728x90

ad

Harlah Nahdlatul Wathan

(Mendulang Hikmah Dalam Sejarah Pendirian Organisasi Nahdlatul Wathan) 

Dr. Jamaluddin, M.Pd

Nahdlatul Wathan pernah diprediksi seusia pendirinya. Fakta membuktikan bahwa prediksi tersebut terbantahkan. Nahdlatul Wathan tidak hanya telah teruji mampu melewati masa-masa sulit dan transisinya di era orde lama, orde baru, dan era reformasi, tetapi juga berhasil berusaha exist sejak tahapan kehidupan agraris, industri, sampai era disruption sekarang ini.  Demikian pula terhadap konflik yang dihadapi, Nahdlatul Wathan dalam keterbelahannya masih mampu menunaikan fungsi-fungsi sesuai bidang yang ditekuni.

Catatan sejarah Nahdlatul Wathan ini cukp menarik. Beberapa peneliti sampai mengajukan problem riset, seperti: (1). Bagaimana kerangka system organisasi Nahdlatul Wathan dikonstruk sehingga memiliki daya tahan yang cukup kuat?  (2).  Apakah Nahdlatul Wathan akan menguat atau justeru melemah di era respiritualisasi sebagai tahapan keempat kehidupan? dan (3). Bagaimana model pengelolaan konflik hingga restorasi Nahdlatul Wathan seiring pertumbuhan maupun  perkembangan  politik dan diaspora pendidikan yang dialami?

Beberapa problem riset di atas  menggambarkan bahwa Nahdlatul Wathan memiliki kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan. Jika dipetakan maka kekuatan Nahdlatul Wathan dominan pada fondasi pendiriannya. Kekuatan ini sesungguhnya menjadi modal dasar pengembangan dalam menyahuti peluang optimalisasi politik  dan diaspora pendidikan, social, dan dakwah Nahdlatul Wathan. Sementara itu kelemahan  Nahdlatul Wathan yang paling mencolok adalah konflik berkelanjutan yang secara material atau pun spiritual menggerogoti energy yang dibutuhkan dalam mengimami tantangan kompetitif global yang membutuhkan tersedianya sumberdaya berkualifikasi dan berdaya-saing. 

Beberapa problem riset  di atas memang strategis diurai untuk mendapatkan analisis sebagai rujukan dalam konsolidasi dan pengembangan organisasi. Namun demikian, pada artikel terbatas seperti ini, tidaklah mudah mengupas tuntas seluruh problem riset tersebut di atas. Dengan pertimbangan untuk me-relevansi-kan problem riset dengan tema artikel kecil ini, maka penulis akan mengurai tentang  “Bagaimana kerangka system organisasi Nahdlatul Wathan dikonstruk sehingga memiliki daya tahan yang cukup kuat”   

Mengulas tentang desain kerangka system organisasi Nahdlatul Wathan yang dinilai memiliki daya tahan yang cukup kuat, tentu akan bersentuhan langsung dengan sejarah awal pendiriannya. Sebuah keniscayaan yang menarik  dan sedikit membutuhkan taktik. Bagi penulis sendiri, membahas problem riset yang satu ini adalah job yang nendang lagi menantang karena merupakan sebuah amar suci, sebagaimana ulasan berikut.

“Bedahlah catatan sejarah untuk mendulang gemilang di era mendatang.”  Colekan di atas sangat arif dan inspiratif. Pastinya sangat sacral karena colekan ini diilhami oleh firman Alloh pada  Al-Hasyar Ayat 18, yaitu: “ Bertaqwalah kepada Alloh dan pelajarilah seluruh rangkaian perjalanan masa lalumu untuk merancang bangun masa depan yang lebih baik Hiduplah dengan ketaatan karena Alloh Maha Tahu apa yang kamu kerjakan.”  

Kendati menarik dan menantang sebagaimana ungkapan penulis, namun dengan jujur penulis ingin menyatakan bahwa. membedah catatan sejarah untuk mendulang khazanah hikmah memang tidaklah gampang. Selain membutuhkan kemauan yang kuat, kecermatan, kecerdasan, dan “cara baca” yang akurat merupakan  unsur-unsur yang harus tersedia dalam kualitas dan kuantitas yang terukur. Kecermatan sangat membantu tingkat keluasan, kedalaman, dam koneksitas pembedahan. Kecerdasan sendiri akan memainkan peran pada sector refrence sehingga proses bedah tidak gamang dan menyimpang. Sementara, “cara baca” yang memberikan penjaminan akurasi akan sangat memudahkan proses mendialohkan fakta sejarah sampai  dengan menghasilkan sebuah analisis.

