Jejak Terkini

Suspek DBD di Sakra Berkurang

FOGGING: Petugas Puskesmas Kecamatan Sakra saat melakukan fogging di lingkungan tempat tinggal warga.

SELONG
--Tahun lalu kasus warga suspek Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kecamatan Sakra Lombok Timur cukup tinggi. Namun beberapa waktu belakangan ini, kasus tersebut berkurang.

Berkurangnya angka suspek ini tidak lepas dari kesigapan Puskesmas Kecamatan Sakra. Selain fogging (pengasapan), unit layanan kesehatan ini juga terus mensosialisasikan pentingnya 3M (menguras, menutup dan mengubur) tempat berkembangbiaknya nyamuk.

"Strategi lain yang kita galakkan yakni pemberantasan sarang nyamuk (PSN)," ucap Kepala Puskesmas Kecamatan Sakra, Muhammad Zaini, Rabu (6/12).

Khusus untuk pengasapan, jelasnya, tindakan ini secara berkala terus digalakkan. Pengasapan dilakukan terutama di daerah-daerah yang ditemukan adanya korban.

"Seperti di Dusun Letok, Desa Rumbuk Timur, Sakra. Di sana kita lakukan pengasapan," jelasnya.

Di dusun ini, jelasnya, ada 5 korban suspek DBD. Kelima pasien ini belakangan dinyatakan sudah sehat semua.

Dia menjelaskan, kasus DBD di Kecamatan Sakra sampai dengan bulan Desember ini hanya berjumlah 5 orang. Yakni dari Rumbuk Timur 2, Keselet 1, Sakra 1, dan Desa Sakra Selatan 1 orang.

Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, angka kasus terjangkit DBD sudah menurun. Di tahun 2018 dan 2019 misalnya, jika sudah masuk akhir tahun mencapai ratusan orang.

Menurutnya, itu terjadi lantaran kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan telah meningkat. Di lain sisi, adanya kerjasama yang baik antar pemegang kebijakan, khusus di desa.

Terlebih seperti pengamatannya, desa-desa khususnya di Kecamantan Sakra, dari segi penataan lingkungan cukup serius. Seperti kebersihan dan drainase di setiap dusunnya yang begitu baik.

"Kita lihat saja, jalan dan drainasenya cukup bagus. Masyarakat juga tidak menampung air sembarangan," bebernya.

Selain adanya kerjasama yang baik dan tingkat kesadaran masyarakat yang menigkat, juga lantaran tim pemegang program pengentasan DBD sangat responsif. Begitu terjadi kasus di desa, petugas langsung turun memeriksa lokasi dan lingkungan itu untuk melakukan treatment. Baik berupa PSN dan fogging guna menekan kasus DBD.

Dia menjelaskan, untuk melakukan fogging tak bisa dilakukan tanpa melalui PSN. Ini karena fogging hanya membunuh nyamuk dewasa.

Ia mengakui, sudah ada permintaan dari beberapa desa untuk dilakukan pengasapan. Namun tak bisa dilakukan, lantaran harus ada kasus dulu, baru melakukan hal itu. 

"Jadi harus PSN dulu baru fogging. Ibaratnya hancurkan dulu sarang jentiknya lalu diasap. Karena asap hanya untuk membunuh nyamuk dewasa," ucapnya.

Ketua Program Pengentasan DBD Kecamatan Sakra, Nurul Hakika menambahkan, kasus DBD di Kecamatan Sakra telah menurun. Dulu jika sudah masuk bulan Desember, pasien terjangkit sampai dengan 100 orang.

Bahkan dua tahun sebelumnya, kasus DBD sampai menyebabkan kematian. Namun untuk tahun ini terbilang turun drastis. Kendati demikian, pihaknya akan terus melakukan upaya untuk menekan kasus itu.

"Kita juga sudah mengimbau sejak awal kepada seluruh kepala desa melalui surat. Tujuannya agar mengajak masyarakat terus melakukan tiga M guna menekan terjangkitnya kasus," terangnya. (sy)

Posting Komentar

0 Komentar