Jejak Terkini

Tradisi Belanjakan, Cara Mencari Para Ksatria Melawan Kolonialisme (1)

PEPADU: Para pepadu Belanjakan adu keterampilan dan adu tangkas.

SELONG
--Tumpukan kenangan kelam masa lalu berupa catatan sejarah invasi di Pulau Lombok seolah tak berkesudahan. Semisal keluar dari kandang harimau, masuk pula di mulut buaya.

Residu sejarah atas perkosaan hak asasi untuk hidup dengan layak sepertinya menjadi bagian yang tak terhindarkan bagi tanah Lombok. Betapa tidak, tanah elok nan permai ini dalam kilasan sejarahnya diliputi dengan serangkaian penindasan demi penindasan.

Penghisapan dan perbudakan di masa lalu sepertinya menjadi tragedi kemanusiaan paling miris. Andai deretan kenangan itu dilacak, kehadirannya tak pernah diinginkan. Bahkan, untuk sekedar mampir di benak pun, generasi hari ini tak pernah sudi. Sakitnya terlalu perih.

Bayangkan saja, kerja paksa bernama Pongor di masa pendudukan Bali, kerja paksa Rodi Belanda, hingga kerja paksa Romusha Jepang semuanya sudah dikecap manusia di pulau yang luasnya mencapai 5.435 km² ini.

Masyarakat Lombok yang didera kenyataan pahit masa lalu rupanya masih memercikkan harapan. Mereka ingin hidup sama setara selayaknya manusia yang lain. Tanpa penindasan, tanpa perbudakan.

Tak heran jika sejak invasi Bali hingga Jepang bercokol, letupan-letupan perlawanan seolah tak pernah sunyi di tanah Lombok. Lihat saja bagaimana gerakan kedatuan yang muncul di sana-sini sebagai manifes gerakan mesianis.

Kedatuan-kedatuan yang muncul di seantero Lombok adalah simbol penolakan sekaligus perlawanan. Dari semangat mesianis ini pula ingin digelorakan semangat pembebasan atas invasi yang mereka alami.

Dengan luas 5.435 kilometer persegi, Lombok dalam catatan Wikipedia ditempatkan sebagai pulau terluas peringkat 108 di dunia. Di masa invasi itu, tak hanya kalangan ningrat yang menggelorakan perlawanan. Di akar rumput, perlawanan para petani tak kalah heroiknya.

Sebut saja seperti tradisi Belanjakan. Tradisi satu ini dapat ditemukan di Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur. 

"Belanjakan merupakan warisan budaya masyarakat Masbagik," kata Ketua Lombok Membaur (Lombur), Marzoan Ihlamdi, Rabu (14/9) kepada JEJAK LOMBOK.

Organisasi yang konsen pada gerakan kebudayaan ini dalam menyebut ada dua penamaan terhadap tradisi ini, Belanjakan dan Pelanjakan. Dua sebutan ini memiliki arti yang sama.

Diambil dari kosa kata bahasa Sasak (suku di Pulau Lombok), Belanjakan berasal dari kata Lanjak. Kata ini berarti tendang.

Dalam catatan historis masyarakat setempat, Belanjakan merupakan tradisi olahraga sekaligus peemainan trasidional.

Lazim diketahui dalam permainan ini memiliki aturan ketat. Para pemain tak boleh menghantam lawan dengan cara meninju, mencakar, dan mencekik dengan tangan. Pemain hanya boleh menendang.

Tangan hanya berfungsi untuk menghalau tendangan yang dilayangkan oleh lawan. Selain itu, telapak tangan tak boleh dalam keadaan terkepal dan harus tetap dalam kondisi terbuka. 

"Jadi tangan tidak boleh kita meninju pemian dengan tangan kita. Kalau dilihat telapak tangan saja tidak boleh," timpal Amaq Hill, salah seorng jawara permainan Belanjakan ini.

Pria 70 tahun itu menerangkan, secara teknik, Belanjakan sangat besar persamaannya dengan permainan Sumo yang berasal dari Jepang. Kesamaan itu bisa dilihat baik secara teknik maupun pakaian yang dikenakan. 


Belanjakan dilengkapi dengan pakaian yang disebut Bekancut (kain yang dipakai untuk melindungi kemaluan, yang berbentuk celana dalam, Red). Pakaian ini mirip dengan pakaian Pesumo Jepang. Bedanya adalah sumo menggunakan dorongan dan bantingan.

