Jejak Terkini

Tolak Bala, 44 Penghulu Gunung Gelar Ritual Nyentulaq

RITUAL: Masyarakat Desa Biloq Petung menggelar ritual Nyentulaq sebagai doa tolak musibah.

SELONG
-- Musibah demi musibah terus datang melanda NTB. Mulai dari gempa hingga terjangan virus Corona. Belum lagi musibah tahunan seperti banjir dan tanah longsor.

Prihatin dengan musibah yang terus-menerus menghampiri daerah ini, 44 penghulu gunung di sekitar Rinjani menggelar ritual Nyentulaq. Sebuah ritual yang diniatkan untuk menolak bala'.

Tak hanya para penghulu gunung, para tetua adat dari beragama keyakinan juga tumpah ruah dalam kegiatan tersebut. Mulai dari tokoh umat muslim hingga non muslim.

Ritual yang diselenggarakan, Senin (1/2) ini, dilaksanakan di Desa Biloq Petung, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur.

Ketua panitia pelaksana acara, Khairul Wardi dalam sambutanya mengatakan, dalam ritual adat Nyentulak atau tolak bala ini diniatkan untuk berdoa. Doa tersebut tidak lain agar semua musibah segera berakhir.

Nyentulaq dilakukan oleh para sesepuh Biluq sebagai tradisi adat yang turun temurun. Dengan diadakannya ritual ini untuk menjaga lingkungan dan dijauhkan dari marabahaya penyakit.

"Acara ritual ini dilaksanakan supaya di jauhkan dari marabahaya penyakit seperti virus covid ini," katanya.

Untuk itu, dalam acara ritual ini, semua berdoa agar penyakit dan marabahaya yang ada di tanah Sasak bisa cepat hilang dan berakhir.

Selain ritual Nyentulaq, ada juga ritual lainnya seperti Maulid Adat. Ritual ini dilaksanakan setiap tahun.

Tak hanya itu, ada pula ritual lain yang terus berkembang di tengah-tengah masyarakat Biloq Petung. Ritual itu yakni Ider-Ider. Sebuah ritual yang dilaksanakan 1 kali dalam 8 tahun.

Dalam paparannya, Wardi menyebut Biloq Petung sangat kaya khazanah masa lalu. Salah satu yang masih bisa ditemui yakni peninggalan sejarah berupa petilasan Batu Bongkok.

Terhadap kegiatan ini, Wakil Bupati Lotim H Rumaksih mengatakan, ia mengapresiasi panitia yang berinisiasi menyelenggarakan doa bwrsama tersebut. Terlebih yang hadir bukan orang-orang sembarangan, yakni para pemangku gunung.

"Saya sangat mengapresiasi panitia yang sudah berinisiasi menyelenggarakan acara ini," katanya.

Di masa pandemi ini, pemerintah telah mengeluarkan cukup banyak biaya untuk menangani virus Covid-19. Biaya ini tidak saja di Desa Biloq Petung, tapi di seluruh dunia.

"Semoga dengan diadakannya doa tolak bala oleh para pemangku gunung, semoga virus Covid-19 cepat berakhir," harapnya.

Sementara itu, Sekda NTB HL Gita Ariyadi mengatakan, dengan adanya doa tolak bala, ia harapkan semua penyakit cepat berakhir. Terlebih, sejak awal datangnya Covid-19 ini katanya, pada bulan Maret sudah melakukan rapat untuk berupaya mencegah penyebarannya.

Dengan  adanya ritual Nyentulak do’a bersama ini, semua semoga musibah cepat berakhir.

Selain musibah Covid-19 ini, terdapat ancaman lainnya seperti bemcana alam, banjir, tanah longsor, gunung meletus, gempa bumi dan tsunami.

"Tidak hanya covid-19 ini, tapi banyak ancaman bencana yang lainnya," tuturnya. (zaa)

Posting Komentar

0 Komentar