Jejak Terkini

Menyelami Makna Ritual Budaya Nyantek

NYANTEK: Beginilah proses ritual Nyantek yang diambil dari hikmah perjalanan Nabi Muhammad. Saw.

SELONG
-- Nilai magis ritual kebudayaan tak jarang sering bertemali dengan ajaran agama. Ini karena ritual-ritual tersebut tak jarang lahir dari kisah perjalanan nabi. 

Kisah tersebut kemudian ditarik ke dalam ruang imajiner. Pada gilirannya, kisah itu menjadi residu menjadi sebuah keyakinan. 

Padanan nilai dari pelaksanaan ritual itu, masih dengan mudah didapati. Lantaran hal itu masih dianggap maliq (bertuah, red). Seperti ritual Nyantek di Desa Pengadangan, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur.

Kepada JEJAK LOMBOK, tokoh budaya Desa Pengadangan, H Ruhyiadi menceritakan, jika ritual tersebut telah ada sejak lama. Sampai saat ini ritual tersebut masih dikerjakan secara turun temurun.

Ritual Nyantek, terang pria 76 tahun ini merupakan gawe mati (acara bagi orang meninggal, red). Yang oleh warga setempat dilaksanakan jika umur kematian sudah sampai seribu hari.

"Ritual dilaksanakan oleh setiap individu," ujar H Ruhiyadi, belum lama ini.

Ritual ini, terangnya, memiliki makna peringatan bagi yang masih hidup. Bahwa semua makhluk hendak mengalami hal yang sama, yakni menempuh kematian.

Ritual ini dilaksanakan sebagai penanda bahwa di tempat itu ada keluarga. Di satu sisi, mengingatkan kepada jasa orang tua yang telah mengurusi hingga dewasa. Dimana hubungan itu, tak bisa serta merta diputuskan. Keluarga yang meninggal harus dirawat. 

Salah satunya dengan cara sederhana yakni mendo'akannya. Bukankah, ucapnya, orang tua atau keluarga hendak merasa bahagia jika memiliki keturunan yang saleh dan salehah.

Selain menjaga hubungan, ritus ini juga untuk mempermudah mengingat silsilah keturunan. Dengan demikian dapat menjadi bekal mengarungi hidup dan kehidupan.

"Jadi jangan sampai kita hanya ingat harta warisan yang ditinggalkan, tapi lupa mendo'akan keluarga apalagi orang tua kita," terangnya.

Ia menjelaskan, ritual budaya satu ini cukup unik. Lantaran memiliki proses yang panjang. Mulai dari memasar, yakni dimana proses pemberiahuan kepada pemilik alam semesta dan makhluk hidup yang tak kasat mata.

Izin ini penting agar makhluk yang menempati bebatuan yang hendak dipakai itu meninggalkan tempatnya.

Setelah itu, sebutnya, mulai tahap mengambil bebatuan santek. Batu-batubitu dojadikan berukuran kecil yang nantinya akan digunakan sebagai batu nisan.

Setelah terasa cukup, warga membawa bebatuan itu dengan cara gotong royong. Batu itu dibawa sampai dengan samping tembok pekuburan.

"Kalau dulu karena gk ada kendaraan jadi dipikul caranya," ujarnya.

Setelah pengambilan batu satnek (batu nisan, red) proses selanjutnya pembertahuan kepada tokoh agama dan kiai setempat. Bahwa akan ada hajatan melaksanakan ritual tersebut, minimal seminggu sebelum hari digelar.

Ritual ini, terangnya, dilaksanakan minimal tiga tahun atau seribu hari kematian. Namun jika tak mampu melakukannya setelah tiga tahun kematian, dapat dilakukan setelah memiliki kemampuan secara finansial.

Karena gawe mati ini tak hanya mengambil batu nisan. Namun, harus menyiapkan beberapa sanganan (makan, red). Sanganan itu erupa buah-buahan, kue tradisional, ringginang, nasi, panggangan ayam dan banyak lainnya.

