728x90

ad

Sengketa Lahan KEK Mandalika Dibahas Lewat Musyawarah Adat

MUSYAWARAH: Sejumlah pihak duduk bersama menggelar musyawarah membahas lahan sengketa di KEK Mandalika.

PRAYA
--Titik terang sengkarut persoalan sengketa lahan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika sedikit demi sedikit mulai jelas. Ini setelah para pemilik tanah, tokoh masyarakat, tokoh adat, ITDC, dan Kabinda NTB menggelar musyawarah.

Musyawarah tersebut langsung digelar di kediaman tokoh masyarakat Lombok Tengah HL Putria. Pada kesempatan itu, Kabinda NTB, Ir. Wahyudi berharap agar para pemilik tanah membuat matriks yang berisikan masing-masing satu tuntutan. 

Matriks tersebut dibuat dengan membuat daftar nama dan tabel nama obyek dan tuntutan.

“Misalkan ada 50 orang terdaftar pemilik maka 50 ini akan diselesaikan satu per-satu. Sementara yang lain di luar yang 50 orang tidak perlu ikut campur dan mohon minggir demi adat dan budaya Sasak yang dijunjung tinggi,” tegas Kabinda NTB, Kamis (1/10).

Tujuan musyawarah ini, jelasnya, agar penyelesaian persoalan tanah lebih fokus. Selain itu, untuk menghindari provokasi pihak-pihak yang tidak berkepentingan.

Upaya tersebut disambut baik para peserta musyawarah yang dimediasi oleh ormas Laskar Sasak. Di awal pertemuan Kabinda NTB mengingatkan pentingnya adat budaya yang telah mengakar.

“Karena harus diwaspadai desain asing untuk terus menciptakan konflik di tengah masyarakat Indonesia,” pungkas Ir. Wahyudi.

Pada kesempatan tersebut Kabinda NTB menyatakan, persoalan tanah di Kute sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik. Pihaknya juga tidak ingin ada warga yang tersakiti.

Semua aspirasi dan masukan dari pemilik tanah, dicatat dan diakomodir termasuk beberapa hal yang menyangkut solusi. Karena hal tersebut akan dilaporkan ke Kabin dan Presiden RI, Joko Widodo.

Di tempat yang sama, salah seorang pemilik tanah, Lalu Arifin Toni menegaskan, pihaknya tidak akan pernah mengosongkan lahan selama tanah yang dimiliki tidak dibayar. Pihaknya siap bertahan hingga lahan miliknya dibayar.

Atas lontaran warga, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Tengah, sekaligus tokoh masyarakat setempat, Lalu Putria berharap pembahasan tanah Kute bisa diselesaikan dengan musyawarah dan mengedepankan kearifan lokal. Terlebih lagi, ia mengaku sangat hapal betul lagi persoalan tanah Kute tersebut.

‘’Jadi tidak perlu ada demo lagi, kita selesaikan dengan dialog,’’ tegasnya.

Ketua Laskar sasak, Lalu Tahar juga menggarisbawahi pertemuan atau musyawarah itu merupakan salah satu bentuk mediasi mencari solusi terbaik. Sehingga tujuan untuk masyarakat adil dan makmur bisa segera tercapai.

‘’Jangan sampai kasus ini terkatung-katung. Pada intinya, Laskar Sasak mengharapkan adanya win-win solusi untuk persoalan tanah Kute," tegasnya.

Pertemuan yang berlangsung sejak pukul 16.30 WITA itu berakhir menjelang Magrib dan berlangsung penuh keakraban. Meski, soal tuntutan sempat menghangat namun akhirnya mencair dan diakhiri dengan foto bersama. (jl)

Posting Komentar

0 Komentar