Menyesapi Makna Maulid Adat Petangan

MAULID ADAT: Warga Desa Kendang Nangka Kecamatan Masbagik saat memperingati Maulid Adat Petangan.

SELONG
-- Ritual dalam kehidupan umat manusia kerap kali menjadi bagian yang tak terpisahkan. Sesapan makna di setiap ritual tak jarang pula bertemali dengan hubungan transendental kepada Sang Pencipta.

Sebagai warisan budaya, ritual juga dinilai memberi andil dalam membangun peradaban. Tak heran jika banyak ragam ritual yang hingga kini masih dipertahankan eksistensinya.

Dalam kabisat kalender Islam, Bulan Rabi'ul Awal senantiasa menjadi bagian tapakan penting memaknai keberagamaan seorang muslim. Di bulan ini biasanya diperingati Maulid Nabi (kelahiran Nabi Muhammad).

Ada beragam model peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. Model peringatan tapakan bersejarah itu seringkali berakulturasi dengan budaya setempat.

Di Lombok, tepatnya di Masbagik, Kecamatan Masbagik Lombok Timur, ada peringatan Maulid Adat Petangan. Maulid adat ini biasanya dilaksanakan di Desa Lendang Nangka.

"Di Lendang Nangka dikenal dengan sebutan Maulid Petangan," kata tokoh budaya setempat, Lalu Malik Hidayat, saat ditemui di kediamannya, Selasa malam (27/10).

Kata Petangan sendiri berarti sebuah pencarian. Konon, ritual ini dilaksanakan ketika keluarga Raja Selaparang tengah mencari tempat tinggal yang aman saat sedang dalam pelarian dari kejaran prajurit Kerajaan Karangasem, Bali.

Pelarian itu, ujar Miq Dayat, dengan membawa berbagai bekal. Dimana bekal tersebut beberapa diantaranya masih tersimpan sampai saat ini.

Sebut saja seperti batu sandaran sang raja, ranjang, bokor, bekam (guci, Red), tulang mangga berukuran 60 senti, sabuk (ikat pinggang), dan keris.

Semua peninggalan raja itu pada saat ritual juga turut dibersihkan sebagaimana orang tua dulu melaksanakannya. Ritus ini bahkan, dilaksanakan seminggu sebelum datangnya tanggal 12 Rabi'ul Awal.

Ritual ini, ujarnya, diawali dengan selamat Otak Aiq (selamatan sumber air) dengan menyemblih ayam putih dan hitam mulus. Ritual ini diikuti pembersihan pusaka, pembersihan makam.

Berikutnya ritual dilanjutkan dengan cara berjalan munuju sumber air yang ada di Kebun Tojang. Ritual Petangan ini juga menjadi pembuka perayaan maulid di desa itu. 

"Tahapan ritual ini sebagai rasa syukur terhadap nikmat Allah, mata air sebagai nikmat Allah. Sekaligus mengundang semua isi semesta alam, untuk berdo'a bersama," ujarnya.

Di lain sisi, bulan kelahiran Nabi Muhammad dalam pandangan suku adat Sasak disebutnya sebagai momentum lahirnya keteraturan alam. Sehingga, kondisi ini yang harus diangkat menjadi pedoman bagi umat muslim.

Karena itu, semua makhluk baik yang terlihat maupun kasat mata sama-sama berdo'a dan terus bersykur akan limpahan rahmat Tuhan.

"Maknanya itu ialah syukur denan anugerah Tuhan," sebutnya.

Kepala Wilayah Pedaleman Desa Lendang Nangka, H Tedi Wahyudi mengatakan, masyarakat setempat juga masih meyakini pada bulan Maulid mengandung berkah bagi bumi.

Selain itu, sumber air Tojang di desa itu ketika bulan Maulid tiba diyakini sebagai obat berbagai penyakit.

"Bulan ini masyarakat ramai-ramai mengambil air ke Tojang untuk dijadikan obat. Di tempat itu dijadikan tempat cuci pusaka," ucapnya.

Di lain sisi, air tersebut dijadikan sebagai air pembasuh pusaka berupa keris peninggalan sang raja. Yang bekas airnya juga dijadikan sebagai obat oleh masyarakat setempat.

Menurutnya, keris penginggalan itu terbuat dari jenis batu luar angkasa yang memiliki khasiat untuk kesehatan.

"Ini keterangan orang Balai Arkeologi saat turun lansung melihat keris itu," bebernya. (sy)

Posting Komentar

0 Komentar