Tesis sulitnya membedah catatan sejarah ternyata terbukti. Keharusan memilih salah satu pintu masuk cukup merepotkan penulis dalam mengawali proses bedah sejarah ini. Penulis lebih merasa repot dan kesulitan ketika yang akan diurai adalah konstelasi Organisasi Nahdlatul Wathan. Bagaimana tidak, mengurai tentang Organisasi Nahdlatul Wathan, tentu tidak bisa parsial dengan keberadaan Hamzanwadi selaku pendirinya.  Bagi penulis, Hamzanwadi sendiri merupakan tokoh berpengaruh dalam daftar tokoh terkemuka di tanah air, bahkan dibeberapa Negara yang memiliki hubungan genealogi intelektualitas dengannya  Selain sebagai dirinya, dia dinobatkan sebagai tokoh ulama’, actor pergerakan kemerdekaan, pegiat Ormas Islam, da’i, guru, budayawan, dan seorang pahlawan nasional. Hamzanwadi penuh warna-warni. Artinya, dia adalah sosok yang merefresentasikan sesuatu yang utuh kalau tidak boleh dibilang nyaris sempurna dan “indah” (jamil).

 Walau terkesan subjektiv, penulis sebagai seorang insider ingin memilih keistimewaan yang menjadi impresi (kesan) sebagaian orang terhadap Hamzanwadi sebagai pintu masuk pembahasan problem riset di atas. Pilihan ini sekaligus menjadi hipotesis yang akan diuji seobjektiv mungkin dalam artikel kecil ini, Ada pun beberapa keistimewaan dimaksud adalah sebagai berikut:

Pertama, Nahdlatul Wathan adalah salah satu badan hukum perkumpulan yang beremberio pada dua lembaga pergerakan yang hadir dengan motif dasar resistensi terhadap  penjajahan. NWDI dan NBDI sebagai dua lembaga dimaksud pun memiliki genaologi intelektualitas dengan lembaga pendidikan di Haramain yang menganut idealisme ahlusunnah waljamaah menurut ajaran  imam As-Syafii dan Asy-Ariyah. Hamzanwadi sebagai pendiri lembaga-lembaga di atas, tentu sekali telah menanam pondasi nasionalisme untuk kebutuhan resistensi. Fakta ini diperkuat dengan diksi Nahdlatul Wathan sebagai nama lembaga yang didirikan Hamanwadi. Diksi Nahdlatul Wathan dapat diartikan setara dengan kebangkitan Nasional yang secara inplisit nilai nasionalisme menyatu di dalamnya. Selain Nasionalisme, Hamzanwadi membenamkan nilai ke-Islaman yang secara keilmuan tersambung sampai Rasulullah SAW. Islamisme dan nasionalisme yang telah dibenamkan begitu dalam oleh Hamanwadi dipastikan sebagi penguat dan pendongkerak kapasitas lembaga, terutama Nahdlatul Wathan yang hari ini tanpa henti memberikan kontribusinya. 

Kedua, Nahdlatul Wathan didirikan ketika menguat pembentukan oganisasi profesi dan ekonomi bisnis dengan ragam Utara. Jessica Mackenzie dan Rebecca Gordon dalam Studi Pengembangan Organisai(PO), yang diterbitkan di Jakarta oleh Australian AID pada tahun 2016 merilis bahwa pada tahun 1950-an hingga 1960-an terjadi suatu gerakan umtuk menghasilkan institusi sektor public yang berpusat pada mendesain organisasi-organisasi yang dapat bergerak secara individu dengan menggunakan Model Utara serta melaksanakan diklat-diklat untuk profesionalitas dan kepemimpinan. Yang dimaksud organisasi model Utara adalah badan hukum perkumpulan yang memiliki independence sehingga dapat bergerak secara mandiri untuk menghimpun elemen-elemennya hingga ke jenjang yang paling rendah.

Bagi penulis, Hamzanwadi yang telah dikenal luas sebagai tokoh nasional pada kisaran tahun pendirian   Nahdlatul Wathan, tentu sekali telah mengamati trend sebagaimana diungkap Jessica Mackenzie dan Rebecca Gordon. Buktinya Nahdlatul Wathan setelah pendiriannya pada 1 Maret 1953 dikukuhkan dengan Muktamar NW I pada  tanggal 22 – 24 Agustus 1954 yang berhasil menetapkan Hamzanwadi sebagai Ketua Umum dan  A. Qadir Ma’r‘if sebagai Sekretaris Umum. Setelah itu, Nahdlatul Wathan diupayakan memiliki nomor-nomor yuridis seperti: 1). Akta  Nomor 48 tahun 1956 yang disahkan oleh Notaris Pembantu di Mataram Hendrix Alexander Malada. 2). SKT Nomor J.A 5/105/5 tanggal 17 Oktober 1960, 3). Tambahan Berita Negara Republik Indonesia Nomor 90 tanggal 8 November 1960. Fakta ini menunjukkan pendirian organisasi yang teradministrasi secara rapi serta memenuhi syarat legalitas secara yuridis maupun de-facto, Dengan kondisi seperti ini maka NW memiliki legalitas yang kuat dan meyakinkan sehingga sangat memungkinkan NW eksis dan survive.

