Jejak Terkini

LAWLAL MURABBI MA‘AROFTU ROBBI

(Memahami Sisi-Sisi Humanity Profesi Guru Di Era Disrupsi)

Oleh Dr. Jamiluddin, M.Pd

Apapun nama atau sebutannya, yang pasti era telah berubah. Era globalisasi dengan kejayaan teknologi informasinya makin terbang menjulang. Era four point zero (4,0) dan five point zero (5,0), yang selanjutnya dalam tulisan ini disebut era disrupsi bagai mesin pendorong baru bagi era globalisasi. 

Di era disrupsi, digitalisasi memastikan bahwa format analog tergantikan. Fakta ini merupakan sinyal bahwa akan terjadi pengurangan secara otomatis keterlibatan manusia dalam proses produksi. Inilah menu pilihan era disrupsi dengan konsepsi bahwa: 1). Akan terjadi percepatan dan ketepatan kerja, 2). Secara kuantitatif, produksi digitalisasi akan berlipat ganda bila dibandingkan dengan produksi konvensional yang mengandalkan manusia 3). Digitalisasi memungkinkan lebih banyak menghasilkan inovasi dan rancang bangun untuk menjawab kebutuhan yang berdinamika setiap waktu.

Kendati fitur yang ditawarkan era disrupsi begitu hebat, tetapi tentu memiliki konsekuensi yang penting ditinjau ulang. Digitalisasi sebagai menu andalan era disrupsi tidak bersih dari masalah. Digitalisasi berpeluang memunculkan masalah yang menantang, seperti problem sosial dan kesejahteraan. 

Contoh sederhana yang dapat dijadikan evidence adalah maraknya alshop atau pre-order via on-line. Tren ini lambat tapi pasti akan menekan laju, bahkan mematikan pasar. toko, dan mall. Bayangkan saja, jika satu mall tidak beroperasi, maka ratusan bahkan ribuan karyawan akan kehilangan pekerjaan. Setelah itu, pengangguran yang diikuti dengan angka kemiskinan akan tidak terkendali. Inilah contoh masalah sosial dan kesejahteraan yang sangat berpeluang terjadi dengan maraknya pre-order on-line yang memanfaatkan proyek digitalisasi di era disrupsi.

Fakta-fakta di atas tentu akan meluas dan akan menyentuh seluruh aspek kehidupan. Aspek pendidikan bukan pengecualian. Sejak beberapa tahun lalu, “Ruang Guru” yang terdigitalisasi secara on-line, telah menjadi pilihan tempat belajar bagi konsumen pendidikan. Ruang-ruang kelas pada sekolah konvensional dan lembaga-lembaga kursus mulai mengalami defisit peminat. Maknanya, sosok manusia sebagai pengajar mulai mendapat kompetitor yang luar bisa. Jika sosok pengajar tidak berhasil memenangkan kontestasi, maka para pengajar harus merelakan profesinya dikelola oleh sistem mesin di era disrupsi. Fakta-fakta ini akhirnya tak urung memicu bingung, hingga membidani sense of academic crisis, “Akankah Profesi Guru Tergantikan?

Ada sebuah quote seksi yang berisi ilustrasi sebagai alternatif solusi sekaligus pintu masuk mengupas sense of academic crisis atau kegalauan di atas. Jangan tanya, “apa cita-citamu nak?” Tetapi tanyalah, “apa yang ingin engkau ciptakan kelak?” Quote ini menjadi sempurna setelah diaduk rata oleh Pak Anies Baswedan ketika mengurai tentang perilaku proses pendidikan di sekolah-sekolah atau di madrasah. Dia menyatakan, “Cita-cita tak penting ditanya lagi, karena profesi yang disebut anak sebagai jawaban pertanyaan kita tersebut belum tentu ada di masa yang akan datang.”

Dalam teori “dramaturgi” Goffman, Anies sebagai pendidik dalam konteks opininya di atas adalah aktor yang memerankan tokoh profesional, modest, humility, dan humanity. Perannya layak dan patut mentransformasi value dan ajaran-ajaran profesi yang tekuninya. Dengan demikian maka penegasan Pak Anies di atas dapat ditafsirkan sebagai refleksi pengalaman hebatnya dalam menjalani profesi guru atau pendidik. Dalam muatan refleksi yang diurai, Pak, Anies menegaskan  bahwa denyut kebutuhan ummat sebagai makro organism telah terlampau jauh lebih progressive sehingga harus diikuti dengan desain fungsi-fungsi guru yang adaptif.  Artinya, profesi guru harus berusaha lebih eksis sehinga mampu memberikan garansi yang menghadirkan keyakinan murid terhadap keutamaan menuntut ilmu kepada “guru”, Kalau profesi guru tidak memastikan diri bisa memberi garansi itu, jangan-jangan profesi guru akan menjadi salah satu profesi yang tergantikan.

