Jejak Terkini

Masih Mahal, Harga Cabai Ditaksir Ramadan

Hj. Masnan

SELONG
-- Harga cabai masih mahal hingga saat ini. Imbasnya, masyarakat berharap agar harga jenis komoditi yang satu ini segera normal.

Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Lombok Timur, Hj Masnan, mengakui jika sampai saat ini harga bahan pokok satu ini masih tinggi. Ia membeberkan, per 28 Maret kemarin harga masih berkisar Rp 150 ribu per kilogram.

Faktor kenaikan harga tersebut, ujarnya,  lantaran permintaan lebih tinggi dari pada penawaran. Dengan kata lain, stok barang lebih sedikit.

Hal itu terjadi, lanjutnya, karena musim penghujan yang berbuntut pada pendeknya masa panen. Tragisnya, tidak sedikit petani mengalami gagal panen.

"Karena hujan buahnya busuk dan batangnya mati. Bahkan mereka mencabutnya dan menaruh di pematang sawah," terang Hj Masnan, Senin (29/3)

Buntut harga cabai ini juga, terangnya, pihaknya telah dikumpulkan oleh pihak terkait. Langkah tersebut diambil untuk membahas persoalan yang ada.

Di kabupaten lain, imbuhnya, harga bahan pokok satu ini mencapai Rp 200 ribu per kilogram. Menurutnya, harga tersebut bisa jadi sampai masuk Bulan Suci Ramadan nantinya. 

Karena itu, timnya tengah bergerilya setidaknya ke tiga pasar. Ketiga pasar itu yakni Sambelia, Paok Motong dan Keruak. Hal itu dilakukan untuk menyurvei harga di lapangan.

Tak hanya itu, pihaknya dengan berbagai dinas terkait turun langsung ke petani. Itu dilakukan untuk melihat kebutuhan bahan pokok satu ini. 

Keterangan petani, ujarnya, cabai yang ditanam mati lantaran musim hujan. Jelas saja kondisi itu berbuntut pada gagalnya panen.

"Dulu petani panen sampai delapan kali saat ini hanya dua kali," ujarnya.

Selain turun ke petani, pihaknya juga keliling ke pasar dan ke masyarakat. Tujuannya, agar mengeluarkan cabai yang masih tersimpan.

Di masyarakat, terangnya, masih tersimpan cabai kering. Stok barang tersebut masih sampai bertonase.

Bahkan dirinya sendiri mengakui ada pihak menyimpan barang itu. Namun demikian, ia tak merincikan berapa harga bahan tersebut. 

"Di satu sisi ada yang tersenyum, di sisi lain ada yang ingin harga turun," ujarnya. (kin)

Posting Komentar

0 Komentar