728x90

ad

Beruntung, Staycation Lombok Barat Masih Signifikan

RAPAT: Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat, H. Saiful Akhkam saat memimpin rapat internal di kantornya belum lama ini. (Dok/Dispar Lombok Barat)

GERUNG
-- Pandemi virus corona menjadi pukulan berat bagi semua sektor, tak terkecuali pariwisata.

Di tengah gempuran virus itu, pariwisata Lombok Barat relatif masih beruntung. Ini dibuktikan dengan aktivitas staycation yang cukup tinggi. Berbeda dengan daerah lain yang justru mati suri.

"Stayvation itu adalah berlibur di sekitar rumah di obyek-obyek wisata terdekat. Termasuk berlibur di hotel misalnya," ungkap Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat, H Saiful Akhkam, Senin (8/3).

Kalkulasi data yang berhasil dihimpun Dispar Lombok Barat tren staycation ini mencapai angka 1 juta lebih. Lebih rinci, jumlahnya sekitar 1,37 juta lebih.

Sebenarnya tren tinggi staycation di Lobar ini tidak sendiri. Hal sama juga terjadi di Lombok Timur. Di Lombok Barat, tren ini terutama menyasar wilayah Sengggigi. Sementara di Lombok Timur terjadi di Sembalun.

Ahkam membeberkan, tren ini berbeda dengan jumlah kunjungan wisatawan. Dimana kunjungan wisatawan disebutnya cukup lesu. Namun demikian, setidaknya ada sekitar 400 ribu lebih wisatawan yang berkunjung selama pandemi.

"Jumlah ini jauh dari target. Kita maklum ini kondisi pandemi, tapi tetap kita syukuri," imbuhnya.

Baru-baru ini, Dispar Lombok Barat telah meluncur Calender of Event (CoE) tahunan. CoE ini menjadi bagian stimulus merangsang kembali kunjungan wisatawan ke Lombok Barat.

Tak hanya itu niat di balik CoE tersebut. Dinas Pariwisata Lombok Barat ingin memastikan diri sebagai daerah paling siap menyongsong gelaran MotoGP Oktober mendatang.

Setidaknya, ada 16 kalender kegiatan yang termuat dalam CoE. Salah satunya yakni parade budaya yang akan dilaksanakan di Taman Narmada.

"Di penghujung Maret ini, semoga agenda itu bisa terlaksana dan berjalan lancar," ucapnya.

Ada hal menarik dari parade budaya tersebut, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi juga turut memeriahkan agenda tersebut.

Keterlibatan daerah itu, ucapnya, dianggap sebagai media sharing. Dimana kedua daerah bisa memperkenalkan budaya masing-masing.

"Dari kita ada sekitar 40 grup sekehe (gendang Beleq) dan 13 pengiring, termasuk tari Gandrung," ucapnya.

Terhadap apa yang dilontarkan Ahkam terkait staycation, belum lama ini General Manager Aruna Sengggigi Hotel, Weni Kristanti mengamini. Sejak pandemi, pihaknya fokus menyasar pasar lokal.

Selama ini, jelasnya, wisatawan lokal jarang jadi obyek sasar. Padahal, dengan potensinya dianggap menjanjikan.

"Strategi kita tak dengan menjadikan liburan di hotel sebagai gaya hidup. Hotel tidak lagi hanya untuk orang-orang kaya, warga biasa juga bisa melakukan hal sama," tandasnya. (jl)

Posting Komentar

0 Komentar