Fenomena yang meniscayakan profesi guru lebih hebat ini tidaklah imajinatif, tetapi merupakan fakta empirik yang diperkuat dengan kehadiran pelbagai format transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Misalnya saja, pada space yang general dan makro, kita dapat melihat bahwa “goegle” telah mampu mengalihkan perhatian nyais seluruh manusia dalam melakukan searching segala jenis informasi yang dibutuhkannya. Pada ruang-ruang mikro, komunitas-komunitas sudah akrab dengan goegle book, goegle akademik, play book, ruang guru on line, FB, WA Grioup, dan sebagainya. Format- format transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi era tekno-kultur ini tentu lebih praktis dan efisien dari segala perspektif. Sifat format transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang praktis ini bagai “gayung bersambut” dengan habit manusia zaman now yang pro pragmatism dan cenderung menyukai hal-hal instant. Bukankah beberapa indicator ini sangat memperkuat reason bahwa kemudian manusia tidak akan memerlukan gedung dan ruang-ruang kelas untuk belajar-mengajar? Effect domino yang berpeluang muncul kemudian adalah menurunnya ruang atau kesempatan kerja bagi profesi guru.Selanjutnya bagai bom waktu. Profesi guru dalam ancaman. Dengan kata lain ada isyarat yang meminta para guru untuk siap “gantung sepatu” ketika ancaman berkurangnya kebutuhan akan guru tidak bisa diimami. Pertanyaannya, “Apakah ancaman hebat bagi profesi guru ini akan menjadi sejarah baru pendidikan kita?

Persoalan ini tentu akan mendatangkan al-gazwu al-fikr (perdebatan).Dapat dipastikan bahwa terhadap persoalan ini ada yang pro dan kontra.Walaupun merupakan perihal yang lazim, sikap pro-kontra ini harus dipahami. Untuk kepentingan tersebut, perlu kiranya kita “menenggelamkan diri”(meminjam term ciri peneliti kulaitatif)  dalam telaga pemikiran pihak-pihat tersebut sehingga kita dapat meng-explore argumentasi mereka dalam memilih posisi pro atau kontra. Untuk kepentingan menjelajahi telaga pemikiran pihak-pihak yang berselisih ini, kita memerlukan  peranti atau sepeangkat alat. Dengan mencermati area penjelajahan, maka peranti yang sesuai dan layak berdasarkan tinjauan kapasitas adalah filosofi penciptaan manusia.

Qur’an Surat al-Baqarah Ayat 30 mengurai tujuan penciptaan manusia sebagai khalifah. Sementara itu, fungsi kekhalihan tidak akan terlaksana bila manusia tidak memiliki kapasitas yang memadai. Jika berbicara kapasitas, maka kita bicara soal iman dan taqwa.Dalam Qur’an Surat al-Fathir Ayat 28 diurai bahwa tidak satu pun manusia mencapai derajat taqwa tanpa bekal ilmu pengetahun.Fakta ini kemudian menjadi asbabun nuzul Qur’an Surat al-Baqarah Ayat 31yang menjelaskan penitipan fungsi rububbiyyah (pendidikan) bagi manusia sebagai kelengkapan fungsi khalifah. 

Sumber insfirasi yang juga dapat dipandang sebagai filosofi penciptaan manusia di atas membangun pemikiran kalangan pro.Mereka menggagas konsep formal tentang pendidikan.Bagi mereka, pendidikan bersifat sistemik dan salah satu komponennya adalah guru.Maknanya adalah: subjek inti pendidikan adalah manusia.Menurut mereka, manusia tidak tergantikan dalam pendidikan karena manusialah yang memiliki perangkat yang dibutuhkan dalam pendidikan. Manusia memiliki akal dan hati yang lembut. Dengan akalnya, manusia bisa menjadi professional dan modest (tahu  batas-batas kemampuannya), Sedangkan dengan hatinya, manusia dapat berinteraksi dalam hubungan pendidikan dengan rendah hati (humility) dan humanity (manusiawi). 