Ketiga, dari sisi pemberian nama, Hamzanwadi ternyata memilih nama organisasi yang istimewa.  Para ahli bahasa berpendapat bahwa “Nahdla” berarti “Sekali bangkit teruslah bangkit.” Penafsiran para ahli bahasa tehadap kata “Nahdla” ini menunjukkan ekspektasi. Bukan saja sesaat, tetapi ekspektasi berkelanjutan. Pastinya, tidak sekadar harapan, namun “nahda.”   merupakan  gerakan  istiqomah memacu laju ke masa depan.  Tapsir ini pun kiranya memastikan bahwa pengguna kata “nahda”  ada;ah seseorang yang  memiliki daya juang   dan daya saing yang pilih tanding.  Penulis berpendapat bahwa karena tidak ada perdebatan soal keyakinan tentang nama adalah do’a dan harapan, maka daya tahan Nahdlatul Wathan dari masa ke masa inshaalloh disebabkan oleh terkabulnya do’a dalam kata “Nahdla” yang pada intinya bermohon untuk bisa bangkit sepanjang masa.

Keempat, kepastian tekad dalam yel-yel “Pokoknya NW Pokok NW Iman Taqwa,” bukanlah sekadar pemantik semangat.   Yel-yel ini sarat makna dan kelebihan.  “Pokoknya NW Pokok NW Iman Taqwa,” sangat mudah dipahami jika bagian kalimat ini diimbuh dengan kata Tanya, seperti: “Mengapa Pokoknya NW?” Pertanyaan ini kemudian kita jawab dengan kalimat “Karena Pokok NW Iman dan Taqwa.”Dengan cara ini secra terang-benderang dapat dipahami bahwa target capaian tertinggi NW linier dan searah dengan indicator kemuliaan tertinggi manusia dihadapan Alloh, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Hujarat Ayat 13 yang artinya:”Semulia-muliamu di sisi-Ku adalah yang paling betaqwa.” Hal ini berarti bahwa NW mengidentikkan diri se-persis mungkin dengan Islam yang benar, menyelamatkan, dan  memiliki watak selalu up-to-date dan relevan di mana dan kapan saja.  Barangkali hal ini pula yang mendongkerak eksistensi NW hingga kini, walau dalam keadaan yang sangat sulit sekalipin.

Kelima, sebagai sosok guru besar yang kharismatik, Hamzanwadi merumuskan criteria kemuliaan jamaah dihadapannya. Kriteria tersebut adalah: “Semulia muliamu di sisiku adalah yang paling bermanfaat bagi NW dan seburukburukmu di sisiku adalah yang paling suka merusak perjuangan NW.” Pakem kemuliaan ini kemudian mendorong para jamaah untuk bebuat yang terbaik untuk NW. Fakta ini akhirnya secara positip dan signifikan merawat kelangsungan eksistensi NW.

Analisis kelima keistimewaan ini tentu belum memuaskan untuk menjawab problem riset berkenaan dengan factor penyebab kerangka system organisasi Nahdlatul Wathan yang dipandang cukup kuat.  Namun setidak-todaknya kita dapat memastikan bahwa  kerangka system organisasi Nahdlatul Wathan yang dipandang kuat oleh para peneliti ini dikonstruk oleh factor (1). pembenaman dua nilai yang seimbang, yaitu islamisme dan nasionalisme yang hebat. (2). Dasar pemikiran organisasi yang modern atau berkemajuan. (3). Do’a dan harapan yang terintegrasi dalam makna “Nahdla” sebagai inti dalam nama organisasi (4). Ikhtiyar yang benar-benar kuat dalam melekatkan NW dalam konstelasi ke-Islaman yang dibuktikan dengan target memperleh ketaqwaan sebagai pencapaian tertingginya.(5).  Merumuskan indicator kemuliaan jamaah yang menjadi motivasi bagi jamaah nahdliyin beinvestasi merawat organisasi NW. Wallohu’alamu.

* Pemerhati Budaya Sasak. Dosen IAIH NW Pancor, dan Tenaga Pendidik di SMAN 2 Selong


Posting Komentar

0 Komentar