Jejak Terkini

Darurat Kekeringan di Lotim, Ini Gagasan BPBD Atasi Masalah

Iwan Setiawan

SELONG
--Sejak September 2020 kemarin, Bupati Lombok Timur HM Sukiman Azmy menetapkan masa tanggap darurat kekeringan. Sedikitnya ada 15 kecamatan yang ditetapkan sebagai daerah terdampak.

Dari 15 kecamatan tersebut, ada 4 kecamatan dengan kondisi kekeringan terparah. Keempat kecamatan itu yakni, Jerowaru, Keruak, Sambelia dan Suela.

"Masing-masing kecamatan ini kita berikan treatment (perlakuan) khusus," ucap Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Timur, Iwan Setiawan, Kamis (15/10).

Hanya saja, lanjutnya, dari 4 kecamatan terparah kekeringan ini Jerowaru tercatat sebagai yang terparah. Karena itu, perlakuan khusus diberikan demi mengatasi masalah yang ada.

Perlakuan khusus itu, kata Iwan, dengan menginisiasi Bank Air. Prinsip dari gagasan ini tidak lagi mengacu pada pola penanganan kekeringan secara reguler.

Lewat Bank Air ini nantinya pihak BPBD disebutnya akan menyalurkan air tanpa ada usulan permintaan dari warga. Pihak BPBD nantinya rutin secara berkala tetap mengisi air pada tandon air yang telah disediakan.

Bank Air ini sendiri, jelasnya, sudah berjalan sejak tahun lalu. Hanya saja, tandon yang digunakan masih berkapasitas 250 ribu liter. Nantinya dengan Bank Air ini, tandon yang digunakan berkapasitas 500 ribu liter.

Tahun ini sambungnya, ada sekitar 35 titik lokasi pemasangan tandon air berkapasitas 500 ribu liter. Dimana pada masing-masing titik tanding disebutnya bisa menangani sekitar 40 kk.

"Jumlah ini akan terus kita tambah. Ini sebagai upaya mengatasi kekeringan dalam jangka pendek dan menengah," imbuhnya.

Agar proses distribusi air terjamin pemerataannya, BPBD melibatkan koordinasi desa. Nantinya pihak desa akan membuat awig-awig untuk mengelola distribusi air yang ada.

Selain Bank Air, terangnya, kebutuhan air bersih di wilayah Selatan Lotim juga di-treatment dengan memperbanyak pipa sambungan PDAM. Upaya ini terus dikoordinasikan dengan perusahaan milik daerah tersebut.

Selama ini, bebernya, dalam mengatasi kekeringan masih menggunakan pola lama. Dimana pola yang digunakan yakni menunggu usulan permintaan dari pihak desa.

Dalam operasional teknisnya, kebutuhan air di Kecamatan Jerowaru dibantu denga 6 unit tangki air swasta. Dimana anggarannya diberikan lewat dana taktis BPBD Lotim.

Kedepan, terangnya, dengan konsep Bank Air dan dan treatment PDAM ini, masyarakat terdampak kekeringan lebih terbantu. Masyarakat tidak lagi terlalu dipusingkan dengan kebutuhan air minum dan keperluan sehari-hari.

Diketahui, dari 15 kecamatan zona rawan kekeringan ini terdampak bagi 82 desa. Dari jumlah itu, ada 200 ribu jiwa yang merasakan dampak kekeringan tersebut. (jl)

Posting Komentar

0 Komentar