Dalam permainan Belanjakan, lawan dikatakan kalah ketika sudah mengucap kata Cop. Kata ini sebagai tanda lawan menyerah.

Secara umum teknik permainan olahraga Belanjakan disebutnya sangat sederhana. Seperti adanya pengembar (wasit) dan pepadu (pemain).

Masyarakat Masbagik tempo dulu biasanya memainkan permainan ini di sore hari selepas panen padi. Di atas tumpukan jerami yang telah dipisahkan dari biji padi itulah masyarkat dahulu memainkannya.

Namun Belanjakan bergeser menjadi olahraga serius. Tak sekedar permainan, tapi juga ajang mencari para kesatria yang siap diturunkan di medan perang.

Budayawan Lombok Timur, Lalu Malik Hidayat menyebutkan, sejak ekspansi Bali di Lombok, Belanjakan menjadi latihan para prajurit perang Kerajaan Selaparang. Para pelari Belanjakan ini rupanya menjadi pasukan garda pertahanan. Mereka pula yang menghalau pasukan Kerajaan Karangasem Bali.

Diketahui invasi Bali ke Lombok ditandai dengan dikirimnya 8 ribu bala tentara pada 25 Agustus 1891. Namun begitu, serdadu Karangasem dibuat menarik diri pula dari upaya pendudukan di Masbagik oleh kekuatan pasukan garda pertahanan Belanjakan.

"Tradisi ini sebagai latihan rutin untuk menghadapi perang dan sebagai pasukan pertahanan Kerajaan Selaparang yang dipersiapkan untuk menghalau serangan tentara Bali di kawasan Lombok Timur bagian tengah, khususnya di daerah Masbagik," kata pria yang akrab Miq Dayat tersebut. 

Ketangguhan pasukan Belanjakan ini tak hanya dijajal balatentara Bali, bahkan pasukan Jepang pun dibuat modar. Kerap kali dalam banyak kerusuhan selalu melibatkan pasukan Belanjakan.


Tugas utama para pelaku Belanjakan ini adalah membuat onar di markas Jepang. Tujuannya memancing pasukan musuh keluar sarang. Setelah keluar sebagian dari anggota masuk merampas isi markas dan membantai tentara tersebut. 

"Buktinya dulu penyerangan ke Pengadangan," ujarnya.

Berdasarkan catatan sejarah, Angkatan Laut Jepang mendarat di Pantai Ampenan pada 18 Mei 1942. Pendaratan ini disusul Angkatan Darat Jepang pada 12 Mei 1942 di Labuan Haji.

Kehadiran pasukan Jepang menandai berakhirnya penjajahan Belanda yang bercokol di Pulau Lombok sejak 1894.diman Belanda sendiri menjajah Lombok dalam suatu ekspedisi pascapenaklukan Kerajaan Karangasem.

Masih dalam dalam catatan sejarah Lombok, lokasi yang dibangun Jepang di Lombok antara lain, di Lembar, Tanjung Ringgit, Lendang Marang, Rambang, Bangko-Bangko, Labuan Lombok, dan Gili Trawangan.

Gua Jepang di Tanjung Ringgit, Kabupaten Lombok Timur sendiri sampai sekarang masih ada, yang lokasinya tidak jauh dari objek wisata Pantai Pink yang harus melalui kawasan Hutan Sekaroh. Ketika menjajah Indonesia, Lombok termasuk jadi wilayah yang dijadikan markas pertahanan menangkal serangan musuh sekaligus menjadikan penduduknya sebagai budak.

Pasca Kemerdekaan, lanjut Miq Dayat, Belanjakan dijadikan sebagai ajang pemilihan Lang-Lang (petugas keamanan) di daerah Masbagik. Yang tugasnya menjaga kondusivitas wilayah tersebut. 

Terlebih, pada saat akhir masa orde lama ketika gerakan PKI menyeruak. Tak jarang masyarakat setempat dituduh sebagai anggota organiasi terlarang tersebut. Bahkan, banyak dari mereka dibunuh dengan cara sadis.

Pada zaman orde baru, selanjutnya Belanjakan berkembang menjadi tradisi permainan tradisional. Tradisi itu rutin dimainkan oleh masyarakat setempat, setiap selesai panen padi setiap sore hari. (sy)

Bersambung...

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Alhamdulillah dapat ilmu, skaligus belajar sejarah gubuk gempeng te.

    BalasHapus