Pihak kontra sendiri kekeh pada pengalaman tentang fenomena perilaku guru sekaligus kinerja yang dapat diamati dari potret pendidikan kita hari ini.Pihak kontra menyajikan fakta empiric yang menunjukkan betapa masalah pendidikan dan atau goal attainmen-nya sungguh menghawatirkan.Beberapa waktu yang lalu ada release  hasil research tentang beberapa masalah kependidikan, anatara lain (1).Bahwa angka kelulusan yang tinggi tidak berbanding lurus  atau tidak searah dengan kejujuran peserta didik (murid). (2). Maraknya tawuran antar pelajar. (3). Berbanding terbaliknya minat baca dengan daya baca murid. (4). Rendahnya kualifikasi literasi murid sebagai konsekuansi lemahnya pembudayaan literasi di sekolah oleh para guru.  Dengan contoh-contoh kasus sederhana ini saja, kita mendapat ilustrasi tentang bahwa profesi guru perlu berikhtiyar untuk try more great. Kalau tidak maka trust kepada profesi guru secara pelan atau cepat akan bergeser pada sistem lain seperti proyek digitalisasi pendidikan di era disrupsi.

Walaupun pihak pro dan kontra sama-sama memberikan pengakuan terhadap strategisnya fungsi profesi guru, namun keduanya memiliki pandangan masing-masing.Pihak pro memiliki sudut pandang dengan keyakinannya bahwa dengan sifat kemanusiaannya, mamusia sebagai guru tak tergantikan dalam pembentukan totalitas murid. Berbeda dengan pihak kontra. Mereka tidak hanya menggantung pada filosofi penciptaan manusia, tetapi secara kritis berinisiatif berkiblat pada teori etos kerja Anoraga dalam membangun orientasinya. Pihak kontra memandang bahwa kinerja profesi guru saat ini masih berada di bawah rata-rata harapan (passing grade), sehingga fungsi guru bisa saja tergerus. Berdasarkan teori etos kerja Anoraga, tergerusnya produktifitas profesi guru kemungknan disebabkan karena pengampu profesi ini mulai memosisikan guru sebagai sesuatu yang biasa, bukan sebagai suatu yang luhur. Fakta ketergerusan profesi guru sekaligus dengan sebab-sebabnya ini dapat membuka peluang yang lapang bagi tergantikannya profesi guru. 

Apa pun sisi-sisi perbedaan pihak pro dan kontra di atas, sangat arif bila kita berusaha mendialogkannya dengan filosofi penciptaan manusia sebagai peranti yang telah kita tetapkan.Dalam muatan peranti tersebut, kita memperoleh petunjuk bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang diciptakan untuk mengelola konstelasi kehidupan di bumi dengan media pendidikan sebagai jalur utama. Dengan poses pendidikan ini akan tecipta pelbagai produk termasuk perangkat-perangkat yang memudahkan pelaksanaan fungsi manusia, baik sebagai khalifah atau pun pendidik. Satu di antara produk rubbubbiyyah (kependidikan) yang terpenting adalah hadirnya kader hebat pelaksana fungsi kekhalifahan yang intergral dengan kepentingan misi pendidikan. Siklus kelahiran kader ini dimulai dari pengangkatan Nabi dan Rasul. Kemudian Alloh dengan kebijaksanaan-Nya mengangkat Ulama  sebagai pewaris para Nabi dan Rasul. Mereka semua dari jenis manusia. Bila diurai lebih lanjut, maka golongan “ulama” itu adalah “Guru” yang hadir melaksanakan fungsi-fungsi yang diwariskan oleh Rasululloh dan Ulama-Ulama terdahulu. Artinya, setelah Nabi, Rasul, dan Ulama terdahulu, “gurulah” yang mengemban amanah khalifah dan kependidikan. Hal ini berarti bahwa manusia sebagai guru mengemban fungsi memperkenalkan dan membangun ketaatan seluruh makhluk, utamanya manusia dengan Tuhannya. Maka pantaslah jika kemudian melangit sebuah quote yang menyatakan “LAWLAL MURABBI MA‘AROFTU ROBBI” (JIKA TIDAK KARENA GURU, MAKA AKU TIDAK MENGENAL TUHAN). Fungsi ini tidak mungkin akan tergantikan, oleh system apapun, walau secanggih system digitalisasi di era disrupsi ini. Wallohu’alamu.

*Pemerhati budaya Sasak, doosen IAIH NW Pancor dan Tenaga Pendidik di SMAN 2 Selong.

Posting Komentar

0 Komentar