tertentu.

“MUTEN,” MUTIH” atau “MUTEK,” ini dilaksanakan oleh pengamalnya dengan puasa, do’a, mengurangi makan, minum, bahkan tidak sedikit yang menyepi selama berhari-hari.  Amalan ini diimbuh pula dengan hanya memakan nasi putih,  garam, tidak memakan daging yang berwana dan berdarah, serta memilih air putih secukupnya untuk kebutuhan minum. Sebuah ritual tarekat yang berat, baik secara biologis atau pun sosiologis. Tentulah berat karena meninggalkan secara perlahan kebutuhan faali dan sosialisasi  yang lazim dibutuhkan manusia. 

Seiring perkembangan peradaban, khususnya ketika rerata suku bangsa, termasuk Suku Sasak masuk ke peradaban masyarakat industry dan teknologi informasi, “MUTEN,” MUTIH” atau “MUTEK” ini mengalami perluasan makna.  Masyarakat Suku Sasak Indonesia memaknainya sebagai usaha memulihkan atau memperbaiki kualitas diri, keluarga, dan kelompok social.  Cara penyelenggaraan ritual “MUTEN,” MUTIH” atau “MUTEK” ini pun kemudian berkembang dengan pola berbanding searah dengan perspective masyarakat.

Khusus bagi masyarakat Suku Sasak Indonesia, pelaksanaan ritual “MUTEN,” MUTIH” atau “MUTEK”  sudah cukup fleksibel. Selain  desain ritual tradisionil seperti uraian di atas, dilakukan pula dengan standar kultur modern yang bersandar pada konsep Tauhidik-Teologis. Misalnya saja dalam peningkatan penguasaan ilmu pengetahuan, masyarakat Sasak Indonesia berproses dengan menggeliat dalam dialog keilmuan, baik di majelis ta’lim dan majelis ilmu formal lainnya. Demikian pula dalam ber-“cinta” dengan-Nya, masyarakat Suku Sasak Indonesia memilih untuk bezikir dan wirid secara berjamaah dalam majelis zikir atau jamaah wirid sesuai belief mereka. Sedangkan dalam pebaikan kelompok social,  masyarakat Sasak masuk atau membangun system jam’iyah dan jama’ah, termasuk organisasi kemasyarakatan yang becorak keagamaan.   

Perkembangan pola pelaksanaan “MUTEN,” MUTIH” atau “MUTEK” di lingkungan masyarakat Sasak Indonesia ini mula-mula dipandang sebagai anomaly.  Baik dalam domensi bentuk atau perilaku, ketak-laziman memang terpampang terang. Dalam dimensi bentuk, “MUTEN,” MUTIH” atau “MUTEK”sudah lebih kongkrit, rasional, dan linier dengan maksud atau tujuan pelaksanaannya. Misalnya ketika ingin mendalami sebuah ilmu, “MUTEN,” MUTIH” atau “MUTEK”dilaksanakan dengan mengunjungi majelis ilmu yang relevan.  Jika ingin menguasai ilmu hikmah sekaligus takrob ilalloh, maka mereka lebih memilih untuk beribadah di masjid, berzikir atau wirid, baik berjamaah atau sendiri-sendiri. Sementara dalam dimensi perilaku, “MUTEN,” MUTIH” atau “MUTEK”  dilaksanakan seara terbuka atau terang-terangan. Artinya tidak mesti menyepi atau menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan social pada umumnya.

Perkembangan bentuk dan perilaku “MUTEN,” MUTIH” atau “MUTEK,” secara umum tidak menimbulkan gejolak. Kalau pun ada, hanya beskala sempit dan relative sedikit. Menurut pandangan beberapa pemerhati tradisi Sasak, keadaan kondusif ini didukung oleh keajegan  subtansi “MUTEN,” MUTIH” atau “MUTEK.” Semuannya bemuara pada ikhtiyar perbaikan, pemulihan, dan petaubatan diri, keluarga, maupun kelompok social.

Bagi penulis sendiri, “MUTEN,” MUTIH” atau “MUTEK,” baik dalam desain bentuk maupun perilaku tradisionil-awal dan cultural modern yang teologis-tauhidik, merupakan sebuah proses pembangunan ketaatan atau ketaqwaan.  Secara lebih operasional, “MUTEN,” MUTIH” atau “MUTEK”  ini adalah berusaha secara optimal untuk melaksanakan seluruh perintah dan berupaya sekuat tenaga untuk menjauhi segala bentuk larangan Alloh Ta’ala. Tentu upaya ini merupakan hal mulia dan memulikan. Alloh Taala berfirman dalam QS al-Hujarat Ayat 13 yang artinya, “Semulia-muliamu di sisiKu adalah yang paling bertaqwa.”  

Akhirnya penulis berpendapat bahwa tradisi “MUTEN,” MUTIH” atau “MUTEK”  dilingkungan masyarakat Suku Sasak Indonesia sesungguhnya sangat penting untuk mencapai puncak prestasi, khususnya dalam kerangka hubungan teologis-tauhidik yang sudah pasti akan memengaruhi tingkat kemuliaan, baiik hubngan manusia dengan sesama atau pun dengan alam. Oleh sebab itu, mari kita bersama-sama merawat “MUTEN,” MUTIH” atau “MUTEK.”  Demikilan ulasan singkat yang sangat tebatas ini. Moga manfaat. Wallohu ‘alamu.     

* Pemerhati budaya Sasak, dosen IAIH NW Pancor dan tenaga pendidik di SMAN 2 Selong.

Posting Komentar

0 Komentar