Pelaksanaan ritual ini dilaksanakan pagi buta. Lantaran itu tak jarang pemilik hajatan, memasak di lokasi yang tak jauh dari pekuburan.

Tahap selanjutnya, memulai dengan membuka kuburan yang ingin diperbaiki. Diproses ini pun, keluarga harus menyiapkan sanganan.

Setelah kuburan jadi seperti semula, tahap penamatan Al-qur'an dzikir dan do'a. Sembari menyiapkan sanganan serupa beserta sesajiannya.

"Lamanya di proses penggaliannya sampai dengan berbentuk kuburan seperti semula," terangnya.


Sementara itu, Penasihat Lembaga Adat Pengadangan, Drs Nasipuddin menceritakan ihwal asal usul Nyantek.

Tradisi satu ini disebutnya sudah hidup ratusan tahun lalu bersama masyarakat setempat. Tradisi ini turun dari nenek moyang desa tersebut.

"Tradisi ini berasal dari kisah Nabi Muhammad Saw. Yang memberikan tanda keberadaan kuburan umatnya dengan pelepah kurma," ucapnya.

Dari itulah lahirnya tradisi ini, jika Nabi Muhammad Saw menggunakan pelepah kurma sebagai tanda, maka warga setempat menggunakan batu.

"Kami di sini tidak ada yang menggunakan semen agar mudah dibongkar," terangnya.

Ia menjelaskan, batu yang telah diambil itu tak langsung dibawa ke dalam areal kuburan. Namun hanya sampai pinggir jalan atau ditempatkan di lokasi yang dekat dengan pekuburan.

Pesan singkat dari itu, ujarnya, untuk bergotong royong. Lantaran batu yang telah diambil itu nantinya akan disusun rapi mengelilingi kuburan, tak hanya ditempatkan di tengah layaknya batu nisan.

Sebab ritual ini sebagai penanda, sehingga hubungan kekeluargaan itu tak terputus. Dan memudahkan mencari keluarga masing-masing.

"Jadi kita tahu nenek moyang dari dulu hingga sekarang, selama tak pindah dari tempat itu (dikuburkan di tempat lain)," ujarnya.

Uniknya dalam tradisi ini, warga yang memiliki sawah di sekeliling areal pekuburan, harus siap ditempati sebagai lokasi memasak. Lantaran hal itu sudah jadi hukum adat atau awiq-awiq setempat. 

Jika ada pelaksanaan ritual adat itu, boleh ditempati lokasi sawahnya. Sawah tersebut dimanfaatkan sebagai lokasi memasak untuk warga yang tengah gotong royong melaksanakan kegiatan ritus adat tersebut.

Kendati misalnya sawah warga tersebut didapati tanaman, jika pelaksanaan ritual itu boleh melakukan pengerusakan sesuai kebutuhan.

"Jadi kita masaknya di luar areal pekuburan bukan di kuburan," ucapnya.

Pada saat hari pelaksanaan, ucapnya, hari pertama ada proses pembukaan kubur. Dalam proses tersebut dilengakpi penginang (sesajian, red). 

Sebelum itu, minimal seminggu pemberitahuan ke tetua desa setempat, seperti pengulu dan kiai desa.  "Kalau dua kubur yang disantekin maka dua kiai yang harus didatangkan, dan seterusnya," sebutnya.

Syarat pelaksanaan ritual ini selain umur kematian sudah sampai seribu hari. Dapat dilaksanakan jika kuburan keluarga mengalami pelapukan. Yang mengakibatkan adanya lubang di atas kuburan.

Budaya nyantek bagi warga setempat merupakan ritual adat terakhir bagi orang yang telah meninggal. "Ini ritual adat teakhir bagi setiap orang disini, manusia itu dari tanah harus kembali ke tanah," ucapnya. (sy)

Posting Komentar

1 Komentar