728x90

ad

Lestarikan Tuah Rinjani, Warga Jangan Cepat Terprovokasi

TUAH RINJANI: Bupati Lombok Timur, HM Sukiman Azmy dan Kepala Balai TNGR Dedy Asriadi saat menandatangani kerjasama.

SELONG
--Konflik agraria melibatkan masyarakat dan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) pernah terjadi. Konflik macam ini tidak saja merugikan kedua belah pihak, tapi juga kawasan hutan Gunung Rinjani.

Sebut saja contoh terbarinyang lekat di ingatan publik seperti kasus Jurang Koak. Kasus yang melibatkan TNGR dan masyarakat sekitar hutan itu belakangan sudah menemui titik urai pangkal masalah yang ada.

Senin (16/11), Pemkab Lombok Timur dan Balai TNGR menandatangani kesepakatan bersama terkait Kawasan Penanaman Zona Rehabilitasi Pesugulan Desa Bebidas.

Catatan buram konflik di kawasan hutan itu pada gilirannya menggerus tuah Rinjani yang sakral. Terlebih gunung tertinggi ketiga di Indonesia ini banyak dianggap sebagai tandon air raksasa yang mnejadi sumber kehidupan di Pulau Lombok.

Bupati Lombok Timur, HM Sukiman Azmy dalam kesempatan itu menegaskan, kerjasama bipartit bersama TNGR sebagai upaya pelestarian tuah Rinjani. Dimana Rinjani sebagai pusat budaya dan aktivitas spiritual yang selama ini menjadi penyangga kehidupan.

"Tuah tersebut harus dijaga dan dilestarikan untuk memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat di Lombok Timur," ucapnya.

Kerjasama dua belah pihak itu, lanjutnya, merupakan payung hukum yang dijadikan acuan bersama. Kedepan, dengan adanya kesepakatan itu, tidak ada lagi segala aktivitas, kekerasan dan provokasi yang berujung konflik lahan di kawasan Rinjani.

"MOU ini merupakan komitmen bersama  dalam upaya mensejahterakan masyarakat," imbuhnya.

Sukiman mengingatkan, setelah penandatangan ini, tidak ada lagi masyarakat  terprovokasi maupun terhasut oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Masyarakat diharapkan tidak lagi bekerja dan menguasai lahan TNGR, semuanya akan diatur dengan sebaiknya untuk kepentingan masyarakat. 

Ia berharap kegiatan ini dapat berjalan dengan aman, tenteram dan damai. Tidak ada lagi masyarkat ribut dikarenakan terprovokasi oleh oknum tidak jelas.

Sementara itu, Kepala Balai TNGR Dedy Asiadi menyampaikan, momentum ini sebagai salah satu tanda harmonisasi antara pemerintah daerah dengan TNGR. Kedua belah pihak Kedepan harus sama-sama  menjaga kelestarian Gunung Rinjani.

"TNGR hanya sebagai ruang akses dan penandatangan ini merupakan wujud bersama menjaga Rinjani menghidupkan tuahnya," katanya.

Tujuan kesepakatan ini, bebernya, untuk menjamin kelestarian fungsi hutan TNGR. Kelestarian hutan kawasan Rinjaninpada gilirannya berdampak pada pembangunan kesejahteraan warga Lombok Timur.

"Pengembangan geopark dan cagar biosfer dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan tersebut bagian dari upaya untuk membangun kesejahteraan tersebut," tandasnya. (zaa)

Posting Komentar

0 Komentar