Iklan

terkini

Penanganan Sampah di Tahun 2021 Baru Mencapai 23 Persen

Jejak Lombok
Kamis, 14 Januari 2021, Kamis, Januari 14, 2021 WIB Last Updated 2021-01-14T08:50:49Z

BELAJAR: Dinas LHK Lombok Timur saat belajar pola pengelolaan sampah di Desa Kendang Nangka.

SELONG
--Desa Kendang Nangka Kecamatan Masbagik barangkali bisa ditunjuk sebagai percontohan bagaimana cara mengelola sampah. Lantaran itu, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Lombok Timur belajar di desa itu.

Di sini, DLHK Lotim mempelajari bagaimana penanganan sampah yang dilakukan warga. Tak tanggung-tanggung, dalam aksi studi itu, DLHK membawa rombongan termasuk Camat Selong dan sejumlah lurah.

Kepala Dinas LHK Lombok Timur Zaidar Rahman mengatakan, dalam pengelolaan samapah di Lendang Nangka, banyak hal dan ilmu yang dapat  diambil. Ilmu ini terutama  bagaimana mengelola sampah yang muncul di masyarakat.

Dilihat dari permasalahan sampah di Lombok Timur, lanjutnya, masih jauh dari harapan. Penanganannya dari 70 persen target di tahun 2021 baru tercapai 23 persen penangan tersebut.

"Jadi sangat jauh, namun itulah upaya-upaya kita bagaimana melakukan upaya penanganan dan pengelolaan sampah tersebut," katanya, Kamis (14/1).

Salah satu penanganan sampah itu katanya, bagaimana masing-masing orang mengelolanya mulai dari rumah tangga. Upaya pengelolaan sampah ini terutama mulai dari pemilahan sejak di dalam rumah tangga.

Pemilahan sampah di dalam rumah tangga disebutnya sangat penting. Dengan demikian, beban pengelolaan. Sampah yang ditangani pemerintah dan dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) semakin kecil.

Sejauh ini, penanganan sampah yang dilakukan pemerintah disebutnya masih sangat jauh dari harapan. Banyak kekurangan yang dimiliki dalam penanganan tersebut.

Kekurangan tersebut meliputi armada dan personil yang dimiliki. Namun dengan kekurangan tersebut masyarakat diminta menyiasati sampah sebelum keluar dari dalam rumah.

"Sampah yang dibuang itu yakni barang-barang yang betul-betul tidak berguna," ucapnya.

Cara ini sebutnya, dapat membantu meringankan beban pemerintah. Di lain sisi, upaya pemilahan sampah ini juga pada gilirannya menjadi salah satu langkah mereduksi kerusakan ekologis lebih cepat.

Pihaknya juga mengakui, selama ini belum bisa menangani semua sampah di seluruh kecamatan. Untuk wilayah perkotaan saja, baru 8 desa yang bekerja sama untuk pengelolaan sampah, itupun masih dengan cara yang sangat sederhana.

"Jemput, angkut dan buang di TPA jadi hanya memindahkan masalah," katanya

Kata dia, jika sampah dikelola seperti  di TPS di Lendang Nangka dengan konsep 3R dipastikan bisa meringankan beban sampah. Di Kendang Nangka, masyarakat aktif memilah dan sebagainya di satu tempat.

"Ini harus kita tularkan, ilmu seperti ini harus diterapkan di semua kecamatan maupun desa di Lotim ini," katanya.

Desa Lendang Nangka sendiri sudah anggap maju dalam pengelolaan sampah dengan TPS 3R-nya. Sementara desa-desa yang belum memiliki sarana atau sistem pengelolaan sampah diminta bisa menirunya.

"Kita akan coba tularkan dan mengajak desa-desa yang lain untuk studi banding bagaimana penanganan sampah agar penanganan sampah menjadi berkurang," ulangnya.

Sementara itu, Ketua TPS 3R Lestari Lendang Nangka, Lalu Supratman mengatakan, pengelolaan sampah di TPS 3R ini pihaknya mengambil sampah dari masyarakat. Di sini kemudian sampah itu disortir lagi setelah dipilah sebelumnya dari rumah warga.

"Sampah yang bisa menjadi pupuk organik bisa kita jual," ucapnya.

Dalam upaya pengelolaan sampah, bebernya, pihaknya bisa memproduksi sekitar 3 sampai 4 ton per bulan. Sampah yang telah menjadi kompos ini kemudian dijual.

"Pupuk ini dijual Rp 20-25 ribu per karung," katanya.

Terhadap kemampuan produksi ini, pihaknya berharap bisa memproduksi lebih banyak lagi. Dengan demikian, pengelolaan sampah di TPA ini akan lebih maksimal. (zaa)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Penanganan Sampah di Tahun 2021 Baru Mencapai 23 Persen

Terkini

Iklan